Home / Headline / 2 Napi Lapas Merah Mata Palembang Kendalikan Peredaran Narkoba di Palembang

2 Napi Lapas Merah Mata Palembang Kendalikan Peredaran Narkoba di Palembang

Sukseskan Asian Games di Jakarta dan Palembang Tahun 2018
Kapolda Sumsel saat mengintrogasi tersangka Adiman alias Adi yang merupakan oknum sipir Merah Mata Palembang dan tersangka Rizki. (Foto-Ferdinand/KoranSN)

Palembang, KoranSN

Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel mengungkap kasus peredaran narkoba di Kota Palembang yang dikendalikan oleh dua narapidana (Napi) dari dalam Lapas Merah Mata Palembang. Kedua tersangka tersebut yakni; Rizki (27) dan Herman Gani (55).

Selain menangkap kedua Napi ini, polisi juga meringkus Adiman alias Adi (36), oknum sipir Lapas Merah Mata Palembang yang berperan mengambil dan mengedarkan sabu, yang dipesan tersangka Rizki dari seorang bandar Nakorba di Aceh.

Kemudian, polisi juga menangkap dua anak tersangka Herman Gani yakni; Nabila Ufani (20) dan Idham (28), keduanya berperan memasarkan narkoba yang dipesan oleh Napi Herman Gani yang juga dari bandar narkoba yang berada di Aceh.

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara, Senin (6/8/2018) mengatakan, dalam kasus ini ada lima tersangka diantaranya dua Napi dan satu oknum sipir yang ditangkap oleh Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel. Penangkapan dilakukan setelah polisi melakukan penyelidikan.

Menurut Kapolda, penangkapan para tersangka berawal dari polisi meringkus tersangka Adiman yang merupakan oknum sipir Lapas Merah Mata di kawasan Tanjung Api-Api. Dari penangkapan tersangka diamankan barang bukti; paket sabu seberat 209, 59 gram dan uang hasil menjual narkoba sebesar Rp 120 juta.

“Usai tersangka ditangkap lalu polisi melakukan pemeriksaan terhadap tersangka Adiman. Hasilnya, tersangka mengaku jika sabu tersebut merupakan milik Napi Lapas Merah Mata Palembang bernama Rizki yang akan diedarkan di Kota Palembang, hingga akhinya anggota menangkap Rizki saat berada di dalam Lapas,” ungkap Kapolda.

Bukan hanya itu, lanjut Kapolda, dari hasil pengembangan kasus tersebut anggota kepolisian juga menangkap Herman Gani yang juga Napi Lapas Merah Mata Palembang. Tersangka Herman dibekuk berawal dari penangkapan anak Herman, yakni Nabila Ufani saat sedang berada di depan salah satu toko makanan di Jalan Tasik Palembang. Dari tangan Nabila diamankan barang bukti empat paket sabu seberat seberat 370 gram.

“Setelah Nabila Ufani ditangkap lalu polisi melakukan pengembangan, sehingga ditangkap kakak dari Nabila yakni tersangka Idham saat sedang berada di kediamannya di Jalan Talang Kerango Lorong Langgar Kecamatan IB II Palembang. Dari penggeledahan yang dilakukan, polisi mengamankan barang bukti; 300 butir ekstasi warna merah berloga petir, 7 butir ekstasi warna putih berlogo Omega, satu paket sabu seberat 7,16 gram, 500 butir kapsul kosong yang digunakan tersangka sebagai tempat ekstasi saat diedarkan, 5 bungkus serbuk ekstasi warna merah seberat 77,68 gram dan 4 bungkus serbuk ekstasi warna putih seberat 55,31 gram. Nah, dari pengakuan Nabila dan Idham inilah diketahui jika semua narkoba tersebut milik ayahnya Herman Gani yang mendekam di Lapas hingga polisi melakukan penangkapan,” jelasnya.

Lanjut Kapolda, dari kelima tersangka tersebut hanya satu tersangka yang dalam kasus ini selain dijerat UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, juga dijerat dengan UU TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang). Tersangka tersebut yakni, Napi Lapas Merah Mata Palembang bernama Rizki.

“Sebab, uang hasil mengendalikan peredaran narkoba dari dalam Lapas digunakan tersangka Rizki untuk membeli rumah, mobil dan sepeda motor. Dari itulah aset kekayaan tersangka kami lakukan penyitaan. Sementara untuk empat tersangka lainnya belum ditemukan unsur TPPU-nya, sehingga keempatnya (Adiman alias Adi, Herman Gani, Nabila Ufani dan Idham) dijerat Pasal 114 ayat (2) Subsider Pasal 112 ayat (2) UU RI No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman pidana 5 tahun penjara, seumur hidup atau pidana mati,” ujarnya.

Lebih jauh dikatakan Kapolda, dengan terungkapnya kasus tersebut maka ia menyatakan jika pihaknya tidak pandang bulu menyikat siapapun yang terbukti terlibat dalam kasus peredaran narkoba.

“Seperti dalam kasus ini ada seorang oknum sipir yang terlibat lalu kami tangkap, jadi kami tidak pandang bulu, kami sikat. Sebab, para tersangka ini sudah merusak masa depan anak bangsa dengan narkoba yang mereka edearkan,” ungkapnya.

Sementara tersangka Rizki mengatakan, jika sabu tersebut berasal dari Aceh yang dipesannya melalui handphone (HP).

Kapolda Sumsel saat mengintrogasi tersangka Idham, Herman Gani dan Nabila Ufani.

“Semua sabu itu dari Aceh, saya yang memesannya dari dalam Lapas. Setelah dipesan lalu paket sabu dikirimkan oleh seseorang ke Palembang. Ketika paket tersebut tiba di Palembang, barulah saya menyuruh Adiman alias Adi (oknum sipir) mengambilnya di pinggir jalan, setelah itu Adiman juga yang memasarkannya di wilayah Palembang ini,” ungkapnya.

Sedangkan tersangka Adiman alias Adi menyesali perbuatannya. Sembari menangis dirinya mengaku sudah empat kali menjalankan permintaan tersangka Rizki untuk mengambil paket sabu di pinggir jalan lalu menjualkannya kepada para pembelinya.

“Saya mau karena mendapat upah dari Rizki, dimana setiap 1 ons sabu yang terjual saya mendapat bagian uang Rp 5 juta. Saya menyesal, tolong jangan berhentikan saya dari pekerjaan sebagai sipir, sebab dua anak saya masih kecil,” ujarnya dengan meneteskan air mata.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Farman mengungkapkan, para tersangka ditangkap setelah pihaknya melakukan penyelidikan selama empat bulan. Hingga akhirnya pada 2 Agustus 2018 kemarin, kelima tersangka ditangkap di lokasi berbeda.

“Dua tersangka yang merupakan Napi yakni; Rizki dan Herman Gani ditangkap di dalam Lapas Merah Mata Palembang. Sementara tersangka Adiman alias Adi, Nabila Ufani dan Idham ditangkap di lokasi berbeda yaitu di kawasan Tanjung Api-Api, Jalan Tasik Palembang dan di Jalan Talang Kerango Lorong Langgar Palembang. Sedangkan untuk semua barang bukti narkoba yang diamankan berasal dari Aceh, yang kemudian dipasarkan para tersangka di Kota Palembang,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkumham Sumsel, Sudirman D Huri mengatakan, jika tidak ada kompromi bagi satu oknum sipir dan dua Napi Lapas Merah Mata Palembang yang telah ditangkap Polda Sumsel dalam kasus peredaran narkoba.

“Untuk oknum sipir jelas kami tindak tegas. Saat ini oknum tersebut baru diberhentikan sementara namun jika nanti sudah dituntut jaksa 5 tahun di persidangan maka oknum tersebut saya berhentikan secara permanen dari PNS. Jadi, saya tegaskan kepada jajaran saya baik sipir, Kapala Rutan dan Kepala Lapas jangan pernah main-main dengan narkoba. Sebab, narkoba ini merupakan musuh bangsa. Dan saya marah betul dengan adanya petugas saya yang terlibat dalam kasus ini,” tegasnya.

Diakui Sudirman, memang hingga kini masih ada Napi yang menggunakan handphone (HP) di dalam Lapas meskipun pihaknya selalu melakukan razia.

“Hal ini terjadi karena para Napi ini kan mafia-mafia yang teruji, mereka melakukan segala cara agar dapat membawa masuk handphone ke dalam Lapas. Razia terus kami lakukan, namun masih saja terjadi dan terjadi lagi. Bahkan semua sipir dan petugas di Lapas dan Rutan sudah saya peringatkan dengan keras agar jangan ada yang menyewakan HP, ataupun meloloskan HP masuk ke dalam Lapas dan Rutan. Jika tertangkap maka petugas tersebut saya berikan sanksi terberat. Selain itu, untuk antisipasi agar kedepan Napi tidak menggunakan HP maka saat ini kami sedang mengajukan ke pusat untuk memasang alat pengacau sinyal di Lapas Merah Mata Palembang dan Lapas Serong Banyuasin. Jika alat ini terpasang, tentunya di Lapas tersebut tidak akan ada sinyal HP lagi,” tutup Sudirman. (ded)

Daftar Calon Sementara Anggota DPRD Kabupaten Lahat Periode 2019-2024

Publisher : Apriandi

Apriandi

Lihat Juga

Tim Elang Ringkus Pencuri Sepeda Motor di PALI

PALI, KoranSN Tim Elang Polsek Talang Ubi berhasil meringkus Suparno alias Nyunyuk (29), warga Desa ...

error: Content is protected !!