Kamis , Februari 21 2019
Home / Nasional / 5.000 Warga Balaroa dan Petobo Belum Ditemukan

5.000 Warga Balaroa dan Petobo Belum Ditemukan

Pencarian Jenazah Korban Gempa dan Tsunami di Balaroa. (foto-net/vivanews.com)

Jakarta, KoranSN

Sebanyak lima ribu warga di Balaroa dan Petobo kemungkinan belum ditemukan sejak gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah (Sulteng). Data ini didapatkan dari kepala desa di Balaroa dan Petobo.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, untuk wilayah Balaroa yang terdampak tanah amblas sebanyak 165 orang ditemukan meninggal dunia.

Adapun perkiraan jumlah bangunan yang rusak mencapai 1.471 unit dengan luas area yang terdampak seluas 47,8 hektare.

“Ada lima unit alat berat yang digunakan dan kondisi di sana sulit dilakukan evakuasi lantaran tanah yang naik dan turun menghancurkan rumah, dan jalanan yang ada,” kata Sutopo di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (9/10/2018).

Baca Juga :   Di Usia ke-70, BNI Sinergi Kembangkan Negeri

Untuk wilayah Petobo yang terdampak likuifaksi, tercatat 120 orang meninggal dunia dan 2.050 unit rumah rusak. Luas area yang terdampak seluas 180 hektare. Sebanyak tujuh unit alat berat sedang dikerahkan.

Dari laporan kepala desa kedua tempat tersebut, kata Sutopo, masih ada lima ribu warga yang belum ditemukan. Namun, ia belum bisa memastikan apakah angka tersebut sudah terkonfirmasi.

“Ada lima ribu warga di Petobo dan Balaroa yang belum ditemukan. Tapi kami belum bisa konfirmasi apakah para warga sudah meninggal, atau meninggalkan wilayah tersebut,” katanya.

Untuk wilayah Jono Oge, Sigi, yang juga terdampak likuifaksi, sebanyak 33 orang yang berhasil dievakuasi dengan rincian 31 orang selamat, dan dua orang meninggal dunia.

Baca Juga :   KNKT: Airspeed Indicator Kapten dan Kopilot Lion Air PK-LQP Berbeda

Akibat likuifaksi tersebut, empat desa terdampak parah. Diantaranya dua desa, yakni desa Jono Oge dan Mappanau, bergeser.

“Jumlah kemungkinan bangunan rusak sebanyak 366 unit dan kemungkinan rusak 168 unit. Luas area yang terdampak mencapai 202 hektare,” kata Sutopo.

Untuk proses evakuasi di Jono Oge, Sutopo menyatakan dibutuhkan enam unit eskavator ampihibi karena wilayah yang masih berlumpur. Banyak rumah yang sudah tertutup dengan lumpur.

“Kondisi di Desa Jono Oge tanah belum stabil, dan sudah mulai ada tanah yang mengering. Namun banyak juga bagian tanah yang masih basah,” lanjut dia. (viva.co.id)

Hotel Grand Inna Palembang Kejaksaan Tinggi Provinsi Sumatera Selatan Wujudkan Milenial Cinta Tertib Lalu Lintas Berkeselamatan Menuju Indonesia Gemilang

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Suami Inneke Koesherawati, Fahmi Darmawansyah Dituntut 5 Tahun Penjara

Bandung, KoranSN Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi Roy Riady menuntut terdakwa suap fasilitas mewah ...