7 Gundukan Peninggalan Tentara Jepang Ditemukan di Banyuasin

Tampak gundukan yang berjumlah tujuh buah sudah tertutupi pohon dan tanaman lainnya. Gundukan ini dipercaya dibuat oleh tentara Jepang saat bertempur melawan Belanda. (foto/Siryanto)
Tampak gundukan yang berjumlah tujuh buah sudah tertutupi pohon dan tanaman lainnya. Gundukan ini dipercaya dibuat oleh tentara Jepang saat bertempur melawan Belanda. (foto/Siryanto)

Banyuasin, KoranSN

Tujuh buah gundukan (istilah gunung tujuh) peninggalan penjajahan zaman Jepang tahun 1941-1942 ditemukan di dekat korban Maulana dimangsa buaya muara Sungai Rengit, Minggu (7/11/2016) lalu.

Tujuh gundukan yang masih utuh dibiarkan oleh pemilik sawah di Dusun Sako Tigo Rt 4 Desa Santan Sari Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin.

Tujuh gundukan tersebut terletak tak terlalu jauh dengan bantaran sungai, persisnya di lahan sawah milik Ali Panhar warga Pangkalan Balai.

M Zuhri (90), orang tua Ali Panhar mengatakan, gundukan tanah yang terletak di bataran sungai Banyuasin di Desa Santan Sari Kecamatan Sembawa tempat tentara jepang menempatkan mariam atau senjata perang melawan tentara Belanda.

Pada zaman itu perang laut, fungsi gundulan 7 yang buat oleh penduduk pribumi yang dikerjakan oleh penduduk dari Jawa sebagai pekerja rodi untuk Jepang sebagai kerja rodi (kerja paksa).

Baca Juga :   Warga Muratara Kekurangan Air Bersih

Selain meninggalan gundukan yang berjumlah 7 buah terbuat dari tanah serta sebuah plat atau patok yang terbuat dari besi bertuliskan bahasa jepang, dibantaran Sungai Banyuasin ini juga terdapat sebuah lori pelabuhan yang diduga sebagai tempat mengikat kapal.

M.Zuhri alias Mat Koneng warga Kelurahan Pangkalan Balai Kecamatan Banyuasin III Kabupaten Banyuasin pelaku sejarah Gundukan 7 menjelaskan kepada awak media, Rabu (9/11/2016) gundukan 7 itu merupakan tempat pertahanan Jepang saat melawan Belanda.

“Sejarahnya dibuat gundukan itu untuk pertahanan tempur oleh Jepang waktu melawan Belanda, makanya ada patokan untuk pengikat kapal untuk bersandar dan juga senjata juga disimpan disitu,” paparnya.

Terbentuknya gundukan 7 itu sambungnya, penduduk pribumi yang menjadi tahanan Jepang sebagai kerja rodi yang membuat gundukan 7 itu.

Baca Juga :   Heri Amalindo Siapkan 5 Ekor Sapi untuk Kurban

“Yang buat gundukan 7 itu orang kita sendiri waktu jadi tahanan Jepang ,mereka dijadikan pekerja paksa dikasih makan sedikit dipaksa kerja berat,” sambungnya

Sementara Disipora Banyuasin melalui Kabid Seni dan Budaya, Gunawan mengatakan Gundukan 7 itu belum terdata sebagai cagar budaya di Banyuasin.

“Kita belum tahu adanya gundukan 7 itu, baru tahu dari kalian (wartawan/red) kita belum mendatanya,” ujarnya.

Kedepan lanjutnya, gundukan 7 akan dilakukan pengecekan dan pendataan untuk dijadikan cagar budaya di Banyuasin. (sir)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Anton Wijaya

Avatar

Lihat Juga

Kawal Pasokan di Lahat, Pertamina Kembali Salurkan 4.520 Tabung LPG 3 Kg Serentak di 18 Titik

Lahat, KoranSN PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) II Sumbagsel melakukan berbagai upaya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.