Home / Kesehatan / Ahli Gizi: Kekurangan Iodium Masih Jadi Masalah

Ahli Gizi: Kekurangan Iodium Masih Jadi Masalah

Yulia Lanti Retno Dewi (tengah) saat memberikan keterangan kepada wartawan di Solo. (foto-antaranews)

Solo, KoranSN

Ahli gizi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr Yulia Lanti Retno Dewi mengatakan, kekurangan iodium masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia.

“Dari data yang saya peroleh khusus di Indonesia masih ada sekitar 54 juta penduduk Indonesia yang kekurangan iodium,” katanya di Solo, Senin (14/10/2019).

Ia mengatakan, kekurangan oidium yang berdampak pada gangguan kesehatan tersebut menyerang segala usia, mulai dari janin, bayi baru lahir, anak-anak, remaja, ibu hamil, hingga orang dewasa.

Ia mengatakan, sejauh ini pemerintah sudah melakukan segala upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, di antaranya dengan memberikan suntikan kepada ibu hamil dan wanita usia subur serta penyebaran kapsul iodium.

Baca Juga :   Bercinta Sambil Menahan 'Kebelet' Pipis Bikin Orgasme Mantab

Meski demikian, dikatakannya, kendala yang dihadapi adalah biaya yang terlalu besar sehingga akhirnya digunakan garam beriodium.

Terkait hal itu, beberapa waktu lalu ia telah melakukan penelitian terkait permasalahan tersebut.

Menurut dia, salah satu penemuan yang diperolehnya adalah faktor lingkungan menjadi salah satu penyebab kekurangan iodium di suatu wilayah.

“Saya melakukan penelitian di Ngargoyoso, Karanganyar. Kawasan ini dikenal sebagai endemik Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). Tingkat GAKI di daerah itu terus meningkat meski garam beriodium telah didistribusikan,” katanya.

Berdasarkan data, dikatakannya, pada tahun 2004 “total goiter rate” (GTR) atau jumlah anak sekolah dasar yang menderita gondok dibagi dengan jumlah sekolah dasar yang diperiksa sebanyak 17,1 persen.

Baca Juga :   Diet Keto yang Salah Picu Stroke dan Sakit Jantung

“Tetapi pada tahun 2010 angka ini meningkat menjadi 51,1 persen,” katanya.

Ia mengatakan, faktor lingkungan yang berdampak pada rendahnya kandungan iodium di suatu wilayah di antaranya penggundulan hutan, curah hujan tinggi, dan erosi.

Oleh karena itu, dari hasil penelitian tersebut ia merekomendasikan pemerintah agar melakukan sejumlah upaya, salah satunya dibatasinya pemberian IMB di kawasan pegunungan untuk meminimalisasi terjadinya erosi.

“Selain itu juga memperbaiki kualitas garam dan melakukan pemberantasan telur cacing melalui pemberian obat cacing,” katanya.

Sementara itu, atas penelitiannya tersebut Yulia dikukuhkan sebagai guru besar ke-202 UNS dan ke-42 di Fakultas Kedokteran. Upacara pengukuhan akan dilaksanakan di Auditorium GPH Haryo Mataram UNS, Selasa (15/10/2019). (Antara/ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Dinkes Siagakan Tenaga Kesehatan Tangani Dampak Cuaca Ekstrem

Bantul, KoranSN Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menyiagakan semua tenaga kesehatan di semua …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.