Ahli: Perbaikan Gizi Paling Utama Dimulai dari Orang Tua

Kepala PERGIZI PANGAN Indonesia, sekaligus Ketua Asian Congress of Nutrition 2019, Hardiansyah saat diwawancarai media, di Westin Hotel, Nusa Dua. (foto-antaranews)

Jakarta, KoranSN

Perbaikan gizi masyarakat Indonesia paling utama harus dimulai dari orang tua yang berperan dalam menentukan generasi penerus berkualitas atau tidak, kata pakar gizi.

“Harusnya dari orang tua, calon bapak dan ibu, pasangan baru menikah, karena merekalah yang merencanakan memiliki anak,” kata Ketua Perhimpunan Pakar Gizi (Pergizi) dan Pangan Profesor Hardinsyah di Jakarta, Kamis (17/10/2019) menanggapi hal paling esensial dalam perbaikan gizi masyarakat Indonesia.

Menurut dia, pasangan muda sudah harus memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang pola asuh, soal pemenuhan gizi, memberikan ASI selama dua tahun, dan makanan pendamping ASI setelah enam bulan, serta berbagai informasi kesehatan lainnya.

Baca Juga :   Dua Warga Gunung Kidul Kembali Dinyatakan Positif Antraks

“Menjaga anaknya supaya tidak diare, panas dalam dengan cuci tangan, itu kan hal-hal sederhana sebenarnya,” kata Hardinsyah.

Dia mengamati pola hidup masyarakat perkotaan sekarang ini, khususnya pasangan muda yang sama-sama bekerja sehingga menyerahkan pengasuhan anak kepada orang lain, sehingga perhatian kepada keluarga jadi semakin berkurang dewasa ini.

Hardinsyah yang merupakan Guru Besar Institut Pertanian Bogor ini mengingatkan agar orang tua memberikan makan kepada anak dengan gizi yang cukup. Makanan yang diberikan harus terdapat karbohidrat, sayur-sayuran, dan protein hewani seperti telur, daging, ikan, dan susu.

Dia mengungkapkan sejumlah kajian membuktikan bahwa memberikan satu butir telur setiap hari kepada anak usia di atas satu tahun efektif mencegah terjadinya stunting.

Baca Juga :   Uni Emirat Arab Kirim Bantuan 20 Ton Perlengkapan Medis COVID-19 ke Indonesia

Menurut Hardinsyah, pencegahan stunting dengan satu butri telur per hari sangatlah sederhana dan murah karena harga per butir telur yang bahkan setengah dari harga satu batang rokok.

“Yang intinya perubahan mindset, perubahan perilaku, dan peningkatan pengetahuan,” kata dia.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, 95,5 persen masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi buah dan sayur.

Angka tersebut meningkat dari Riskesdas tahun 2013 yaitu 93,5 persen masyarakat Indonesia kurang makan sayuran dan buah-buahan. (Antara/ded)

Iklan Polres Lahat

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Kopi Dapat Turunkan Risiko Penyakit Batu Empedu

Jakarta, KoranSN Sebuah studi terbaru melaporkan bahwa kopi memiliki potensi untuk melindungi Anda dari penyakit …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.