Home / Editorial / Buaya Makan Manusia, Siapa Yang Salah?

Buaya Makan Manusia, Siapa Yang Salah?

Ilustrasi. (foto-net)

BUAYA merupakan binatang reptil yang hidup di perairan tenang seperti muara sungai serta rawa-rawa. Habitatnya kini mulai berkurang, karena aktifitas pembalakan liar hingga perambahan hutan yang kemudian dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.

Habitat buaya Sumatera kebanyakan berkulit hitam hingga abu-abu menyerupai warna kulit katak. Jenis buaya tersebut hidup di aliran sungai yang membentang dan saling bertemu. sungai sungai tempat habitat reptil buaya di wilayah Banyuasin diantaranya Desa Mukut Kecamatan Pulau Rimau lalu desa Penuguan Kecamatan Pulau Rimau sampai ke hilir sedikit di Batanghari (Sungai) Limau Desa Limau Kecamatan Sembawa.

Habitat buaya yang selama ini hidup di rawa-rawa sungai yang ditumbuhi tanaman atau berpohon pohon seperti gelam dan pakis juga pohon nipa, kini sudah tersudut ke sungai seiring habisnya hutan ditebang.

Tak ayal kini mangsa buaya yang sebelumnya tersedia secara alamiah seperti ikan, babi rusa dan monyet pun ikut tergerus perubahan alam akibat alihfungsi rawa menjadi kebun kelapa sawit.

Hal tersebut berdampak pada semakin terusiknya habitat buaya. Bahkan bisa dipastikan buaya tersebut memangsa manusia yang kebetulan sedang beraktivitas di sungai. Contoh salah seorang korban bernama Maulana (14) warga Desa Santan sari Kecamatan Sembawa yang sedang bertani diterkam buaya dihadapan ibu dan paman korban.

Baca Juga :   Banyaknya Problem Kota yang Harus Dibenahi

Peristiwa buaya memangsa manusia saat ini pun menjadi sorotan publik karena dianggap hal yang tragis dan mengerikan. Korbannya kebanyakan nelayan, sedang mencari ikan jaring dan mancing ikan, hingga pencari kayu balokan dan anak-anak yang sedang bermain di pinggiran sungai.

Setelah diamati, memang ada yang salah dalam aktivitas manusia. Manusia ingin hidup makmur dengan cara memanfaatkan sumber daya alam dimanfaatkan menjadi lahan pertanian dan perkebunan.

Namun masih kurang puas dari cara cara lain, cara manusia mencari ikan atau udang dengan menggunakan jaring pukat harimau, setrum dan racun.

Semua jenis ikan akan ikut mati dan perlahan-lahan akan punah. Inilah dampak langsung pada berkurangnya ilan sadar mengapa buaya memakan manusia. Kejadian itu berlangsung sudah berjalan hampir 10 tahun silam sejak ekspansi perkebunan kelapa sawit yang dilakukan oleh perusahaan.

Sejak itulah manusia mulai berhati-hati melakukan aktivitas di sungai.

Seperti contoh kejadian beberapa tahun silam buaya 7 meter serang M Dawi. Saat memasang jaring ikan. Padahal korban tahu betul wilayah tersebut banyak buaya.

Padahal saat itu M Dawi tengah memasang empang (jaring ikan, red) dialiran sungai Muara Terap, bersama istrinya Rosita (45) dan anaknya Doni (18). Untungnya, buaya yang diperkirakan berjumlah lebih dari satu ini tidak membalikkan perahu yang ditumpangi Rosita dan Doni.

Baca Juga :   KPK Harus Tegas Lagi dengan Koruptor

“Kami memang sebelumnya melihat ada buaya, karenanya kami memasang empang di lokasi lain. Tapi ternyata disano jugo ado buayonyo,” kata Rosita sambil menangis.

Kabar keganasan reftil raksasa ini langsung menyebar di Desa Limau, dikomandoi oleh beberapa pemuka masyarakat, sekitar pukul 21.00 WIB warga langsung menyebar mencari korban menggunakan perahu.

Proses pencarian M Dawi (56) warga Desa Limau Kecamatan Banyuasin III melibatkan paranormal dan pawang buaya dari Desa Pemulutan.

Peristiwa yang menimpa korban, menurutnya sangat mengejutkan. Karena korban yang sudah berpuluh tahun berprofesi sebagai pencari daun nipah dan ikan sudah hafal betul dengan kondisi medan, korban pun tahu tanda-tanda buaya yang akan mendekat.

“Dilokasi tersebut banyak sekali ikan, karena merupakan pertemuan dua arus sungai, karena itu buaya-buaya yang ada jarang sekali menganggu manusia, kalau sekarang sampai seperti ini, mungkin karena buaya tersebut merasa terusik dan bahan makanan yang ada sudah mulai berkurang,” katanya. (Siryanto)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Pengabdian Tanpa Akhir Sang Mantan Gubernur Sumsel

  Oleh Zulkarnain Alregar KETIKA pertama kali Provini Sumatera Selatan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga …