Home / Gema Sriwijaya / Budaya Lokal Terancam Punah

Budaya Lokal Terancam Punah

Tradisi kuntau sambut pengantin pria inilah yang nyaris punah. (foto-dok/sunardi/koransn.com)

Muratara, KoranSN

Adat istiadat atau istilah lainnya budaya lokal yang ditinggalkan nenek moyang selama ini seperti Beselang, Kuntau penyambutan tamu dan termasuk arakan pengantin di wilayah Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), terancam punah.

Seperti dikatakan Zami (28) warga Desa Karang Dapo Kecamatan Karang Dapo menuturkan, hampir puluhan tahun, baru kali ini ada kembali arak-arakan pengantin. “Tradisi arakan pengantin ini sepertinya akan punah jika tidak dipertahankan,” katanya, Senin (12/2/2018).

Ia menuturkan, arakan pengantin sering terjadi saat dirinya masih kecil. “Setiap ada persedekahan pernikahan pengantinnya akan di arak keliling kampung dengan di iringi musik tradisional dan lagu-lagu daerah,” tuturnya.

Hal itu karena ada tujuan dan makna tersendiri, dimana persedekahan dan pernikahan itu diketahui masyarakat banyak. “Yang paling memahami tentu orang-orang lama. Tapi sayang tradisi ini hampir punah. Dan bahkan akan hilang jika tidak ada motor penggerak dan mempertahankan tradisi itu,” ungkapnya.

Hal senada juga dikatakan Zainudin (56), warga Desa yang sama menjelaskan bahwa tradisi arakan saat ini hampir punah. Bahkan, sangat jarang masyarakat yang kembali menggunakan tradisi arak-arakan pengantin keliling desa.

“Misalnya di tahun 1999 hingga tahun 2000 tradisi arakan pengantin masih sering dipakai. Sekarang tradisi ini hampir punah. Bahkan dari sekian banyak acara persedekahan setiap tahunnya pasangan pengantin saat ini sudah tidak lagi menggunakan tradisi arakan,” ungkapnya.

Lanjut Zainudin, gotong royong pun sepertinya akan ditinggalkan karena terkikis oleh zaman. “Apalagi sekarang tinggal pesan atau sewa. Jadi, banyak yang pergeseran budaya. Ya seperti gotong royong hampir hilang,” ucapnya.

Ia menyayangkan, di zaman yang serba instan dan modern ini adat istiadat dan budaya mulai dilupakan di kalangan masyarakat.

“Inilah pentingnya peran pemerintah. Dalam hal ini dinas terkait agar kembali meminta peran aktif tokoh adat maupun tokoh agama guna melestarikan adat yang ada di setiap desa dan kecamatan di wilayah Kabupaten Muratara,” pungkasnya. (snd)

Publisher : Awid Durohman

Awid Durohman

Lihat Juga

Debat Kendidat Paslon di Empat Lawang di Alihkan Diluar Kabupaten

Empat Lawang, koranSN Guna mengantisipasi terulangnya peristiwa kericuhan yang terjadi saat deklarasi damai di Pulo ...

error: Content is protected !!