Penyerahan Dokumen Syarat Minimal Dukungan Pasangan Calon Perseorangan Dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Tahun 2020

Dokter Sebut Masyarakat Terdampak Asap Perlu Shelter

Sejumlah warga menutupi mulut dan hidungnya saat berjalan di tengah asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang makin pekat menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau. (foto-antaranews)

Jakarta, KoranSN

Dokter spesialis paru menyebut masyarakat yang terdampak asap kebakaran hutan dan lahan perlu shelter untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan yang ditimbulkan dari buruknya kualitas udara.

“Dicarikan shelter-shelter yang jauh, di mana kadar polusi lebih sedikit. Sudah mulai dipikirkanlah oleh pemerintah,” kata Ketua Pokja Paru Kerja dan Lingkungan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Feni Fitriani Sp.P(K) saat dihubungi di Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Selain itu, menurut dia, shelter juga bisa berfungsi sebagai tempat untuk pertolongan pertama pada masyarakat terdampak atau kelompok rentan yang menyediakan peralatan tim kesehatan lengkap.

Baca Juga :   Mawardi Yahya: Bidan Desa Garda Terdepan Dalam Layanan Kesehatan

Feni memaparkan, kondisi kualitas udara yang sangat buruk akibat asap kebakaran hutan dan lahan sangat berisiko menjadi gangguan penyakit bagi kelompok rentan.

Orang-orang yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat asap karhutla ialah anak-anak, lansia, orang dengan penyakit asma, penyakit paru, penyakit jantung, dan orang dengan sesak napas akibat merokok.

Kondisi udara di sejumlah wilayah Indonesia semakin memburuk akibat asap kebakaran hutan dan lahan sehingga mengganggu kesehatan masyarakat. Sebanyak empat siswi SMAN 1 Kota Dumai Provinsi Riau, Selasa (10/9/2019) terpaksa dirawat di rumah sakit karena mengalami lemas, pusing, dan nyaris pingsan saat jam pelajaran yang diduga akibat menghirup asap karhutla yang mencemari udara.

Baca Juga :   Wajib Lakukan 2 Hal Ini Biar Cepat Hamil

Dokter Feni menyebut kondisi lemas hingga pingsan akibat menghirup asap karhutla dikarenakan gas karbondioksida yang terlampau banyak terhirup oleh tubuh.

Karbondioksida mengikat keping darah sehingga darah kekurangan oksigen yang membuat tubuh menjadi lemas hingga pingsan.

Dia menyarankan agar masyarakat membatasi akvitias fisik di luar rumah agar tidak terlalu lama terpapar udara buruk dari asap Karhutla. (Antara/ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Kemenkes Khawatir WNI di Kapal Pesiar Terpapar Corona Mutasi Baru

Jakarta, KoranSN Kementerian Kesehatan RI mengkhawatirkan para Warga Negara Indonesia  yang menjadi Anak Buah Kapal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.