Selasa , Desember 11 2018
Home / Kota Musi / Faktor Ekonomi Picu Timbulnya Radikalisme

Faktor Ekonomi Picu Timbulnya Radikalisme

Pemateri diskusi publik (dari kanan ke kiri) Pasi Ter Kodim 0418 Palembang, HM Soberun, Anggota DPD RI Hendri Zainudin, Ketua Dewan Pakar MPII Sumsel Hernoe Roesprijadji, dan Waketum MUI Sumsel KH Amri Siregar. (foto/Anton Wijaya)
Pemateri diskusi publik (dari kanan ke kiri) Pasi Ter Kodim 0418 Palembang, HM Soberun, Anggota DPD RI Hendri Zainudin, Ketua Dewan Pakar MPII Sumsel Hernoe Roesprijadji, dan Waketum MUI Sumsel KH Amri Siregar. (foto/Anton Wijaya)

Palembang, KoranSN

Gerakan radikalisme dan terorisme diyakini masih terus berkembang di Indonesia. Untuk memeranginya harus dimulai dari diri sendiri dan mengembangkan pola pikir pluralisme dan demokrasi serta saling menghormati antar agama.

Demikian penggalan pemikiran dari Anggota DPD RI Hendri Zainudin saat menjadi narasumber dalam diskusi publik ‘Kemerdekaan Tanpa Radikalisme dan Terorisme’ di Nobu Cafe & Bistro, yang digelar oleh MPII Sumsel, Sabtu (30/7/2016).

Menurut Hendri, radikalisme bukan bersifat fisik, tetapi berupa pemikiran. Artinya, radikalisme itu perang pemikiran dan faktor yang memicu radikalisme diantaranya ketimpangan ekonomi, perbedaan ideologi dan ketidakadilan.

“Ada sejumlah cara untuk menanggulanginya, yakni membangkitkan kembali spirit dan nilai nilai pancasila, perbaikan metode dakwah oleh pemuka agama, meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingnya bela negara, dan adanya upaya perbaikan dari pemerintah sesuai ideologi pancasila,” beber Hendri.

Baca Juga :   Bupati Muba dan Istri Mengaku Ditekan DPRD Muba Berikan Uang Suap

Hendri menilai, masyarakat Indonesia berangsur angsur sudah memahami pentingnya keutuhan negara, hal ini tidak terlepas dari pola pikir masyarakat yang terus berkembang dan banyaknya organisasi masyarakat yang mensosialisasikan, termasuk organisasi keagamaan seperti kalangan Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

“Memang masih ada pola pikir radikalisme dan gerakan terorisme di Indonesia, tapi saya yakin jumlahnya terus berkurang, bahkan di Sumsel gerakan semacam itu bisa dikatakan tidak ada,” ujarnya.

Sementara Hernoe Roesprijadji SIP, pemateri lain yang juga Dewan Pakar Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Sumsel menilai, perlunya restorasi makna jihad. Jihad menurut kaum jihadis jauh berbeda dengan pemaknaan jihad yang selama ini dipahami.

“Jihad yang mereka pahami adalah sebuah perang (qital), sementara bagi kita jihad akbar sebagaimana hadist yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW adalah menahan hawa nafsu,” ujarnya.

Baca Juga :   Akhir November, KPU Palembang Launching Pilkada

Ditegaskan, konsepsi jihad dalam dunia modern saat ini yang paling relevan untuk dilaksanakan adalah membangun peradaban umat muslim, dengan pola-pola gerakan dan perjuangan dalam bentuk pemikiran, gerakan sosial, pendidikan, dan menjaga pemurnian aqidah Islam dengan tujuan memuliakan kalimat Allah SWT.

“Bagi kita bangsa Indonesia seharusnya menyadari dan mampu memilah, antara agenda politik dengan agenda agama, karena belum tentu sama antara agenda menegakkan Islam dengan agenda menegakkan negara Islam,” bebernya.

Sedangkan, Pasi Ter Kodim 0418 Palembang, HM Soberun mengatakan, ajaran komunisme merupakan ajaran terlarang di Indonesia, dan TNI tetap berkomitmen untuk menjaga NKRI dari serangan dan berkembangnya ajaran tersebut.

“Sudah menjadi tugas pokok TNI memerangi radikalisme dan terorisme,” tegasnya. (awj)

CGV Cinemas Segera Hadir di Lantai 3 PTC Mall Palembang

Publisher : Anton Wijaya

Anton Wijaya

Lihat Juga

Wagub Serahkan Surat Penunjukan Plt Kadis PU BM dan Tata Ruang

Palembang, KoranSN Wakil Gubernur Sumsel, H. Mawardi Yahya menyerahkan surat perintah Pelaksana Tugas (Plt) Nomor ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!