Home / Wawancara / Ibunda Tak Tahu Diajukan Menjadi Kapolri

Ibunda Tak Tahu Diajukan Menjadi Kapolri

Sukseskan Asian Games di Jakarta dan Palembang Tahun 2018
Hj Kordiah ibunda Komjen Pol Tito Karnavian dikediamannya Palembang.
Hj Kordiah ibunda Komjen Pol Tito Karnavian dikediamannya Palembang. (Foto-Ferdinand/koransn)

HAJJAH Kordiah Achmad (76), ibunda Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi (Pol) Tito Karnavian didampingi suaminya H Andi Suandi Arta (68), Kamis (16/6) mengungkapkan, mereka tidak mengetahui jika Tito, putra keduanya, menjadi calon tunggal Kapolri yang diajukan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Bahkan menurutnya hingga kemarin dirinya belum mendapatkan kabar secara langsung dari Tito terkait akan menjadi Kapolri.

“Tito belum memberitahukan kepada saya, jika akan menjadi Kapolri. Saya tahunya dari pemberitaan di media-media. Kalau benar memang demikian, tentunya saya sebagai Ibunya sangat senang dan bangga,” kata Kordiah saat ditemui di kediamannya di Jalan Pangeran Sido Ing Kenayan No 320 RT 8 RW 03 Kecamatan Gandus Palembang.

Diungkapkan, apabila nanti Tito benar menjadi Kapolri dan dilantik, dirinya memiliki pesan untuk putranya agar jujur dan mengayomi masyarakat selama menjabat sebagai Kapolri.

“Kalau Tito sudah jadi kapolri saya pesan agar Tito jujur serta tidak menyakiti hati rakyat. Selain itu, saya juga berpesan supaya Tito mengayomi masyarakat,” ujarnya.

Lebih jauh diceritakannya, Tito Karnavian merupakan putranya dari pernikahannya dengan Achmad Soleh suaminya yang pertama. Tapi saat Tito kelas 3 SD, ia dan Achmad Soleh berpisah dan sejak saat itu dirinya menikah dengan H Andi Suandi Arta.

“Tito ini anak saya nomor dua dari lima bersaudara, kalau anak yang pertama atau ayuknya Tito yakni, Prof Dr Diah Natalisa (guru besar Unsri). Sedangkan adik Tito adalah, Dr Iwan Dakota yang merupakan Dokter Sepesilis Jantung di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta, serta Dian Marlia SE dan Doni Akbar ST,” ungkapnya.

Diceritakannya, nama Tito Karnavian diberikannya karena saat Tito lahir pada, Sabtu siang 26 Oktober 1964 di Rumah Sakit Charitas bertepatan dengan pelantikan Presiden Yugoslavia ke-1 Josip Broz Tito. Dari itulah awal nama putra keduanya tersebut diberi nama Tito.

“Sedangkan untuk nama belakannya Karnavian karena saat Tito dilahirkan di depan Rumah Sakit Charitas, ketika itu sedang ada karnaval pelajar dan Mahasiswa Unsri. Oleh sebab itu saya memberi nama putra saya Tito Karnavian,” ujarnya.

Menurutnya, dari kecil Tito memang pintar dan cerdas karena sejak sekolah di SD Xaverius 4 Palembang, SMP Xaverius 2 Palembang, dan SMA Negeri 2 Puncak Sekuning Palembang, Tito selalu mendapat juara. Bahkan setelah lulus dari SMA Tito mendaftar lima jurusan di universitas dan semuanya dinyatakan lulus.

“Lima jurusan tersebut diantaranya, kedokteran Unsri dan Hubungan Internasional di UI. Tapi setelah mengetahui lulus tak ada satupun yang pilih Tito, sebab disaat bersamaan tes Akabri, yang diikuti Tito juga lulus. Ketika itu saya menyarankan agar Tito mengambil kedokteran. Sebab sayakan bidan jadi saya ingin Tito menjadi Dokter. Namun pertimbangan Tito berbeda, kata Tito kepada saya, kalau kedokteran akan banyak biaya yang dikeluarkan dan nanti duet ibu habis, dari itulah Tito memilih masuk Akabri dan akhirnya menjadi polisi,” paparnya.

Lanjutnya, setelah lulus tes Akabri dan mengikuti pendidikan, ternyata saat pendidikan tingkat ke II Tito menyampaikan hendak mundur karena pendidikan yang dijalaninya dinilai berat. Namun Tito kembali bangkit lalu melanjutkan pendidikannya hinga akhirnya Tito lulus dari pendidikan dengan hasil terbaik.

“Awalnya dia mau mudur, kemudian Tito menyampaikan jika dia mundur nanti mau jadi apa dari itu Tito meneruskan pendidikan hingga lulus dan meraih predikat terbaik. Sebelum lulus, Tito sempat bercerita jika saat Tito cuti dari pendidikan di Magelang, Tito bersama teman-temannya berjumlah 10 orang pulang naik kereta api. Tiba-tiba di kereta api bertemu paranormal dari Negara Beijing, dari ke 10 rekannya hanya Tito yang keningnya terlihat ada sinar. Kemudian saat akan dilantik, malam harinya nenek Tito bermimpi jika Tito be-jalan paling depan memegang bendera. Dan ternyata keesok harinya Tito dilantik di Istana Merdeka dengan kelulusan terbaik, mungkin ini adalah anugarah dari Tuhan,” ungkapnya.

Lanjutnya, selama Tito berkarir di kepolisian ia bersama keluarga di Palembang menyerahkan semuanya kepada Yang Kuasa. Bahkan saat Tito bertugas di Polda Papua menjadi Kapolda, pihak keluarga selalu mengirimkan doa agar Tito dijauhkan dari bahaya.

“Jika saat menonton di media elektronik di Papua sedang ada keributan dan penembakan maka kami di Palembang langsung berdoa dan mengundang tetangga untuk syukuran, sejak awal Tito menjadi Polisi semuanya saya serahkan kepada Tuhan,” tandasnya. (ded)

Daftar Calon Sementara Anggota DPRD Kabupaten Lahat Periode 2019-2024

Publisher : Apriandi

Apriandi

Lihat Juga

Ginanjar Aliya Sukmana, Polisi yang Tak Kalah Tampan Dengan Artis Sinetron

GAGAH dan berprestasi dialah AKP Ginanjar Aliya Sukmana SIK yang kini menjabat sebagai Kasat Reskrim ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!