Home / Gema Sriwijaya / Ingat! Dilarang Menanam Sawit di Pinggir Sungai

Ingat! Dilarang Menanam Sawit di Pinggir Sungai

Kepala DLHP Muratara, Alfirmansyah. (foto-sunardi/koransn.com)

Muratara, KoranSN

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas Utara (Muratara) melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) menghimbau kepada masyarakat Kabupaten Muratara untuk tidak menanam sawit di pinggir sungai, sebab sungai harus ada buffer zonenya.

Kepala DLHP Muratara Alfirmansyah menjelaskan, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No: 38 tahun 2011 tentang Sempadan Sungai menjelaskan sungai harus ada bufferzonenya atau penyanggahnya. Makanya di daerah aliran sungai (DAS) tidak boleh ditanami sawit, baik oleh masyarakat maupun perusahaan.

“Di dalam peraturan itu disebutkan dilarang menanam sawit atau tumbuh-tumbuhan yang menyerap air di daerah buffer zone sesuai dengan sempadan sungai. 100 meter untuk sungai besar dan 50 meter untuk sungai kecil,” jelasnya, Selasa (16/1/2018).

Ia menyarankan masyarakat untuk menanam tumbuh-tumbuhan yang bisa menyimpan air dan bisa jadi penyanggah di pinggir sungai, terutama tumbuh-tumbuhan kayu dan berakar tunjang, lebih baik lagi kalau tumbuhan yang berbuah.

Baca Juga :   Tak Lulus Tes Psikiologi, Senpi Ditarik

“Makanya nenek moyang kita dulu nanam rambai, duku dan tanaman berbuah lainnya,” ujar Alfirmansyah.

Ia menjelaskan, kalau sawit ditanam dekat sungai sangat subur sekali karena sawit itu menyerap air. “Jadi, sawit itu dia suka air, dia bukan menyimpan tapi menyerap. Kalau menyimpan itu ketika hujan dia serap, ketika tidak hujan dia keluarkan. Sekarang apa yang terjadi di daerah kita ketika hujan terjadi banjir tapi ketika kemarau kering kerontang. Makanya pihak kehutanan tidak merekomendasikan untuk menanam sawit,” ungkapnya.

“Kalau kamu buka hutan, tanam sawit maka dianggap pidana. Tapi kalau kita nanam karet, tidak. Karna karet itu berlaku hukum konservasi alam, dia termasuk tumbuhan hutan, dia berakar tunjang, dia bisa menyimpan air dan dia bisa memproduksi oksigen. Kalau sawit tidak, dan dia senang menghisap air,” tambah Alfirmansyah.

Baca Juga :   Di PALI, MOS Masih Dibolehkan

Ia berharap kepada masyarakat yang berada di aliran sungai agar tetap melestarikan air sungai dengan cara tidak membuang air limbah langsung ke sungai. Caranya harus ditampung terlebih dahulu, jadi air yang keluar nanti yang sudah tersaring, atau jangan menggunakan air sungai untuk sarana MCK, tapi gunakanlah sumber-sumber air yang lain.

“Kita harus peka terhadap lingkungan kalau ada kegiatan masyarakat yang berpotensi merusak lingkungan, baik itu tambang sedot dan semprot dalam hal ini emas dan perak harus kita hentikan karna perbuatan itu ilegal, apalagi proses kegiatan itu menggunakan mercury,” tukasnya. (snd)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Kasus Kebakaran Lahan di Muba Terus Diusut

Palembang, KoranSN Pihak kepolisian saat ini masih terus mengusut kasus kebakaran lahan yang terjadi di …