Jadi Saksi Dugaan Korupsi Kredit Bank Sumsel Babel, M Adil Arahkan KMK PT GI ke Divisi Kredit

Komisaris PT Gatramas Internusa, Ir Augustinus Julianto yang merupakan terdakwa dugaan korupsi kredit modal kerja (KMK) Bank Sumsel Babel berkoordinasi dengan tim kuasa hukumnya ketika menjalani sidang dengan agenda saksi di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Kelas I A Palembang. (foto-Ferdinand Deffriyansyah/koransn)
M Adil, mantan direktur utama BSB saat memberikan kesaksian di persidangan PN Tipikor klas I A Palembang dengan terdakwa Komisaris PT Gatramas Internusa (GI), Ir Augustinus Judianto, Kamis (21/11/2019). (foto/ Ferdinand Deffriyansyah/koran sn)

Palembang, KoranSN

Muhammad Adil yang merupakan Direktur Utama Bank Sumsel Babel periode 2013-2018, Kamis (21/11/2019) menjadi saksi persidangan dugaan korupsi kredit modal kerja (KMK), yang merugikan negara Rp 13 miliar lebih di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang dengan terdakwa Komisaris PT Gatramas Internusa (GI), Ir Augustinus Judianto.

Dalam persidangan tersebut, M Adil mengaku mengarahkan KMK PT GI ke Divisi Kredit Bank Sumsel Babel.

Dikatakan M Adil, jika dirinya menjabat sebagai Direktur Utama Bank Sumsel Babel selama 5 tahun yakni sejak 23 Desember 2013 hingga 29 November 2018. Usai berakhirnya jabatannya di Bank Sumsel Babel, dirinya hingga kini bekerja di Bank BNI di Jakarta.

“Jadi, kalau untuk pengajuan Kredit Modal Kerja (KMK) PT Gatramas Internusa, memang saat itu jabatan saya masih menjabat sebagai Direktur Utama Bank Sumsel Babel. Dan sebagai bankir memang ketika itu saya yang mengarahkan pengajuan KMK terdakwa Augustinus Judianto kepada Pimpinan Divisi Kredit Bank Sumsel Babel yakni Pak Aran Haryadi,” ungkapnya.

Masih dikatakannya, pengajuan KMK PT Gatramas Internusa tersebut bermula saat dirinya berkenalan dengan terdakwa Augustinus Judianto dan Hery Gunawan (telah meninggal dunia), yang keduanya merupakan Komisaris dan Direktur PT Gatramas Internusa dalam suatu acara yang digelar di kawasan Jalan Jenderal Sudirman pada pertengahan Februari 2014 lalu.

“Dalam pertemuan tersebut yang aktif mengobrol dengan saya, yakni terdakwa Augustinus Judianto. Bahkan kami saling tukar kartu nama. Nah saat pertemuan itulah, terdakwa dan temannya yakni Hery Gunawan menyampaikan kepada saya jika mereka sedang ada pekerjaan proyek pembangunan pipa di PT Pusri 2 B Palembang. Saya yang sebagai bankir mendengarkan cerita terdakwa ada proyek di Palembang langsung menawarkan kerjasama KMK kepada terdakwa. Tujuannya, hanya semata untuk mencari keuntungan buat Bank Sumsel Babel apabila perusahaan mereka meminjam KMK kepada kami,” paparnya.

Menurutnya, lalu sekitar tiga hari dari pekenalan tersebut terdakwa Augustinus Judianto bersama Hery Gunawan menemuinya di kantor Bank Sumsel Babel.

“Dalam pertemuan tersebut saya yang menerima terdakwa di ruang kerja saya. Kemudian terdakwa menyampaikan jika PT Gatramas Internusa mau mengajukan KMK kepada Bank Sumsel Babel. Oleh karena itulah saat itu saya memanggil Pimpinan Divisi Kredit Bank Sumsel Babel, Pak Aran Haryadi dan menyampaikan prihal pengajuan KMK terdakwa tersebut. Kemudian Pak Aran Haryadi yang mengurus semuanya. Jadi setelah itu saya tidak tahu lagi, karena dalam KMK ini kami kan ada bidangnya masing-masing” terangnya.

Lebih jauh dikatakannya, tak lama kemudian saat rapat mingguan yang dipimpinnya, Tim Komite Kredit Bank Sumsel Babel yang terdiri dari; direktur pemasaran, direktur oprasional, divisi kredit dan analisa kredit, menyampaikan kepadanya jika pengajuan KMK PT Gatramas Internusa disetujui.

Baca Juga :   Facebook, PayPal, Google, dan Tencent Resmi Tanam Investasi di Gojek

“Adapun besaran KMK yang disetujui oleh Tim Komite kredit untuk PT Gatramas Internusa yakni sebesar Rp 15 miliar. Jadi saya sampaikan, jika dalam pengajuan KMK ini, untuk mengurus pinjaman kredit modal kerja di atas Rp 30 miliar langsung kepada saya selaku Direktur Utama. Namun kalau di bawah Rp 30 miliar, pengurusan dilakukan oleh Tim Komite,” katanya.

Mendengar penjelasan M Adil membuat Ketua Majelis Hakim, Erma Suharti SH MH didampingi Hakim Anggota Adi Prasetyo SH MH dan Dr Saepudin SH MH mengajukan pertanyaan, terkait agunan yang diajukan terdakwa pada kredit modal usaha tersebut.

“Untuk pengajuan KMK ini kan ada agunan atau jaminannya. Yang saya tanyakan, berapa nilai jaminan yang diajukan terdakwa,” tanya Hakim.

Pertanyaan Hakim dijawab M Adil, jika dirinya tidang mengetahui terkait hal tersebut.

“Kalau itu saya tidak tahu Yang Mulia Majelis Hakim,” kata saksi M Adil di persidangan.

Jawaban M Adil yang tidak tahu membuat Ketua Majelis Hakim, Erma Suharti SH MH kembali mengajukan pertanyaan kepada saksi dengan nada tinggi.

“Masak tidak tahu, kamu kan direktur utama. Pasti ada SOP yang dilakukan dalam proses KMK tersebut,” tegas Hakim.

Kemudian M Adil menjawab, jika dirinya tidak hafal dengan SOP Kredit Modal Usaha. Sebab di Bank Sumsel Babel yang mengurus KMK merupakan bidang Divisi Kredit dan Tim Komite Kredit.

“Saya tidak hafal SOP dan aturannya. Sebab setiap agunan ada persentasenya. Jadi Mohon maaf Yang Mulia Majelis Hakim, saya benar-benar tidak hafal,” ungkapnya.

Setelah itu, Majelis Hakim mempertanyaan kepada saksi M Adil terkait kredit yang tidak dibayar oleh PT Gatramas Internusa.

“Kapan saksi mengetahui KMK PT Gatramas Internusa bermasalah, coba jelaskan,” tanya Hakim dalam persidangan.

Diterangkan M Adil, jika permasalahan tersebut diketahuinya saat rapat rutin bersama Tim Komite Kredit di Bank Sumsel Babel. Dimana dalam rapat tersebut, Tim Komite menyampaikan jika PT Gatramas Internusa tidak membayar angsuran kredit.

“Saat itulah saya baru tahu jika kreditnya macet. Adapun usaha yang sudah kami lakukan yakni menagih ansuran kredit kepada terdakwa, bahkan saya langsung menghubungi terdakwa menyampaikan agar terdakwa segera menyelesaikan angsuran kredit tersebut,” jelasnya dalam persidangan.

Tak lama kemudian lanjut M Adil, barulah diketahui jika macetnya kredit tersebut berawal dari terdakwa mengalihkan rekening PT Gatramas Internusa yang didaftarkan dalam kontrak kredit ke bank lain. Sehingga Bank Sumsel Babel tidak dapat melakukan debit untuk pembayaran angsuran KMK setiap terjadinya transaksi pada rekening PT Gatramas Internusa.

“Tetapi saat itu kami terus aktif menagih, dan hasilnya ada sekitar tiga atau empat kali terdakwa membayar angsuran kredit. Namun setelah itu terdakwa tidak kembali membayarkan angsuran kredit,” tandasnya.

Sementara itu, Pimpinan Divisi Kredit Bank Sumsel Babel, Aran Haryadi yang juga dihadirkan dalam saksi pada persidangan mengungkapkan, jika yang dibayarkan oleh PT Gatramas Internusa ke Bank Sumsel Babel hanyalah bunga KMK, bukan angsuran pokok kredit.

Baca Juga :   Selundupkan Gergaji Besi, Indah Istri Salah Satu Tahanan dari 30 Tahanan Kabur Jadi Tersangka

“Pada saat perjanjian kontrak, terdakwa kan melampirkan dokumen kontrak kerja PT Gatramas Internusa terkait pekerjaan proyek pipa PT Pusri 2 B, yang dikerjakan oleh PT Gatramas Internusa. Maka dari itu sesuai perjanjian kontrak kredit, kami membuatkan rekening Bank Sumsel Babel atas nasabah PT Gatramas Internusa. Tujuannya agar setiap PT Gatramas Internusa mendapatkan pembayaran pekerjaan dari hasil proyek pipa tersebut, maka angsuran atau cicilan kredit otomatis terpotong di rekening tersebut. Dan ini juga kami terapkan kepada nasabah KMK lainnya,” terangnya.

Masih dikatakannya, namun kenyataannyaan setelah terdakwa mendapatkan KMK dari Bank Sumsel Babel. Ternyata terdakwa secara diam-diam membuat rekening ke bank lain, sehingga rekening PT Gatramas Internusa tidak dapat dilakukan pemotangan karena tidak ada transaksi yang masuk.

“Oleh karena itu, sepeser pun terdakwa tidak pernah membayarkan cicilan pokok KMK ke Bank Sumsel Babel. Namun selama ini terdakwa hanya beberapa kali membayarkan bunga dari angsuran kredit saja, yang dibayarkan oleh terdakwa secara tunai. Hingga akhirnya perusahan terdakwa dinyatakan pailit,” ungkapnya.

Dalam persidangan tersebut, saksi Aran Haryadi juga mengakui jika dirinya memproses pengajuan KMK terdakwa setelah ia dikenalan kepada terdakwa oleh M Adil, yang saat itu merupakan Direktur Utama Bank Sumsel Babel.

“Ketika itu saya dipanggil menghadap Pak Adil di ruangannya. Nah, saat itulah ada terdakwa Augustinus Judianto. Kemudian Pak Adil menyampaikan jika perusahaan terdakwa mengajukan kerdit modal usaha, sehingga saya langsung melakukan proses pengajuannya hingga tahap kredit dicarikan. Dalam semua tahapan tersebut, saya bersumpah tidak sama sekali menerima fee terdakwa. Sebab semuanya saya lakukan sesuai pekerjaan yang saya bidangi,” katanya.

Diterangkannya, adapun tahapan proses KMK, awalnya dirinya meminta terdakwa melengkapi semua persyaratan termasuk agunan yang dijaminkan, yakni berupa mesin pengeboran minyak dan tanah di Bogor. Setelah itu barulan dilakukan penafsiran harga nilai agunan yang diajukan.

“Dalam penafsiran harga nilai agunan ini, dilakukan oleh Tim Jasa Penilaian Independent, dimana hasilnya untuk mesin pengeboran minyak dinilai seharga Rp 15 miliar, dan sebidang lahan dinilai Rp 630 juta. Berdasarkan penilaian tersebutlah makanya saya selaku Divisi Kredit bersama Tim Komite saat itu menyetujui pengajuan kredit terdakwa, hingga akhirnya dilakukan penandatangan kontrak kredit, yang mana di dalam kontrak tersebut saya dan terdakwa yang melakukan penandatangan,” jelas saksi Aran Haryadi.

Lanjut Aran Haryadi, akan tetapi setelah PT Gatramas Internusa dinyatakan Pailit dan pihaknya melakukan lelang sebanyak empat kali terhadap agunan yang diajukan terdakwa. Hasilnya, agunan tersebut nilai jualnya menurun jauh hingga lelang dibatalkan.

“Dimana untuk mesin bor minyak hanya dinilai seharga Rp 2,5 miliar sedangkan sebidang tanah hanya dinilai seharga Rp 180 juta. Terkait mengapa nilai agunan ini menjadi turun, saya tidak tahu Yang Mulia Majelis Hakim,” pungkasnya.

Usai mendengarkan keterangan saksi dari M Adil dan Aran Haryadi, Ketua Majelis Hakim, Erma Suharti SH MH menunda sidang dan akan kembali membuka persidangan pada Kamis 28 November 2019.

“Sidang kami tutup dan akan kembali dibuka Kamis depan, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi lainnya yang akan dihadirkan oleh Jaksa Penutut Umum (JPU),” tutup Hakim. (ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Polisi Tembak Tersangka Narkoba  Menyerang Petugas

Medan, KoranSN Tim Anti Bandit (Tekab) Polsek Medan Timur, Sumatera Utara, menembak tersangka pengguna Narkoba …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.