Kadis PUPR dan 5 Anggota DPRD Muara Enim Kompak Bantah Terima Suap

5 orang anggota DPRD Muara Enim dan 1 Kadis PUPR Muara Enim dihadirkan sebagai saksi sidang terdakwa Elfin Muchtar. (foto-ferdinand/koransn)

Palembang, KoranSN

Plt Kepala Dinas PUPR Muara Enim, Ramlan Suryadi dan lima anggota DPRD Muara Enim yakni Mardalena dan Muhardi selaku anggota DPRD periode 2019-2004 serta saksi Irul, Iksa Haryawan dan Imam Hamsi yang ketiganya anggota DPRD Periode 2014-2019, Selasa (25/2/2020) kompak membantah menerima uang suap saat menjadi saksi sidangan OTT suap 16 paket proyek di PN Tipikor Palembang.

Para saksi tersebut dihadirkan di persidangan untuk menjadi saksi terdakwa Ahmad Yani dan A Elfin MZ Muchtar. Selain itu, dalam persidangan tersebut juga dihadirkan saksi Edi Yansah selaku PNS di Dinas PUPR Muara Enim.

Plt Kepala Dinas (Kadis) PUPR Muara Enim, Ramlan Suryadi saat menjadi saksi di persidangan mengatakan, selain menjabat Plt Kadis PUPR di Muara Enim dirinya juga menjabat sebagai Kepala Bappeda. Dalam jabatan tersebut dirinya mengaku tidak pernah sama sekali menerima uang suap dari terdakwa A Elfin MZ Muchtar, maupun kontraktor bernama Robi Okta Fahlefi (terpidana).

“Memang saya sudah kenal lama dengan Robi Okta Fahlefi lantaran ayahnya dulu kerja di Dinas PUPR. Dan selama saya mengenal Robi, saya tidak pernah menerima apapun darinya, termasuk menerima uang. Yang ada, kami hanya pernah makan sate bersama, itu saja,” ungkapnya.

Mendengar keterangan dari Ramlan Suryadi membuat Anggota Majelis Hakim, Hanifah SH MH meminta agar saksi memberikan keterangan dengan jujur dalam persidangan. Sebab dalam sidang sebelumnya sudah banyak saksi yang telah memberikan kesaksian dalam persidangan, jika Ramlan menerima sejumlah uang dari terpidana Robi Okta Fahlefi yang uangnya diserahkan melalui A Elfin MZ Muchtar.

“Bukan hanya itu, dari keterangan saksi yang telah dihadirkan pada sidang sebelumnya, saudara Ramlan Suryadi juga menerima handphone seharga sekitar Rp 10 juta dari Robi Okta Fahlefi selaku kontraktor yang mendapatkan 16 paket pekerjaan terkait reses DPRD Muara Enim di Dinas PUPR Muara Enim,” ungkap Hakim.

Dikatakan Ramlan Suryadi, terkait pemberian handphone tersebut bukan karena dirinya yang meminta melainkan ia yang mendapatkan tawaran dari Robi Okta Fahlefi.

“Robi yang menawarkan handphone kepada saya, dan saat itu saya ucapkan Alhamdulilah. Namun handphone tersebut tidak sampai ke tangan saya, hanya diterima oleh bibi yang ada di rumah. Sebab ketika itu terjadi OTT KPK, sehingga handphone tersebut dikembalikan,” ujarnya.

Kemudian Anggota Majelis Hakim, Hanifah SH MH kembali memperingatkan agar Ramlan Suryadi memberikan kesaksian yang jujur. Sebab sebelum menjadi saksi dalam sidang, saksi telah disumpah.

Baca Juga :   Rajab Pembegal Anggota Polda Sumsel dengan Celurit Ditembak

“Sejak awal perkara ini disidangkan, Ramlan Suryadi sudah sekitar empat kali ini disumpah karena menjadi saksi. Jadi keterangan saksi yang mengatakan tidak tahu, tentunya akan merugikan saksi sendiri. Sebab di persidangan kami butuh keterangan yang benar untuk membuat terang perkara ini. Sekali lagi, saya sampaikan apakah saksi menerima uang suap dalam perkara ini,” tegas Hakim.

Lagi-lagi jawaban saksi Ramlan Suryadi di persidangan mengatakan, jika dirinya menyatakan tidak menerima apapun dalam perkata ini.

“Tidak ada apapun yang saya terima, termasuk uang dari siapapun,” kata Ramlan.

Keterangan Ramlan Suryadi yang mengaku tidak menerima uang suap juga membuat Hakim Anggota Junaidah SH MH mencecar saksi dengan kata-kata yang tinggi. Bahkan Hakim memperingatkan Ramlan dengan ancaman pidana memberikan keterangan palsu dalam persidangan.

“Saudara Ramlan kan sudah disumpah, jadi jujur saja. Sebab saksi dibayang-bayangi pidana keterangan palsu kalau tidak jujur di dalam persidangan. Seba, kami selaku Majelis Hakim tahu kalau saudara menerima uang di dalam plastik kresek, dan hal ini terungkap dari keterangan saksi sebelumnya dan berdasarkan berkas perkara,” tegas Hakim.

Dalam persidangan saksi Ramlan Suryadi tetap menyatakan jika dirinya tidak menerima uang tersebut. “Tidak ada pemberian uang itu,” tutupnya.

Edi Yansah selaku PNS di Dinas PUPR Muara Enim yang juga menjadi saksi dalam persidangan mengungkapkan, jika dalam dugaan kasus ini dirinya yang memberikan uang di dalam plastik kresek kepada Ramlan Suryadi.

“Saya diperintah oleh A Elfin MZ Muchtar mengatarkan uang untuk Pak Ramlan. Ada empat kali saya mengantarkan uang tersebut yang semuanya diterima langsung oleh Pak Ramlan. Dimana uang tersebut dua kali saya berikan di ruang kerjannya, dan dua kali lagi saya serahkan kepada Pak Ramlan di rumahnya. Jadi, Pak Ramlan menerima uang dalam perkara ini,” tegas saksi Edi Yansah.

Ketua Majelis Hakim, Erma Suharti SH MH dalam persidangan mengungkapkan, jika sejak awal pihaknya meragukan keterangan dari saksi Ramlan Suryadi.

“Kami ini sudah lama menyidangkan perkara korupsi. Jadi, jam terbang kami sudah banyak. Tidak masuk akal dan omong kosong jika saksi Ramlan Suryadi mengaku tidak menerima uang, sebab saksi adalah Plt Kapala Dinas PUPR bukan pegawai cleaning service atau office boy,” ungkap Hakim.

Cecaran Majelis Hakim langsung membuat saksi Ramlan Suryadi terdiam sejenak, lalu mengatakan jika dirinya sama sekali tidak menerima uang suap tersebut.

Sementara lima saksi dari anggota DPRD Muara Enim yang terdiri dari, saksi Mardalena dan Muhardi yang merupakan anggota DPRD periode 2019-2004 serta saksi Irul, Iksa Haryawan dan Imam Hamsi anggota DPRD Periode 2014-2019, kelimanya menyatakan jika mereka tidak pernah menerima uang suap dalam dugaan kasus ini.

Baca Juga :   Angkot Terbakar Usai Beli Bensin di SPBU

Dalam persidangan awalnya saksi Mardalena dan Muhardi secara bergantian mengatakan, jika mereka merupakan anggota DPRD Muara Enim periode 2019 2024. Dalam dugaan kasus ini memang mereka mengajukan pemohonan pembangunan dalam rapat pokok pikiran (Pokir) berdasarkan hasil reses di Dapil masing-masing. Sedangkan terkait penerimaan uang suap, saksi Mardalena dan Muhardi menyatakan tidak pernah menerima uang tersebut.

“Kami tidak menerima apapun termasuk uang,” ungkap saksi Mardalena dan Muhardi secara bergantian dalam persidangan.

Sedangkan saksi Irul, Iksa Haryawan dan Imam Hamsi yang ketiganya anggota DPRD Periode 2014-2019 juga mengungkapkan hal yang sama jika mereka tidak sama sekali menerima uang suap tersebut.

“Tidak ada kami menerima apapun, termasuk uang suap itu,” ungkap saksi Irul, Iksa Haryawan dan Imam Hamsi bergantian.

Keterangan lima saksi dari anggota DPRD Muara Enim tersebut dibantah oleh terdakwa A Elfin MZ Muchtar. Dikatakan terdakwa jika kelima saksi menerima uang suap dari terpidana Robi Okta Fehlefi yang merupakan kontraktor yang mendapatkan 16 paket peroyek pekerjaan di Muara Enim. Dimana setiap anggota DPRD masing-masing menerima uang bervariasi, yakni sekitar Rp 200 juta.

“Para saksi dari anggota DPRD Muara Enim ini menerima uang suap tersebut. Dimana uang itu saya bersama dua staf saya, yakni; Arga dan Edi Yansah yang menyerahkan uang kepada mereka,” tegas terdakwa.

Selain para saksi tersebut, dalam persidangan juga dihadirkan saksi Ahmad Dani yang merupakan PNS di Dinas PUPR Muara Enim. Dikatakannya, jika dalam perkara ini dirinya hanya diminta satu kali menemani terdakwa A Elfin MZ Muchtar untuk makan di salah satu rumah makan mie di Kota Palembang.

“Saat itu awalnya saya tidak tahu kalau ternyata Pak Elfin mengajak saya makan untuk menyerahkan sejumlah uang kepada Robi Okta Fehlefi. Saya mengetahui adanya pemberian uang tersebut, setelah datang petugas KPK mengamankan kami di rumah makan tersebut,” tutupnya.

Seusai mendengarkan keterangan para saksi, Ketua Majelis Hakim, Erma Suharti SH MH menutup persidangan dan akan kembali membuka sidang pada 3 Maret 2020.

“Sidang dengan ini ditunda, dan akan kembali dibuka Selasa depan dengan agenda keterangan saksi-saksi lainnya,” pungkas Hakim. (ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Komplotan Bobol Rumah di Sukarami Diringkus

Palembang, KoranSN Pihak kepolisian Sat Reskrim Polsek Sukarami meringkus tiga pelaku yang merupakan komplotan bobol …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.