Kak Seto: Didik Anak dengan Cinta

Tampak Eliza Alex Noerdin didampingi Tartilah Ishakk Mekki dan istri ketua DPRD Sumsel saat mengikuti paparan cara mendidik anak bersama kak Seto di Griya Agung, Selasa (11/4). foto Ferdinand/koransn

Palembang, koransn
Mengingat seringnya terjadi aksi kejahatan terhadap anak yang dinilai bersumber dari pengaruh binaan dalam keluarga, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia yang juga psikolog anak, Seto Mulyadi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Kak Seto mengungkapkan, dalam mendidik anak seharusnya orang tua lebih menggunakan bahasa cinta. Diyakini dengan begitu, anak-anak akan lebih mudah mencerna apa yang dimaksud dan yang ingin disampaikan orang tua.

“Dalam upaya menghindari meningkatnya jumlah kekerasan anak, kita harus kenali ciri-cirinya jika anak sudah mengalami kekerasan, untuk anak prasekolah misalkan seringnya menghisap jempol dan hyperaktif, untuk remaja itu cenderung merusak diri sendiri. Nah, solusi yang paling efektif untuk menanggulang ini yakni keluarga. Tapi, tentu dalam mendidik anak haruslah menggunakan cinta,” tuturnya, saat menjadi narasumber dalam acara sosialisasi perlindungan anak yang digelar Tim Penggerak PKK Sumsel, di Griya Agung Palembang, Selasa (11/4).

Seto menjelaskan, suasana yang harmonis dan penuh cinta dalam rumah juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak, baik itu dalam pendidikan maupun pergaulannya.

Namun, diakuinya, kebanyakan orang tua saat ini lebih memilih memberikan punishmen dengan menyakiti fisik, misal menjewer ataupun memukul anak jika si anak melakukan kesalahan.

Baca Juga :   Kerap Diintimidasi, Serikat Pekerja JICT Lapor LPSK
Usai paparan kak seto langsung diserbu ratusan ibu ibu yang mengajak foto bersama, Selasa (11/4).– Foto Ferdinand Deffryansyah/koransn

“Itu yang keliru dalam pola mendidik anak. Jika anak melakukan kesalahan, langsung dijewer, dipukul, dismash, mungkin si bapak atau ibunya hobbi main bola. Cara tersebut malah akan menyakiti fisiknya, dan itu akan berpengaruh lama untuk psikisnya. Seharusnya, dalam memberikan punishmen, orang tua tak harus melakukan kekerasan fisik, bisa dengan meninggikan sedikit nada bicara tanpa menyakitinya. Itu pun jika diperlukan, alangkah baiknya ajak bicara baik-baik dan dengarkan apa keluhannya. Sebab setiap anak memiliki pola belajar sendiri, semua berbeda,” terangnya.

Menurut Seto, belajar merupakan hak bagi anak, bukanlah kewajiban. Ketenangan dan ketentraman dalam rumah bisa menghindarkan anak dari kejahatan terhadap anak.

“Misal dengan mendampinginya saat mengerjakan PR, khususkan wkatu untuk diskusi keluarga dan sebagainya. Hal itu akan memperkuat ikatan dalam keluarga, sehingga kejahatan terhadap anak akan mampu diminimalisir,” imbuhnya.

Selain itu, terkait dengan banyaknya isu penculikan anak, Ia menghimbau agar para orang tua lebih waspada. Disamping itu, Pemerintah juga harus menyediakan ruang yang ramah untuk anak agar lebih dekat dengan keluarga.

“Untuk menghindari kejahatan pada anak, misalnya penculikan, mohon orang tua lebih dekat dengan anak. Contoh, anak dilatih untuk tidak berada di tempat sepi sendirian, jangan memberikan informasi yang bersifat pribadi si sosmed, diberikan pelatihan untuk antisipasi dalam menhadapi penculikan, demikian juga untuk asisten RT, harus jelas identitasnya,” pungkasnya.

Baca Juga :   Terkena Kanker Hati, Sutan Bhatoegana Menangis

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Sumsel, Eliza Alex Noerdin menyampaikan, kegiatan ini merupakan kegiatan pokok Tim penggerak PKK Sumsel. Dimana dalam kesempatan ini pihaknya mengundang Seto Mulyadi guna memberikan edukasi tentang pembinaan terhadap anak agar tindak kejahatan terhadap anak dapat di minimalkan. Pada acara tersebut juga dihadiri lebih kurang 200 peserta yang terdiri dari Tim PKK Sumsel, Ikatri dan instansi lain yang menaungi hak serta perlindungan anak dan perempuan.

“Karena mengamati keadaan sekarang ini, kenyataan dilapangan kini sungguh sangat memprihatinkan bagi keluarga. Seperti salah satunya penganiayaan terhadap anak yang dilakukan oleh orang-orang terdekat. Dengan kiat-kiat dari pakar perlindungan ini nanti, kekerasan seksual, penganiayaan yang sangat rentan di keluarga yang tidak dapat melakukan pembinaan dengan baik. Nah, dengan ini kita berikan edukasi dan peringatan ke orang tua, melalui sosialisasi yamg dilakukan pihak PKK ketiap keluarga yang ada di kampung-kampung,” terangnya.

Masih dikatakan Eliza, anak-anak merupakan potensi penting untuk kehidupan di masa yang akan datang. Sebab, mendapatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, tentu bukanlah hal yang mudah.

“Belakangan ini, ancaman terhadap anak memang harus menjadi perhatian utama. Usia 13 hingga 18 tahun itu yang paling rentan, untuk itu sangat diperlukan kepedulian agar anak mendapat perlindungan, serta menjadi manusia seutuhnya,” pungkasnya. (tya)

Publisher : Ferdin Ferdin

Avatar
Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

Pasien Corona Meninggal di Sumsel Bertambah 3, Sambuh 8 Orang

Palembang, KoranSN Jumlah pasien positif Covid-19 meninggal dunia dan pasien sembuh di Sumsel, Sabtu (11/7/2020) …