Home / Headline / Kasus Tewasnya Kembali Peserta MOS SMA Taruna Palembang, Senior Pukuli Perut Siswa Hingga Akhirnya Tewas

Kasus Tewasnya Kembali Peserta MOS SMA Taruna Palembang, Senior Pukuli Perut Siswa Hingga Akhirnya Tewas

Adegan rekonstruksi saat korban mengeluh sakit usai perutnya dipukul oleh seniornya. (foto-dedy/koransn)

Palembang, KoranSN

Pihak kepolisian Satreskrim Polresta Palembang, Rabu (7/8/2019) menggelar rekonstruksi kasus tewasnya kembali seorang siswa peserta Masa Orientasi Siswa (MOS) SMA Taruna Indonesia Palembang berusia 16 tahun yang tercatat sebagai warga Plaju Palembang.

Rekonstruksi tewasnya korban ini dilakukan di dua lokasi berbeda, yakni di halaman belakang SMA Taruna Palembang dan di halaman salah satu pesantren di kawasan Talang Jambe Kecamatan Sukarami Palembang.

Terungkap dalam rekonstruksi yang digelar sebanyak 25 adegan tersebut, ‘AS’ yang merupakan komandan regu dan juga senior korban memukuli berut korban berkali-kali. Akibatnya korban sakit lalu dilarikan ke rumah sakit hingga akhirnya korban pun tewas setelah kritis selama satu minggu.

Pada rekonstruksi yang digelar sebanyak 25 adegan tersebut, kejadian ini terjadi berawal saat korban bersama siswa lainnya yang merupakan peserta MOS dikumpulkan di halaman belakang sekolah SMA Taruna Palembang untuk memulai kegiatan MOS, dengan berjalan kaki dari sekolah menuju salah satu pesantren di kawasan Talang Jambe Kecamatan Sukarami Palembang.

Perjalanan jauh dengan jalan kaki tersebut dilakukan para siswa dengan didampingi komandan regu, yakni ‘AS’ dimulai dari sekolah pukul 21.00 WIB. Kemudian sekitar pukul 00.00 WIB, para peserta MOS tiba di halaman pesantren di Talang Jambe yang dijadikan pihak sekolah SMA Taruna Palembang sebagai pusat dilaksanakan kegiatan MOS.

Ketika tiba di halaman pesantren, para siswa diperintahkan oleh ‘AS’ berkumpul untuk mendapatkan pelatihan mengikatkan simpul tali ke tubuh. Dalam pelatihan tersebut, ‘AS’ menunjuk korban maju kedepan guna mempergakan pengikatan tali simpul.

Tampak pada adegan rekonstruksi, ‘AS’ yang merupakan senior korban mengikatkan simpul tali ke tubuh korban. Namun saat tali diikatkan ke bagian perut korban, ternyata talinya tidak sampai, hingga ‘AS’ memukuli perut korban berkali-kali sampai korban yang ketika itu berdiri tegap langsung termundur.

Baca Juga :   Pura-pura Meminjam, Ridwan Bawa Kabur dan Jual Motor Teman

“Saat memukul perut korban berkali-kali saya mengatakan kepada korban dengan kata-kata, kurusi-kurusi,” kata ‘AS’ menjelaskan kepada penyidik sambil mempergakan adegan memukuli perut korban dengan kedua tangannya.

Setelah kejadian tersebut kemudian para peserta MOS beristirahat di kawasan pesantren. Lalu kesokan harinya, sejumlah kegiatan MOS kembali dilakukan hingga menjelang siang harinya. Dalam adegan rekonstruksi tersebut terlihat saat siang hari para siswa menuju masjid yang ada di lokasi untuk melaksanakan Shalat Zuhur.

Seusai shalat, para siswa dikagetkan karena korban saat itu terlihat terguling dan kesurupan.

“Ketika kesurupan korban berkata ‘jangan sakiti aku’. Tak lama kemudian, korban duduk dengan kondisi lemas,” ujar para saksi yang merupakan rekan-rekan korban sesama siswa perserta MOS SMA Taruna Palembang.

Kemudian adegan rekonstruksi dilanjutkan saat korban berjalan dengan mengeluh perut sakit ke halaman pesantren bersama para siswa lainnya untuk melanjutkan kegiatan MOS. Terlihat disaat korban duduk berkumpul bersama siswa lainnya di halaman tersebut, korban membuka kancing baju bagian atas lantaran ketika itu korban masih mengeluh perutnya sakit.

Tak lama kemudian, datang komandan regu ‘AS’ menemui para peserta untuk kembali melanjutan kegiatan MOS. Dan ketika itulah ‘AS’ melihat kancing atas baju korban terbuka, lalu ‘AS’ langsung memukul perut korban sebanyak satu kali.

“Saat itu aku dak tahu kalau korban ini sebelumnya kesurupan, makanya ketika melihat korban bajunya terbuka saya langsung memukul perut korban sebanyak satu kali sambil berkata kepada korban ‘ngapo kau buka baju’. Nah, setelah itu barulah siswa lainnya menyampaikan jika korban tadinya kesurupan,” ungkap AS saat melakukan adegan rekonstruksi.

Baca Juga :   Puluhan Rumah Dieksekusi, Warga Perdatakan Polda Sumsel

Terlihat dalam adegan rekonstruksi selanjutnya, seusai korban kembali dipukul ‘AS’, korban mengaku tidak sanggup melanjutkan kegiatan MOS.

“Korban mengeluh sakit hingga saya gandeng berjalan ke luar halaman kegiatan MOS sampai ke pos kesehatan,” kata ‘AS’.

Diakhir adegan rekonstruksi tampak korban yang terus mengeluh perutnya sakit dibawa oleh panitia kegiatan MOS kembali ke Sekolah SMA Taruna Palembang menggunakan mobil. Setiba di sekolah, ternyata korban masih mengeluh kesakitan di bagian perutnya hingga korban dibawa pihak sekolah ke rumah sakit.

Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Yon Edi Winara mengatakan, dalam kasus ini ada dua korban yang meninggal dunia, dimana untuk kasus yang pertama pihaknya sudah menetapkan satu tersangka. Sedangkan untuk kasus yang kedua masih dalam penyelidikan.

“Untuk kasus yang masih penyelidikan inilah kami melakukan rekonstruksi,” katanya.

Kasat enggan berkomentar saat disinggung terkait penetapan tersangka dalam kasus yang direkonstruksi tersebut. Namun dirinya memastikan jika proses penyelidikan terus berjalan untuk mengungkap tersangkannya.

“Ada sekitar 25 adegan dalam rekonstruksi tersebut, dan kami juga masih terus melakukan penyelidikan kasus ini,” tandas Kasat.

Diberitakan sebelumnya, setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Charitas Palembang selama 7 hari, akhirnya satu siswa SMA Taruna Indonesia Palembang yang berusia 16 tahun warga Plaju Palembang, Jumat malam (19/7/2019) meninggal dunia.

Dengan tewasnya korban, maka jumlah korban yang tewas diduga akibat kekerasan dalam MOS SMA Taruna Indonesia Palembang ini bertambah menjadi dua korban.

Sebab sebelumnya, satu siswa berusia 14 tahun warga Tulung Selapan OKI juga telah tewas. Terkait tewasnya korban ini, pihak kepolisian Sat Reskrim Polresta Palembang kala itu telah menetapkan Obby Frisman selaku Pembina MOS menjadi tersangka. (ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Prada Deri Pramana Dituntut Penjara Seumur Hidup, Keluarga Fera: Kami Minta Dihukum Mati

Palembang, KoranSN Keluarga Fera Oktaria (21), korban yang dibunuh dan dimutilasi terdakwa Prada Deri Pramana …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.