Kejagung Tahan Direktur PT TAB Terkait Korupsi Pemberian Kredit

Direktur PT Tirta Amarta Bottling Company (TAB) ditahan Kejagung. (foto-detiknews.com)

Jakarta, KoranSN

Kejaksaan Agung (Kejagung) menahan Direktur PT Tirta Amarta Bottling Company (TAB) berinisial RT. Penahanan itu terkait kasus pemberian kredit bank Mandiri cabang Bandung tahun 2015.

“Pada hari ini penyidik telah melakukan penahanan terhadap tersangka RT tersangka adalah direktur sekaligus pemilik PT TAB. TAB ini adalah kreditur bank Mandiri dari pihak swasta,” kata Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung, Warih Sadono, di Kejagung, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Rabu (24/1/2018).

RT ditahan di Rutan Salemba cabang Kejagung selama 20 hari ke depan. Dalam kasus ini, RT diduga meminta perpanjangan kredit dan merekayasa persyaratan saat meminta penambahan pinjaman.

“Peranannya dia sebagai penerima kredit dalam proses perpanjangan, dia merekayasa persyaratan. Kerugian negara Rp 1,5 triliun,” kata Warih.

RT dikenakan Pasal 2 Ayat 1, Pasal 3 subsider Pasal 15 juncto Pasal 10 UU Tindak Pidana Korupsi.

Baca Juga :   KPU Pastikan Pengumuman Hasil Rekapitulasi Bukan Suatu Kejanggalan

Dalam kasus ini Kejagung telah menetapkan 3 tersangka dari internal bank Mandiri cabang Bandung. Mereka adalah Mantan Senior Credit Risk Manager bank Mandiri cabang Bandung insial TKW, serta SBS dan FZ. Ketiganya merupakan pengusul perpanjangan kredit PT TAB.

“Ketiga tersangka sebagai pengusul yaitu FZ, SBS, TKW. Mereka pengusul perpanjangan dan tambahan kredit.

Peristiwa bermula pada tanggal 15 Juni 2015 saat RT mengajukan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit kepada PT Bank Mandiri (persero), Tbk Commercial Banking Center Cabang Bandung. RT meminta diberikan fasilitas perpanjangan seluruh fasilitas kredit modal kerja hingga 4 kali dengan total sebesar Rp 880,6 miliar.

RT juga meminta fasilitas perpanjangan dan tambahan plafon LC sebesar Rp 40 miliar sehingga total plafon LC menjadi Rp 50 miliar. Tak hanya itu, PT TAB juga meminta fasilitas kredit investasi yang kelima (baru) sebesar Rp 250 miliar selama 72 bulan.

Baca Juga :   Kabut Asap Masih Tebal, Sekolah Tetap Aktif

Permohonan kredit itu diduga menggunakan dokumen yang direkayasa seolah-olah dapat mampu membayar pinjaman. Selain itu, RT juga diduga menggunakan uang fasilitas kredit senilai Rp 73 miliar. Uang itu digunakan untuk kredit investasi, tetapi digunakan untuk hal lainnya.

“Bahwa Debitur PT Tirta Amarta Bottling Company juga telah menggunakan uang fasilitas kredit antara lain sebesar Rp 73 miliar semestinya hanya diperkenankan untuk kepentingan Kredit Investasi (KI) dan Kredit Modal Kerja (KMK), tetapi dipergunakan untuk keperluan yang dilarang dalam perjanjian Kredit,” ungkap Warih. (detik.com)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

JMSI NTB Dilantik, Pemprov Beri Apresiasi

Lombok Utara, KoranSN Pemerintah Provinsi NTB mengucapkan selamat atas dilantiknya Pengurus Daerah Jaringan Media Siber …