Kepala Dinas dan Bendahara PUBM Terancam Pidana (Sidang Kasus Yan Anton Ferdian)

Abi Hasan dan Bendahara Dinas PU Bina Marga Banyuasin, Reza Indriansyah saat kesaksiannya dikonfrontir dengan kesaksian Noor Yosept Zaath dan Defriyansyah di persidangan kasus Yan Anton Ferdian, Kamis (16/2).– foto Dedy/koransn

    KEPALA Dinas (Kadis) PU Bina Marga (BM) Banyuasin, Abi Hasan dan Bendahara Dinas PU Bina Marga Banyuasin, Reza Indriansyah, Kamis (16/2) terancam dijerat pidana keterangan palsu oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ancaman itu ditegaskan JPU KPK, Roy Riadi dalam sidangan terdakwa Yan Anton Ferdian (Bupati Banyuasin non aktif) di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Kelas I Palembang.

Hal tersebut terjadi, saat saksi Abi Hasan dan Reza Indriansyah mengungkapkan dalam persidangan jika semua proses lelang proyek-proyek di Dinas PU Cipta Karya dan PU Bina Marga Banyuasin semuanya telah sesuai prosedur.

“Sebelum saya menjabat sebagai Kepala Dinas PU BM memang saya menjabat sebagai Kepala PU CK. Selama itu semua proses lelang proyek di dinas yang saya pimpin, semuanya sesuai prosedur lelang,” ujar Kadis PU BM Banyuasin, Abi Hasan dalam kesaksiannya.
Selain itu, Abi Hasan mengaku tidak pernah menerima, meminta ataupun memberikan uang terkait proyek-proyek yang dimenangkan oleh para kontraktor.

Mendengarkan kesaksian Abi Hasan, JPU KPK mencecar pertanyaan kepada Abi Hasan terkait hutang Dinas PU CK senilai Rp 5,4 miliar yang disampaikan Abi Hasan kepada Noor Yosept Zaath saat baru menjabat sebagai Kepala Dinas PU CK Banyuasin.

“Dalam persidangan ini kami baru saja mendengarkan keterangan saksi Noor Yosept Zaath. Dalam keterangan saksi dibawa sumpah jika Dinas PU CK memiliki hutang Rp 5,4 miliar kepada rekanan. Kemudian saat saksi Abi Hasan pindah menjadi Kepala Dinas PU BM, saksi meminta Noor Yosept Zaath melunasinya dengan cara memberikan proyek sesuai di kopelan yang diberikan saudara kepada Noor Yosept Zaath,” jelas JPU KPK.

Menjawab pertannya tersebut, Abi Hasan menegaskan jika hal tersebut sama sekali tidak pernah terjadi. “Saya tidak pernah bilang seperti itu. Kalau hutang pemeliharaan proyek, itu memang ada. Namun hanya 5 persen,” jawab Abi Hasan.

Kemudian JPU KPK kembali melontarkan pertanyaan. Apakah saksi Abi Hasan dan Reza Indriansyah pernah melakukan pertemuan dengan Kepala Dinas PU CK, Noor Yosept Zaath dan stafnya  Defriyansyah di salah satu rumah makan di Jalan veteran Palembang. Dimana dalam pertemuan itu saksi Abi Hasan memberikan kopelan catatan hutan dinas dan juga tertera nama-nama kontraktor kepada Noor Yosept Zaath? Secara bergantian Abi Hasan dan Reza Indriansyah mengutarakan, jika mereka tidak pernah melakukan pertemuan tersebut.

“Tidak pernah ada pertemuan itu dan tidak ada pemberian kopelan itu,” ujar keduanya  secara bergantian.

Dikarenkan kedua saksi diduga tidak mau menjelaskan kesaksaian yang diketahui dalam persidangan, maka JPU KPK meminta Mejelis Hakim agar kembali menghadirkan Kadis PU CK Banyuasin, Noor Yosept Zaath dan staf di Dinas PU CK, Defriyansyah untuk mengkonfrontir keterangan saksi.

Baca Juga :   Polresta Palembang dan Polda Metro Jaya Ungkap Penyeludupan 40 Kg Sabu dan 40 Ribu Ekstasi

Di muka persidangan Noor Yosept Zaath dan Defriyansyah secara bergantian menjelaskan, jika pertemuan di salah satu rumah makan di Jalan Veteran itu memang ada. Dalam pertemuan itu Abi Hasan memberikan kopelan yang isinya tulisan hutan Dinas PU CK ke para kontraktor.

“Kami tetap pada kesaksian kami. Sebab, pertemuan itu memang terjadi. Bahkan dalam pertemuan tersebut, Abi Hasan menjelaskan, untuk melunasi hutang dinas Rp 5,4 miliar tersebut dilakukan dengan memberikan proyek kepada para kontraktor yang nama-namanya juga ada di kopelan tersebut,” terang Noor Yosept Zaath dan Defriyansyah secara bergantian.

Menanggapi hal tersebut, Abi Hasan dan Reza Indriansyah tetap mengutarakan jika mereka tidak pernah melakukan pertemuan itu. “Kami tidak pernah bertemu dan tidak ada pemberian kopelan itu,” ujar Abi Hasan dan Reza Indriansyah.

Lalu, JPU KPK menanyakan pemberian uang Rp 500 juta kepada Yan Anton, dimana dalam BAP berkas perkara dan barang bukti catatan terdakwa Kirman. Jika Abi Hasan yang diduga memberikan uang tersebut.

Usai mendengar pertanyaan JPU KPK, Abi Hasan mengungkapkan jika hal itu tidak ada. “Tidak ada itu, dan saya tidak pernah memberikan uang itu. Bahkan saya tidak pernah meminta dan menerima uang dari siapapun,” katanya.

Melihat saksi yang menyatakan tidak tahu sehingga membuat JPU KPK memperingatkan Abi Hasan terkait pidana keterangan palsu dimuka persidangan.

“Saya peringatan saudara. Di persidangan ini anda di sumpah, sebelum mendengarkan kesaksian dari saudara kami telah mendengarkan keterangan saksi lainnya. Jadi, kami mengancam saksi Abi Hasan maupun saksi Reza Indriansyah dengan Pasal 22 tentang pidana keterangan palsu di persidangan yang ancaman hukumannya minimal 3 tahun penjara dan masksimal 12 tahun penjara. Untuk itu, kami JPU KPK meminta Panitera persidangan mencatat kesaksian terdakwa dan meminta Mejelis Hakim mempertimbangankannya,” tegas JPU KPK Roy Riadi.

Setelah itu, JPU KPK kembali mengajukan pertanyaan kepada kedua saksi terkait barang bukti handphone milik terdakwa Rustami yang di dalamnya terdapat messenger (pesan) Whatsapp (WA) yang dikirim Abi Hasan dan Reza Indriansyah.

“Dalam messenger ini, terdakwa Rustami mempertanyakan pemintaan uang untuk Yan Anton. Kemudian Abi Hasan mengarahkannya kepada Reza Indriansyah. Lalu dalam WA Reza kepada Rustami, jika hal tersebut telah disampaikan Reza kepada Abi Hasan. Yang kami tanyakan, di WA tersebut terdapat foto kedua saksi, apakah WA tersebut memang milik saksi Abi Hasan dan saksi Reza,” tanya JPU KPK.

Kedua saksi menjawab secara bergantian. Awalnya Abi Hasan membantah jika WA tersebut miliknya. Namun setelah barang bukti diperlihatkan secara langsung barulah Abi Hasan mengakui jika WA itu adalah miliknya. “Saya menjawab WA Rustami itu karena saya nilai itu tidak sopan makanya saya arahkan ke Reza,” jawabya.

Baca Juga :   Hutang Pemprov Hampir RP 1,3 Triliun

Sedangkan saksi Reza Indriansyah awalnya juga mengatakan jika WA tersebut bukanlah miliknya. Bahkan saat JPU KPK menanyakan ada foto perempuan disalah satu teman chat di WA tersebut, apakah perempuan itu merupakan isteri Reza. Ketika itu Reza tampak diam sejenak. “Sepertinya itu foto isteri saya,” jawabnya.

Kemudian JPU menanyakan kembali maksud dari makna sepertinya foto itu isteri Reza. “Apakah saudara saksi tidak mengenal isteri sendiri,” tanya JPU.

Setelah dicecar JPU KPK barulah Reza mengutarakan jika WA tersebut memang miliknya. “Iya itu WA saya, tapi saya tidak pernah komunikasi dengan Rustami melalui WA tersebut,” jelasnya.

Dikarenakan kedua saksi terkesan tak membuka keterangan di persidangan maka JPU KPK kembali mengajukan pertanyaan. “Jadi yang saudara saksi tahu dalam perkara ini apa, tolong dijelaskan,” tegas JPU KPK.

Lagi-lagi, Abi Hasan dan Reza Indriansyah  mengutarakan, jika semua proyek di Dinas PU Bina Marga dan Dinas Cipta Karya (selama kepala dinasnya Abi Hasan) semuanya dilakukannya sesuai prosedur. Tidak ada pemberian fee maupun pemberian uang kepada Bupati.

Mejelis Hakim diketuai, Arifin SH MH dengan hakim anggota Paluko Hutagalung SH MH dan Haridi SH MH memvonis Zulfikar menguatarakan, dikarenakan kedua saksi tidak bisa menjelaskan kesaksiannya di muka persidangan. Maka hakim meminta JPU KPK untuk menghadirkan saksi lainnya, yang mengetahui apakah saksi Abi Hasan dan Reza Indriansyah memang tidak mengetahui atau keterangan keduanya palsu.

“Jadi, kami minta JPU KPK menghadirkan dulu saksi lainnya yang mengetahui, apakah kesaksian kedua saksi ini benar-benar tidak tahu atau hanya mengada-ngada. Karena keterangan kedua saksi tak bisa menjelaskan kesaksiannya maka persidangan ini kita tutup dan kita lanjutkan pekan depan,” tandas hakim.

Sementara Ketua Tim JPU KPK, Kresno Anto Wibowo SH MH mengungkapkan, untuk penerapan pidana keterangan palsu Abi Hasan dan Reza Indriansyah dalam persidangan akan ditindaklajuti pihaknya dengan melakukan kajian.

“Selain itu kita juga akan hadirkan, saksi-saksi yang mengetahui jika Abi Hasan dan Reza Indriansyah memang benar tahu perkara ini. Nanti setelah pemerisaan saksi dilakukan barulah kita ajukan ke penyidik untuk menindaklanjuti pidana keterangan palsunya. Atau bisa saja, Majelis Hakim yang nantinya menetapkan mereka sebagai tersangka keterangan palsu dalam persidangan,” ungkap Kresno. (ded)

Publisher : Ferdin Ferdin

Avatar
Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

Pasutri Jadi Pengedar Sabu

Palembang, KoranSN Pihak kepolisian Satres Narkoba dan Tim Hunter Sat Sabhara Polrestabes Palembang meringkus pasangan …