Kerinduan Seniman Bersemuka di Bumi

Muhamad Nasir. (foto-ist)

Meski terkendala protokol kesehatan, kreativitas dan imanjinasi seniman selama masa pandemi tak pernah padam. Tanpa panggung, tanpa pameran, dan tanpa penonton ‘nyata’ karya-karya mereka senantiasa hadir.

Seniman di Palembang pun, sepertinya baru saja merasakan panggung ekspresi yang digagas Dewan Kesenian Palembang (DKP) ketika pandemi merebak di kota pempek ini. Sepekan Seni: Ekspresi dan Apresiasi yang menampung seniman dari enam komite yang ada, tari, musik, film, teater, rupa, dan sastra telah melepaskan dahaga manggungnya. Lalu, Panggung Taman Ampera yang digagas bersama Dinas Pariwisata sempat berjalan tiga minggu dari 30 minggu rencana, harus dihentikan karena mematuhi maklumat pemerintah.

Selepas itu, hingga kini, aktivitas seni tatap muka memang vakum. Protokal kesehatan tak memungkinkan untuk mengumpulkan banyak orang atau membuat keramaian. Jalur daring pun dipilih sebagian seniman untuk tetap berekspresi.

Berbagai bidang kehidupan memang terdampak oleh wabah ini. Dunia berkesenian pun, termasuk bidang yang ikut terdampak. Semua aktivitas berkesenian menjadi terhenti. Meskipun, masih ada yang bertahan dengan kreativitasnya terbatas #dirumahsaja. Dengan memanfaatkan ranah daring. Setelah hampir setengah tahun dalam kondisi yang serba terbatas seolah terpasung, gelora kebebasan untuk berekspresi mendapat angin segar. Wacana kenormalan baru, memancarkan nuansa segar serba penuh harapan. Harapan yang membersitkan hal-hal baru. Tidak hanya bagi seniman di luar daerah, tetapi juga kalangan seniman di Palembang.

Karenanya, sesuatu yang baik tentu saja, jika DKP menggagas kegiatan yang bisa mengobati kerinduan seniman untuk berkreativitas. Sekaligus membahas berbagai persoalan terkait aktivitas berkesenian. Kegiatan ini rencananya dilaksanakan secara daring (virtual) dan tatap muka. Direncanakan dilaksanakan di Guns Café. Dengan menghadirkan narasumber dari praktisi, akademisi, pemerhati, dan pihak terkait lainnya. Masing-masing akan diupayakan mengupas tuntas persoalan di enam komite seni yang ada.

Seni Baru

Selama ini , pandemi sudah kerap melanda dan membuat kehidupan manusia pun menjadi berubah secara drastis. Termasuk dalam berkesenian. Kalau kita toleh ke belakang, dari Perang Dunia I dan Perang Dunia II bahkan sebelumnya, sudah ada pandemi seperti yang terjadi saat ini. Penyebabnya mungkin yang berbeda. Saat ini, Korona atau Covid 19 yang menyebar petaka.

Satu hal yang bisa menjadi catatan, setelah pandemi itu ternyata selalu muncul kesenian dalam bentuk-bentuk lain. Dalam berkesenian, relevansinya memang tidak lagi hanya melalui medium, tapi melihatnya secara garis besar. Bagaimana hasil dari perubahan bentuk-bentuk baru yang ditawarkan dalam logika kreatif atau kesenian. Bahwa logika-logika tersebut akan diperlihatkan melalui sudut pandang lain. Misalnya ketika kita membicarakan film, apakah film panjang yang relevan sekarang? Kalau situasi pandemi berkepanjangan, bukan tidak mungkin justru film-film pendek yang lebih diminati.

Baca Juga :   Pembebasan Lahan Rumah Pompa Mandeg

Ketika berbicara soal logika seni rupa, mungkin rasanya tidak akan ada lagi karya yang besar. Bukankah semua orang harus tinggal di rumah, mereka lebih memilih untuk membuat karya-karya kecil yang diramu secara digital atau bahkan langsung dibuat secara digital. Mungkin saja, ini nyata. Meskipun, di balik itu, bisa saja justru di kondisi lahir karya monumental.

Kalau balik lagi ke logika sejarahnya, sebetulnya kesenian itu sudah sering ditempa dengan hal-hal seperti pandemi dan bisa keluar dengan selamat. Karena mereka telah menemukan cara-cara lain.

Di Palembang, misalnya, Dulmuluk yang dulunya mentas di panggung, di era pandemi bermain di rumah. Racikan Wak Randi, Wak Dolah,dan Wak Soleh ini kemudian disiarkan di media-media sosial. Penyair, tak lagi berpuisi berpelantang di panggung. Cukup di rumah dan kemudian semuanya menyebar ke dunia tanpa batas di dunia maya. Melalui Channel Dangau Sastra, Komite Sastra DKP menghimpun dan merilis karya-karya penyair Palembang di Youtube.

Kupasan-kupasan dan analisis maupun kurator, tak mesti bersemuka. Cukup melalui sedaring (seminar daring). Dan semuanya pun berlanjut pada bidang-bidang seni lain. Di Yogyakarta, misalnya, Koperasi Seniman dan Budayawan Yogyakarta (Koseta) dan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) menggagas sebuah wadah untuk menciptakan eksistensi pekerja seni di tengah pandemi, yakni program Resoilnation. Pameran digagas secara digital.

Begitupun liukan tari, tak lagi memerlukan panggung yang membahana dengan tepukan tangan. Sonia, dari Komite Tari DKP, mendapat penghargaan dari Kemendikbud atas karyanya yang ditampilkan di daring. Penyanyi, tak lagi harus menjual suara di panggung-panggung yang diiringi jogetan pengunjung yang membahar andrenalin dengan musik-musik cadas, ataupun lagu-lagu sendu sekali pun. Juga yang melankolis dan bisa membawa pendengarnya terhanyut emosi.

Begitu pun penyair dengan letupan suara magisnya yang mengalirkan syair-syair yang keras, tegas, penuh kritik, atau sekadar menyurakan hati nurani yang terpendam, kini bisa membelah dunia melalui jaringan berkuota dan mengendarai gawai-gawai maupun telpon seluler. Tanpa panggung, tanpa tepukan tangan, kini tergantikan tayangan dan klik ‘suka’ ataupun komen-komen di laman-laman yang bebas berkeliaran di dunia maya.

Baca Juga :   Muslimin-Aufie Juarai Turnamen Tenis Meja Ratu Dewa Cup

Pun, sastra dan seni tradisional yang konon katanya sulit berkembang dan susah untuk mencari penggemarnya, kini bisa bersaing bebas dengan seni dan sastra modern. Tinggal kita mau atau tidak memuat konten tersebut. Banyak medsos pilihan yang memberi dan membuka pintunya untuk unggahan karya.

Pandemi dengan protokol kesehatannya, memasung kreativitas secara fisik. Namun itu tidak bisa membatasi kreativitas. Meski wilayah daring yang membebaskan publikasi tanpa batas dan melewati sekat-sekat waktu maupun geografis, para seniman sudah rindu ingin manggung lagi. Ingin menari, menyanyi, berpuisi, membuat film, bermandikan cat, dan memecahkan gendang telinga penonton dengan teriakan akting di panggung yang lembut dan bisa membawa imajinasi terbang bersama peran.

Absen berkesenian secara tatap muka selama masa pandemi, membuat rasa rindu membuncah di dada para seniman. Termasuk pelaku seni di Palembang, tentu saja. Buncahan kerinduan itu tak pelak direspon DKP. Sebuah gagasan untuk bersilaturahmi di pengujung masa pandemi pun terlontarkan. Tentu saja, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Menurut Sekretaris Pelaksana, Gaung Antrasita, melalui Silaturahm-Gelar Karya Seniman Kini dan Nanti: Iklim Kesenian Menuju Kenornalam Baru, pihaknya dari DKP mencoba menggambarkan kondisi yang dialami dan bagaimana pelaku seni menyiasati dan bertahan di era pandemi. Lalu, memberikan pemetaan dan menggali rekomendasi terhadap berbagai stake holder sehingga bisa dijadikan bahan masukan dalam melangkah bersama.

Banyak harapan yang bisa terdokumentasi dari kegiatan silaturahmi dan gelar karya ini. Bukan tidak mungkin, dari situ kita bisa mengetahui bahwa kesenian telah berubah. Pandemi mungkin saja telah ‘memaksa’ wajah kesenian berubah menjadi sesuatu bentuk baru. Paling tidak, keinginan seniman bersemuka dengan penikmatnya di bumi, bisa terealisasi.

Palembang, 19 Juli 2020
Muhamad Nasir
Pelaku Seni dan Anggota Komite Sastra DKP

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Butuh Lima Kendaraan Dinas, Bawaslu Palembang Minta Bantuan ke Pemkot

Palembang, KoranSN Guna memaksimalkan kinerja selaku badan pengawasan, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kota Palembang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.