Home / Lacak / KPK: Pahri Azhari dan Lucianty Pelaku Utama Pemberi Suap

KPK: Pahri Azhari dan Lucianty Pelaku Utama Pemberi Suap

 foto-Ferdinand/koran-sn
Pahri Azhari dan Lucianty saat mengikuti persidangan Tipikor di PN Palembang beberapa waktu lalu. foto-Ferdinand/koran-sn

Palembang, KoranSN
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Wawan Yunarwanto kemarin mengatakan, dalam dugaan kasus suap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kepala Daerah Muba tahun 2014 dan pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Muba tahun 2015, KPK menilai jika terdakwa Pahri Azhari dan Lucianty pelaku utama pemberi uang suap ke DPRD Muba.

Menurutnya, fakta persidangan telah terungkap jika pemberian uang suap tahap pertama Rp 2.650.000.000 (uang suap yang telah habis dibagikan kepada anggota DPRD Muba), tahap kedua Rp 200 juta (untuk empat mantan pimpinan DPRD Muba), dan tahap ketiga Rp 2.560.000.000 (barang bukti OTT KPK) yang semuanya merupakan uang bagian dari uang suap konsisten dari total Rp 17,5 miliar, diberikan terdakwa Pahri Azhari dan Lucianty ke DPRD Muba melalui terpidana Syamsudin Fei (mantan Kepala DPPKAD Muba) dilakukan terdakwa dengan kesadaran.

“Dari itulah dalam perkara ini terdakwa Pahri Azhari dan Lucianty merupakan pelaku utama pemberi uang suap ke DPRD Muba.
Fakta persidangan telah terungkap fakta-faktanya bahkan terdakwa Pahri telah mengaku bersalah, sedangkan terdakwa Lucianty telah mengaku menyesal meminjamkan uang tahap pertama dan kedua kepada Syamsudin Fei yang faktanya, uang yang dipinjamkan tersebut digunakan untuk uang suap ke DPRD Muba,” katanya.

Masih dikatakan Wawan Yunarwanto, terkait fakta pemberian uang suap ke DPRD Muba, sejak awal kedua terdakwa mengetahui bahkan keduanya tahu jika pemberian uang suap itu dilarang. Tapi kenyataanya keduanya tetap melakukannya, oleh karena itu dalam perkara ini Pahri dan Lucianty bersalah.

“Kan sejak awal telah ada pemberitahunan dari Bambang Kariyanto dan Syamsudin Fei (terpidana) yang menyampaikan kepada Pahri dan Lucianty jika DPRD Muba meminta uang. Di persidangan terdakwa memang memiliki hak ingkar atau tidak mengakui, namun Mejelis Hakim dan JPU kan dapat menilai dari keterangan saksi lainnya yang telah disumpah serta berdasarkan fakta persidangan. Jadi dalam perkara ini, secara tidak langsung terpidana Syamsudin Fei mengumpulkan uang suap itu ada perintah dari terdakwa Pahri,” tegasnya.

Baca Juga :   Pemilik Paket Ganja Melarikan Diri Saat Dilakukan Penggeledahan

Lebih jauh diungkapkannya, berdasarkan keterangan saksi, fakta persidangan, serta pengakuan dari terdakwa Pahri di persidangan. Awalnya memang Pahri menyampaikan kepada seluruh SKPD di Pemkab Muba untuk tidak memberikan uang suap kepada DPRD. Tapi pada akhirnya Pahri sendiri yang tidak konsisten hingga memerintahkan Syamsudin Fei memberikan uang suap tersebut.

“Jadi kami nilai tidak ada tekanan dalam dugaan kasus ini. Karena terdakwa dengan sadar memberikan uang suap kepada DPRD sebab jika memang tertekan, selaku bupati terdakwa Pahri kan memiliki pilihan untuk tidak memberikan uang suap itu, karena itukan dilarang oleh undang-undang,” jelasnya.

Dilanjutkan Wawan Yunarwanto, dari itulah dalam perkara ini terdakwa Pahri dan Lucianty didakwa JPU KPK dengan Pasal 5 dan Pasal 12 UU Tipikor.

“Sedangkan untuk tuntutan kedua terdakwa kini tegah kita siapkan. Pada sidang Kamis mendatang (14/4) tuntutan kedua terdakwa akan kita bacakan di persidangan PN Tipikor Kelas I Palembang,” tandasnya.

Sebelumnya dalam persidangan, Pahri telah mengaku meminta bantuan kepada Kepala Dinas PU BM dan Kepala Dinas PU CK Pemkab Muba, agar membantu mengumpulkan uang sebesar Rp 2 miliar yang digunakan untuk uang suap ke DPRD Muba tahap ketiga dengan total Rp 2.560.000.000 (barang bukti OTT KPK).

Dikatakannya, saat itu Syamsudin Fei (mantan Kepala DPPKAD Muba yang merupakan salah satu terpidana) datang ke rumah. Kepadanya, Syamsudin Fei menyampaikan jika DPRD meminta uang suap untuk pengesahan LKPJ.

“Kata Syamsudin Fei, apabila uang suap itu tak diberikan maka DPRD akan melakukan hak interplasi serta memakzulkan (memberhentikan) jabatan saya sebagai bupati. Hingga akhirnya saya menuruti saran Syamsudin Fei memanggil Kepala Dinas PU BM dan PU CK. Saat kedua kepala dinas datang lalu saya sampaikan agar mereka dapat membantu memberikan uang Rp 2 miliar ketika itu saya mengatakan ‘tolong jika bisa dibantu ya dibantu’. Saya lakukan itu karena panik dan tertekan. Saya akui saya bersalah karena hal itu melanggar hukum, saya menyesal yang Mulia Majelis Hakim. Sedangkan untuk mencukupi uang tahap tiga, Syamsudin Fei meminta bantuan kepada Kepala Dinas Pendidikan,” katanya di persidangan.

Baca Juga :   Diduga Terbakar Api Cemburu, Pacar Sekap dan Siksa Kekasih

Diketahui, dalam dugaan kasus ini Pahri Azhari dan Lucianty ditetapkan sebagai tersangka, Jumat 14 Agustus 2015 lalu, kemudian, Jumat 18 Desember 2015 keduanya dijebloskan KPK ke Rutan Polda Metro Jaya.

Penetapan tersangka kepada Pahri dan Lucianty yang kini keduanya telah menjadi terdakwa merupakan hasil pengembangan penyelidikan dan penyidikan dari tersangka Syamsyudin Fei (mantan Kepala DPPKAD Muba), Faisyar (mantan Kepala Bappeda Muba), Bambang Kariyanto, dan Adam Munandar (mantan Ketua Fraksi Partai di DPRD Muba), yang keempatnya telah divonis Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tipikor Palembang, diketuai Parlas Nababan.

Di persidangan, Syamsyudin Fei dan Faisyar masing-masing divonis hakim pidana penjara 2 tahun 6 bulan dan denda Rp 50 juta.     Sementara Bambang Kariyanto divonis pidana penjara 5 tahun, sedangkan untuk Adam Munandar divonis hakim pidana penjara 4 tahun. Bahkan Bambang dan Adam juga didenda Rp 200 juta atau subsider tiga bulan kurungan penjara.

Selain Pahri dan Lucianty, KPK juga telah menetapkan empat mantan pimpinan DPRD Muba; Riamon Iskandar (Ketua DPRD), Darwin AH, Islan Hanura, Aidil Fitri (ketiganya merupakan Wakil Ketua DPRD). Keempatnyapun kini juga telah menjadi terdakwa dan tengah menjalani persidangan di PN Tipikor Palembang.

Dugaan kasus suap Muba ini terungkap, saat KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di kediaman Bambang Kariyanto (terpidana) di Jalan Sanjaya Kecamatan Alang-Alang Lebar Palembang, Jumat 19 Juni 2015 pukul 21.00 WIB.

Selain Bambang dalam OTT tersebut tim penyidik KPK juga mengamankan Adam Munandar, Syamsyudin Fei, dan Faisyar (terpidana).

Saat melakukan penangkapan OTT di lokasi tim penyidik KPK berhasil mengamankan barang bukti, sebuah tas berwarna merah marun yang berisi uang suap senilai, Rp 2.560.000.000. (ded)

Publisher : Ferdin Ferdin

Avatar
Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

70 Korban Selamat KM Santika Tiba di Surabaya

Surabaya, KoranSN Sebanyak 70 korban selamat dari Kapal Motor (KM) Santika Nusantara yang terbakar di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.