Leni Menangis Histeris dan Lemas Melihat Jenazah Suami dan Putrinya

Leni Herlina menangis dan lemas usai melihat jenazah suami dan putrinya. (foto-dedy/koransn.com)

Palembang, KoranSN

Air Mata Leni Herlina (26), tak terbendung saat melihat jenazah suaminya Mulyono (27), dan putri pertamanya Bunga (9), terbujur kaku di ruang Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Palembang, Kamis siang (4/1/2018). Bahkan tubuh Leni terlihat lemas dan berjalan dengan dipapah oleh keluarganya.

Diketahui Mulyono dan Bunga merupakan korban Kapal Motor (KM) merek Awet Muda tujuan Primer 2 Karang Agung Muba – Palembang yang tenggelam di perairan Tanjung Serai Bagan 13 Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin.

“Itu suami dan anak saya, keduanya meninggal dunia,” kata Leni menangis histeris.

Pihak keluarga yang tak kuasa melihat Leni terus menangis terisak-hiak terus mencoba menenangkannya. Kemudian Leni dibawa olah keluarganya ke ruangan tunggu di lantai dua Rumah Sakit Bhayangkara Palembang.

Kepada sejumlah wartawan Leni menjelaskan, sebelum kejadian dirinya sempat menelpon suaminya yang saat itu sedang berada di dalam kapal bersama anaknya Bunga menuju Palembang.

“Aku cemas, ngapo suami samo anak aku belum sampe rumah. Biasanyo, kalau balek ke Palembang jam 4 sore lah sampe rumah, dari itulah aku nelpon HP (handphone) suami aku. Ketika itu telpone diangkat, aku tanyo kok lamo sampe rumah, kata suami aku masih di kapal. Kemudian aku tanyo sudah makan belum, lalu suami aku jawab, katonya dio samo anak aku paginya sudah makan nasi goreng,” ungkapnya.

Masih dikatakannya, kecemasannya semakin bertambah ketika malam semakin larut namun suami dan putrinya juga belum sampai rumah.

Baca Juga :   Siswi SMA Tewas Tenggelam di Sungai Sungsang

“Tiba-tiba malam harinyo, barulah kami dapat kabar duka ini,” ujarnya.

Sementara Wagino (40), paman korban Mulyono mengungkapkan, beberapa hari sebelum kejadian, Mulyono bersama isteri dan dua anak korban yakni, Bunga dan Ludi (6) pergi ke Karang Agung Muba untuk berjualan di pasar kalangan yang ada di sana.

“Tapi, isteri dan anaknya yang nomor dua yakni Ludi, pulang ke Palembang lebih dulu. Sementara Mulyono, masih jualan di pasar kalangan menghabiskan dagangan. Dikarenakan Bunga masih mau ikut dengan Mulyono sehingga Bunga tidak ikut pulang ke Palembang. Dari itulah isteri dan anak bungsu korban selamat, karena saat kejadian pulang lebih dulu dengan kapal yang berbeda,” ujarnya.

Diungkapkannya, jika Mulyono sudah satu tahun belakangan ini menjadi pedagang di pasar kalangan yang berada di Karang Agung. Biasanya, Mulyono berangkat dari Palembang hari minggu atau senin, kemudian pulang ke Palembang setiap hari Kamis dan Jumat.

“Tapi saat berangkat kemarin masih suasana liburan, makanya korban mengajak isteri dan kedua anaknya. Kami juga tidak menyangka jika korban dan anaknya Bunga akan pergi secepat ini, mungkin ini sudah musibah,” ungkapnya.

Sedangkan Iskandar (25), salah satu penumpang Kapal Motor Awet Muda yang selamat saat berada di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang mengutarakan, dirinya bisa selamat setelah ia bersama beberapa penumpang lainnya memeluk jerigen dan gentong plastik yang berada di kapal tersebut.

“Kapal itu tenggelam setelah dua kali diterjang ombak setinggi sekitar satu meter setengah. Ketika kapal tenggelam, saya dan beberapa penumpang memeluk jerigen dan gentong plastik tempat bahan bakar kapal, sehingga kami terampung-ampung sekitar 20 menit lebih di tengah sungai yang sangat luas,” jelasnya.

Baca Juga :   2,7 Kg Sabu Senilai Rp 2 Miliar Lebih Gagal Beredar

Menurutnya, saat kejadian semua penumpang panik dan berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Bukan hanya itu, banyak terdengar jeritan para penumpang yang meminta tolong.

“Tak lama kemudian, ada dua perahu nelayan yang mendekat dan menolong kami. Setelah itu saya minta diantarkan ke pos kepolisian terdekat untuk melaporkan kejadian tersebut. Setiba di pos polisi dan melapor, selanjutnya saya tidak tahu lagi. Sebab usai melapor, polisi dan nelayan yang mengantar saya tadi langsung menuju lokasi kejadian. Sementara saya langsung pulang,” katanya.

Dilanjutkannya, saat kejadian dirinya hendak ke Palembang ke rumah kakaknya yang berada di kawasan Perumnas Sako.

“Saya ini bekerja sebagai TKS (tenaga sukarela) di kantor Dishub yang berada di Karang Agung. Ketika kejadian saya ke Palembang mau berkunjung ke rumah kakak, namun saat kapal yang saya tumpangi berada di lokasi kejadian, kapal tenggalam usai diterjang ombak,” tutupnya. (ded)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

KPK Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Mesin Giling PG Djatiroto

Lumajang, KoranSN Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut kasus dugaan korupsi pengadaan mesin giling di Pabrik …