Home / Headline / Luci: Demi Allah Saya Tidak Menawar Uang Suap

Luci: Demi Allah Saya Tidak Menawar Uang Suap

Terdakwa Lucianty saat tiba di PN Tipikor Palembang
Terdakwa Lucianty saat tiba di PN Tipikor Palembang. FOTO-FERDINAND-KORANSN

Palembang, KoranSN

Terdakwa Lucianty, isteri Bupati Muba non aktif Pahri Azhari, Rabu (13/4/2016) mengungkapkan, jika dirinya tidak pernah sama sekali menawar uang suap Rp 20 miliar yang diminta oleh DPRD Muba.

Hal itu ditegaskan Lucianty dalam persidangan dugaan kasus suap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kepala Daerah Muba tahun 2014 dan pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Muba tahun 2015 di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Kelas I Palembang saat menjadi saksi empat terdakwa mantan pimpinan DPRD Muba yakni; Riamon Iskandar (mantan Ketua DPRD Muba), Aidil Fitri, Islan Hanura dan Darwin AH (mantan wakil Ketua DPRD Muba).

Menurut Lucianty, pada bulan Februari 2015 terpidana Syamsudin Fei (mantan Kepala DPPKAD Muba), Faisyar (mantan Kepala Bappeda Muba) dan Bambang Kariyanto (mantan Ketua Fraksi DPRD Muba) datang ke rumahnya di Jalan Kartini Palembang. Ketika itu, Syamsudin Fei menunjukan kertas bertuliskan uang Rp 20 miliar yang merupakan uang suap permintaan DPRD Muba.

“Waktu mereka datang saya sedang Sholat Isya. Selesai Sholat saya lihat bapak (Pahri Azhari) tidak ada di kamar, lalu
saya keluar, ketika itu saya lihat bapak sedang bersama mereka (Syamsudin Fei, Faisyar dan Bambang Kariyanto). Kemudian saat saya bergabung untuk mengobrol, bapak pergi meninggalkan kami untuk Sholat Isya. Disaat itulah Syamsudin menyampaikan kepada saya permintaan uang Rp 20 miliar itu, karena saya menolak jadi saya mengatakan kepada mereka ‘gilo alangke banyaknya’. Mendengar perkataan saya, mereka langsung pergi. Jadi demi Allah, saya tidak pernah menawar uang suap Rp 20 miliar, seperti kesaksian Bambang yang mengatakan saya membuat kopelan menawar uang suap menjadi Rp 13,8 miliar, itu tidaklah benar,” tegas Lucianty.

Masih dikatakannya, jika tulisan nominal uang di dalam kertas yang ditunjukan Syamsudin Fei kepadanya merupakan ketikan komputer dan diprint. Dikarenakan dirinya tidak mengenakan kaca mata sehingga Lucianty mengaku, saat itu ia tidak terlalu jelas milihat rincian-rincian tulisan yang tercantum dalam kertas tersebut.

Baca Juga :   Mencuri HP Tetangga, Taher Ditangkap Polisi

“Yang jelas terlihat hanya tulisan Rp 20 miliar, karena dilingkari dengan pulpen. Sembari menyodorkan kertas itu Syamsudi Fei mengatakan kepada saya, katanya uang itu permintaan DPRD untuk pengesahan APBD Muba tahun 2015. Tapi dalam pertemuan itu tidak ada kesepakatan, mereka pergi saat saya mengungkapkan alangke banyaknyo,” paparnya.

Setelah pertemun itu, lanjut Lucianty, tanggal 17 Maret 2015, Syamsudin Fei datang menemuinya di rumah dinas di Muba. Kala itu Syamsudin Fei datang mengenakan kemeja hijau membujuk dan mendesaknya untuk meminjam uang Rp 2.650.000.000 (uang suap tahap satu telah habis dibagikan kepada anggota DPRD Muba).

“Saya terus didesak dan dibujuk Syamsudin Fei, katanya¬† jika DPRD Muba tidak diberi uang maka APBD tidak akan dibahas hingga berdampak ribuan TKS, pegawai honorer, dan 240 Kades di Muba tidak bisa dibayarkan gajinya. Bahkan kata Syamsudin Fei, hal itu akan berdampak demo yang dilakukan TKS, pegawai honorer, dan Kades kepada suami saya. Memang saya bukan bagian dari pemerintah di Pemkab Muba tapi sebagai seorang isteri bupati saya tak ingin suami saya di demo, dari itu saya meminjamkan uang itu apalagi kata Syamsudin Fei nanti uangnya akan dilunasi dengan cepat,” jelasnya.

Diungkapkan Lucianty, uang suap tahap satu  Rp 2.650.000.000 didapatkannya dari usaha SPBU, butik, dan barang antik miliknya. Setelah uang terkumpul, Syamsudin Fei mengambilnya di kediamannya di Jalan Kartini Palembang.

“Setelah uang tahap pertama itu diserahkan, taklama kemudian ternyata Syamsudin Fei kembali meminta uang Rp 200 juta (untuk empat mantan pimpinan DPRD Muba). Saat itu saya marah, dan mengatakan kok minjam uang lagi, yang kemarin saja belum di pulangi. Syamsudin Fei kembali mendesak saya, katanya jika uang tahap dua tak diberikan maka pengesahan APBD tak akan ditandatangani oleh pimpinan DPRD. Karena saya tebujuk hingga akhirnya saya memberikan uang tersebut. Sedangkan untuk uang suap tahap ketiga (Rp 2.560.000.000 barang bukti OTT KPK) awalnya saya tidak tahu sumbernya dari mana. Setelah terjadi OTT barulah saya tahu dari pemberitaan di media yang mengatakan jika uang tahap ketiga dari Dinas PU CK, Dinas PU BM, dan Dinas Pendidikan,” ujarnya.

Baca Juga :   Tegakan Hukum Secara Maksimal Kepada Para Pelaku Kasus Karhutla

Setelah mendengarkan kesaksian Lucianty, Mejelis Hakim yang diketua Parlas Nababan mengajukan pertanyaan. Dikatakan hakim, jika tak tertangkap KPK bagaiman cara Syamsudin Fei mengembalikan uang yang dipinjamnya?

Diungkapkan Lucianty, dirinya tidak mengetahui hal itu bahkan hingga kini uang yang dipinjamkannya ke Syamsudin Fei belum dikembalikan.

“Saya tidak tahu Pak hakim bagaimana cara Syamsudin Fei mengembalikan uang yang dipinjamnya. Saya meminjamkan uang itu karena saya takut jika APBD Muba tak disahkan maka suami saya
akan didemo,” tandasnya.

Pantauan di lapangan, tidak seperti sidangan sebelumnya, Lucianty yang tengah menderita sakit jantung dan ganguan ginjal hadir di persidangan dengan dibawa mengendarai ambulan lalu masuk ke ruang sidang menggunakan kursi roda.

Kemarin, Lucianty yang dihadirkan JPU KPK untuk menjadi saksi mantan empat pimpinan DPRD Muba ini tampak hadir mengendarai mobil PN Palembang dan tanpa kursi roda.

Hanya saja, di tangan kanan Lucianty masih terlihat perban bekas luka infus. (ded)

Publisher : Fitriyanti

Avatar

Lihat Juga

Warga Rantau Bayur Banyuasin Tewas dengan Luka Bacok dan Tembakan

Banyuasin, KoranSN Bani (45), warga Desa Rantau Bayur Kecamatan Rantau Bayur Kabupaten Banyuasin ditemukan tewas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.