Lupus Bukan Akhir Dari Segalanya

Ketua Stikes Muhaamadiya Palembang, Ketua PLSS Palembang, Ketua Odapus Indonesia, bersama mahasiswa Stikes dan Odapus berfoto usai Gathering di Punti Kayu. (foto-ferdinand/koransn.com)

Palembang, KoranSN

Mungkin semua orang belum familiar dengan Penyakit Lupus, penyakit yang belum bisa dipastikan apa penyebab timbulnya dan belum ada pengidapnya yang sembuh total, meskipun sudah menjalani pengobatan jenis apapun. Namun, Lupus bukan akhir dari segalanya walaupun seseorang sudah divonis positif menderita penyakit ini oleh dokter medis.

Ketua Yayasan Lupus Indonesia (YLI), Tiara Savitri mengatakan, pengidap Lupus bisa dikatakan Odapus (Orang Dengan Lupus). Jadi, Odapus tidak mau dibilang penderita melainkan bersahabat dengan Lupus. Untuk itulah Odapus harus tetap semangat dan sabar dalam menghadapi semuanya.

“Bersahabat dengan Lupus bukan berarti hidup kita akan berakhir, itu hanya ungkapan orang yang putus asa. Sebagai pengidap Penyakit Lupus, tindakan yang dianggap ekstrim pun bisa dilakukan, seperti naik gunung, apalagi kegiatan yang bersifat biasa. Saya pernah mendaki 12 gunung yang tinggi termasuk Himalaya dengan tiga sahabat Lupus lainnya. Saya juga Alhamdulillah sudah dikaruniai seorang anak, meskipun kebanyak penderita Lupus sangat berbahaya apabila melahirkan,” ungkap Tiara saat acara Gathering Odapus dalam rangka memperingati World Lupus Day 2017 di Taman Punti Kayu Palembang, Minggu (9/7/2017).

Menurutnya, acara yang diadakan oleh Persatuan Lupus Sumatera Selatan (PLSS) dan difasilitasi Stikes Muhammadiyah Palembang
dengan tema “Dukungan dan Peningkatan Kwalitas Hidup Odapus” sangat bermanfaat untuk dijadikan edukasi. Misalnya menjalani pola hidup sehat, seperti olahraga setiap hari dengan jalan cepat minimal 30 menit dan perbanyak konsumsi buah-buahan minimal 3 kali sehari, dan inilah hal yang wajib dilakukan setiap harinya.

Ia menambahkan, terkena Lupus bisa dikarenakan berbagai faktor, seperti lingkungan, hormonal dan genetik. Jadi, kunci dari Odapus itu harus sabar, yang harus sabar bukan hanya Odapus saja melainkan didukung dengan lingkungan sekitarnya, misalnya keluarga. Dimana dalam satu keluarga juga harus sabar menghadapi Odapus.

Baca Juga :   10 Persil Lahan Belum Dibebaskan, Ditarget Selesai Bulan Ini

“Setiap orang punya bakat Lupus, tinggal ada atau tidaknya gen tersebut. Jangan mendengar insprirasi dari saya saja, tapi lihat diri kita. Jangan pernah ada kata tidak, seperti tidak bisa, tidak mungkin dan tidak mau, semua itu harus dihilangkan setelah kegiatan ini,” jelasnya.

Masih kata Tiara, Lupus kemungkinan tidak bisa disembuhkan namun bisa diremisi dengan dosis rendah, jadi bukan sembuh total melainkan terkendali. Pengobatannya dilakukan secara medis, selain itu penderita Lupus harus tetap dalam pengawasan dokter. Jadi, tidak bisa lepas pengobatannya oleh dokter medis.

“Pencegahan bisa dilakukan dengan menjalani pola hidup secara sehat, Lupus menyerang ke semua multy organ seperti; jantung, darah, hati, ginjal dan sendi. Odapus tetap bisa hidup seperti orang normal lainnya, dia bisa beraktivitas, berolahraga, bahkan juga bisa mempunyai anak dan sebagainya. Jadi, tidak ada yang perlu ditakuti ketika kita dinyatakan positif Lupus,” tandasnya.

Sementara, Ketua Persatuan Lupus Sumatera Selatan (PLSS), Al Nita menuturkan, menderita penyakit sangatlah tidak menyenangkan, apalagi harus diderita seumur hidup, penderita Odapus itu sangatlah menyakiktkan. Untuk itu perlu dukungan terhadap orang terdekat, apalagi sama-sama dengan orang penderita Odapus.

“PLSS terbentuk pada tahun 2006 lalu di Rumah Sakit Muhammad Husin (RSMH) dan sekarang anggotanya berkisar 350 orang dari Sumbagsel seperti, Bangka dan Jambi serta kabupaten di Sumsel. Dalam memperingati hari Lupus sedunia ini kita juga pernah mengadakan kegiatan dalam tiga tahun sekali, seperti pada tahun 2011, 2014 dan sekarang tahun 2017. Bahkan kedepannya kita akan mengadakan satu tahun sekali dengan mengadakan kegiatan seperti bakti sosial (Baksos), pertemuan rutin, kunjungan ke rumah sakit, dan apabila memungkinkan kita juga akan melakukan kunjungan ke rumah pasien,” jelasnya.

Baca Juga :   Pilgub 2018, Aswari Bergantung Hasil Survei

Di tempat yang sama, Ketua Stikes Muhammadiyah Palembang, Sri Yulia mengatakan, Stikes Muhammadyah hanya memfasilitasi untuk kegiatan sosial berupa pemeriksaan kesehatan sedangkan pesertanya diikuti dari berbagai daerah kabupaten di Sumsel yang berjumlah berkisar 100 peserta. Namun yang paling banyak dari daerah Palembang.

“Kegiatan ini dilakukan selama dua hari yakni; hari ini (kemarin) dan besok seminar di Bapelkes. Kegitan seperti ini dilakukan setiap tahun dengan rangkaian yang berbeda-beda. Dalam kegiatan ini adapun acara yang kita lakukan diantaranya; senam bersama dilanjutkan games dan pemeriksaan kesehatan, seperti cek darah, tensi, psikoterapi yang diperiksa oleh mahasiswa dari Stikes Muhammadiyah Palembang didampingi oleh para dosen. Dalam pemeriksaan ini, kita hanya mengecek secara umum bukan untuk mendeteksi gejala Lupus. Ini merupakan kegiatan kita yang pertama kali di Sumsel,” tandasnya. (rgn)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Diresmikan MenPAN-RB, Palembang Miliki Mall Pelayanan Publik

Palembang, KoranSN Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia (MenPAN-RB), Tjahjo Kumolo hadir …