‘Manisnya’ Batubara di Lahat Hanya Sesaat

ilustrasi truk batubara
HANYA sesaat saja masa kejayaan  dari eksplorasi batubara di Lahat. Sesudahnya banyak pemilih KP dan pengelola tambang yang tak beroperasi. Hal ini bisa jadi disebabkan terlalu banyak permasalahan dan konflik dengan masyarakat.

Mulai dari protes warga karena kerusakan lingkungan, truk batubara yang melintas makin banyak, sampai kepada permasalahan konflik lahan.

Mengapa permasalahan dan konflik banyak tanpa penyelesaian yang baik? Ini disebabkan sejak pertamakali batubara Lahat diekplorasi, diduga tak mematuhi aturan yang ada. Pengerukan bahan galian tambang di Lahat yang sudah berjalan lebih dari lima tahun akhirnya menuai masalah yang sampai pada klimaknya.

Bila kita cermati, masalah utamanya ada setelah keluhan warga dan pengguna jalan yang sudah sangat tersiksa dengan kemacetan yang makin parah. Temun terakhir dari Kantor Pajak Sumsel  Babel, banyak perusahaan batubara justeru terdaftar di Jakarta, hingga otomatis pajaknya tak dinikmati Pemerintah Daerah Lahat.

Tak hanya itu, sepanjang  pengerukan batubara di Lahat begitu banyak masalah yang timbul. Kita ulas sedikit, sejak jalur jalan raya distop total untuk jalur angkutan batubara, rupanya masalah tak selesai. Karena masalah lain kini muncul, karena ternyata lingkaran  ekonomi dari eksplorasi tambang sudah terjadi.

Baca Juga :   Setya Novanto dan Banyaknya Kasus Korupsi di Negeri Ini

Kalau kita ingat dan mungkin saja masih terjadi sampai saat ini, terus melintasnya truk batubara di jalur jalan Lahat-Palembang membuat semua orang mengerutkan kening. Karena tak henti diprotes warga, tak henti juga truk tersebut beroperasi.

Jelas saja, kerugian dirasakan karena kemacetan yang berjam-jam di jalur tersebut. Hal ini otomatis membuat jalan makin rusak. Lobang besar terlihat dimana-mana, banyak posisi jalan yang pecah, bergelombang. Bahkan ada posisi jalan yang turun dan terbis karena tak kuat menahan dan menopang beban yang berat.

Bagi pemerintah ini sangat terasa merugikan, karena perbaikan jalan  terus menerus dilakukan. Sedangkan bagi pengguna jalan, jelas perjalanan menjadi terganggu karena jalan yang rusak.

Dengan cooling down-nya operasi batubara di Lahat saat ini, semoga saja semua pihak bisa berpikir jernih. Bagaimana untuk kedepan, bagaimana baiknya eksplorasi batubara ini. Kalau jalur pengangkutannya masih menggunakan jalan raya, tetap saja protes akan terus ada. Karena disinilah benang merah permasalahannya.

Baca Juga :   Masih Menunggu Perubahan Negeri

Harus ada solusi yang tegas dan ditegakkan. Jangan karena banyaknya kepentingan yang sudah masuk ke dalam sistem ekonomi, lalu mengorbankan kepentingan banyak orang. Tak mungkin pemerintah daerah harus terus menerus memperbaiki jalan yang rusak. Kemudian, apakah selamanya rakyat akan tersiksa dengan kerusakan jalan.

Sesuai amanat UUD 1945 agar bahan galian dimanfaatkan sebaik-baik untuk kesejahteraan rakyat akan tercapai, kalau semuanya dilakukan dengan benar dan koridornya. Jauhkan kepentingan pribadi atau golongan untuk memanfaatkan bahan galian dan tambang, Bumi Indonesia yang kaya harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Bila berpegang ke hal ini,  Insyaallah  akan tercapai cita-cita, bahan galian dimanfaatkan secara maksimal. (***)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Ferdin Ferdin

Avatar
Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

COVID-19 Masih Memerlukan Perhatian yang Tinggi

  DI penghujung tahun 2020, permasalahan COVID-19 masih memerlukan perhatian yang tinggi, walaupun secara umum …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.