Home / Headline / Mantan Ketua dan Wakil DPRD Muba Menangis

Mantan Ketua dan Wakil DPRD Muba Menangis

islan Hanura
MENANGIS-Tampak terdakwa penerima suap Muba, mantan Wakil Ketua DPRD Muba, Islan Hanura  menangis dipersidangan. FOTO FERDINAND/KORANSN

 

Terdakwa Riamon Iskandar saat menangis di persidangan suap Muba
MENANGIS-Tampak terdakwa penerima suap Muba, mantan Ketua DPRD Muba, Riamon Iskandar menangis dipersidangan. FOTO FERDINAND/KORANSN

Palembang,  KoranSN

Mantan Ketua DPRD Muba Riamon Iskandar dan wakilnya Islan Hanura, Rabu (13/4/2016) menangis dalam sidangan di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Kelas I Palembang.

Keduanya menangis dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan keterangan terdakwa Riamon Iskandar, Aidil Fitri, Islan Hanura dan Darwin AH yang merupakan mantan ketua dan tiga Wakil Ketua DPRD Muba.

Dalam keterangannya terdakwa Riamon Iskandar mengatakan, jika dirinya memang telah menerima uang bagian dari uang suap tahap satu dan tahap dua, dalam rangka pengesahan APBD dan LKPJ Pemkab Muba.

“Kalau uang tahap satu saya hanya terima Rp 99 juta bukan Rp 100 juta. Uang itu saya terima dari ketua fraksi partai saya, Ujang M Amin (tersangka berkas terpisah) yang diterima Ujang dari Bambang Kariyanto. Sedangkan untuk uang tahap kedua dari total Rp 200 juta, saya terima dari Pak Islan Hanura sebesar Rp 50 juta. Saat menerima uang itu, kan belum ada OTT KPK. Karena ketika itu partai akan ada kegiatan kongres maka semua uang bagian yang saya terima itu saya berikan ke partai. Setelah terjadi OTT KPK hingga saya ditetapkan tersangka dan ditahan, barulah saya mengembalikan semua uang suap yang saya terima. Saya mengembalikan Rp 149 juta yang uangnya saya serahkah ke negara melalui KPK. uang tersebut (Rp 149 juta) saya dapatkan dari menjual tanah warisan milik orang tua saya,” katanya sembari terisak menangis di persidangan.

Dengan kata terbata-bata Riamon Iskandar mengungkapkan penyesalannya, lalu ia mengambil tisu di saku celananya dan mengusapkannya ke wajahnya.

“Awalnya saya tidak tahu soal uang suap ini, karena saya baru menjadi Ketua DPRD Muba sejak tanggal 9 Januari 2015. Saat menjabat Ketua DPRD Muba, saya mendengar jika ada pengajuan pengesahan APBD dari Pemkab Muba. Karena waktu itu saya saya tidak mengerti, hingga saya banyak belajar dengan senior untuk mengetahui bagaimana cara membahas APBD Muba,” ujarnya.

Baca Juga :   Penjual Ribuan Obat-Obatan Kadaluarsa di Pasar 16 Ditangkap

Masih dikatakannya, setelah rapat paripurna dilakukan, barulah ia mengetahui jika Pemkab Muba lambat mengajukan pengesahan APBD ke DPRD Muba.

“Kemudian tiba-tiba Ujang M Amin menyerahkan uang Rp 99 juta itu kepada saya. Ketika itu saya tidak tahu uang apa, kata Ujang terima saja, tak lama kemudian barulah Bambang Kariyanto memberitahu jika uang yang diberikan kepada saya merupakan uang dari Pemkab Muba untuk pengesahan APBD. Bahkan saat akan dilakukan penandatangan APBD, saya kembali diberi uang Rp 50 juta oleh Pak Islan, uang itu juga diterima dari Bambang Kariyanto,” jelasnya.

Setelah uang tahap satu dan tahap dua bagiannya diterima, lanjut Riamon Iskandar, saat akan dilakukan pembahasan LKPJ,  Islan Hanura menelponnya dan memintanya agar menagih uang sisa yang belum diserahkan dari total Rp 17,5 milar.

“Kalau yang membuat nominal total uang suap dari Rp 20 miliar menjadi Rp 17,5 milar saya tidak tahu. Memang uang tahap satu dan tahap dua itu bagian dari uang Rp 17,5 milar tersebut. Karena belum dilunasi makanya saya diminta untuk menelpon Faisyar (terpidana). Saat saya telpon kata Faisyar nanti akan diberikan saat uangnya telah terkumpul,” ungkapnya.

Sementara terdakwa Islah Hanura dalam keterangannya di persidangan mengaku, jika ia menerima bagian uang suap tahap pertama Rp 100 juta dan uang bagian tahap kedua Rp 50 juta.

“Saya menyesal. Saya masuk dalam sistem yang salah, semoga dugaan kasus ini dapat menjadi perbaikan di seluruh Indonesia,” kata Islan dengan nada terbata-bata menangis di muka persidangan.

Ditegaskannya, dalam perkara ini tidak ada namanya uang pinjaman karena ini jelas-jelas suap. Bahkan dirinya mengaku lega setelah menjelaskan semuanya dalam persidangan.

Baca Juga :   Mobil Mewah Maut di Soekarno Hatta Milik Warga Muba

“Saya terima uang suap dan saya juga kini telah mengembalikan uang suap yang saya terima sebesar Rp 150 juta ke KPK. Perkara ini terjadi karena sistem yang salah dan bermula dari
keterlambatan pengajuan APBD yang baru diserahkan Pemkab Muba ke DPRD akhir Desember 2014,” tandasnya.

Sedangkan Aidil Fitri dipersidangan mengakui jika dirinya telah menerima uang suap tahap satu sebesar Rp 100 juta dan bagian uang suap tahap ke dua sebesar Rp 50 juta. “Saya mengaku menerima uang suap dan kini saya telah mengembalikannya ke KPK, sebesar Rp 150 juta,” tandasnya.

Berbeda dengan keterangan terdakwa Darwin AH, selama di hadirkan di kursi persakitan di muka persidangan, Darwin membantah menerima uang suap baik tahap satu dan tahap dua.

“Saya sempat mendengar isu ada bagi-bagi uang tapi saya tidak menerima. Saya tidak mau ambil resiko dari itu saat ada OTT saya berangkat ke Jakarta. Jadi saya tidak pernah menerima bagian uang suap itu, baik tahap satu maupun tahap kedua,” tegasnya di persidangan.

Usai mendengarkan keterangan para terdakwa Majelis Hakim yang diketuai Parlas Nababan menunda persidangan hingga pekan depan dengan agenda keterangan saksi ade cart (meringankan) untuk terdakwa.

Terpisah, diluar persidangan JPU KPK Kristianti Yuni Purnawanti mengungkapkan, dari keempat terdakwa hanya Darwin AH yang mengaku tidak menerima uang suap.

“Meskipun demikian, kita (JPU) dan Mejelis Hakim kan dapat menilainya dari keterangan saksi-saksi lainnya, fakta persidangan dan petunjuk-petunjuk. Jadi untuk terdakwa Darwin yang mengaku tak menerima uang suap, itu hak dia karena kita memiliki bukti-bukti diantaranya, rekaman pembicaraan,” tandasnya.  (ded)

Publisher : Fitriyanti

Avatar

Lihat Juga

Wagub Evaluasi Kinerja Bank Milik Daerah

Palembang, KoranSN Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Ir H Mawardi Yahya kembali memimpin langsung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.