Home / Gema Sriwijaya / Mbah Jumar Kini Merasa ‘Merdeka’

Mbah Jumar Kini Merasa ‘Merdeka’

Bedah Rumah

PALI, SN

Meski lahir lahir tahun 1945, berbarengan dengan kelahiran Republik Indonesia, mbah Jumar (70) belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Rumahnya di Talang Puyang Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI hanya berdinding gedek (anyaman Bambu, red) dan berlantai tanah. Sehari-hari mbah Jumar ?hanya berharap dari belas kasihan para tetangga.

Ia hidup sebatang kara setelah anak dan istrinya meninggal sepuluh tahun yang lalu. Cobaan yang dihadapinya tidak sampai disitu. Mbah Jumar harus berhenti bekerja. Untuk menyambung hidup, ia hanya berharap pada uluran tangan para dermawan.

Rumahnya yang berdinding gedek (anyaman bambu) dan berlantai tanah. Tumpukan seng tua dan karatan menjadi peneduh. Bila hujan tiba, tetesan air hujan jatuh dari lubang-lubang seng yang sudah tua.

Tapi mbah Jumar tetap Tegar. Usia renta nya seolah mampu menahan dinginnya angin malam yang bertiup dari sela-sela anyaman bambu yang menjadi dinding rumahnya. Tempat tidurnya pun hanya dilapisi kasur tipis dan buruk. Saat diangkat, Tumpukan debu melayang kemana-mana. Jauh dari kata layak atau sehat seperti standar dinas kesehatan.

Baca Juga :   Jalan Santai, Susan dan Anton Dapat Motor Baru

Bagian dapur rumahnya hanyalah perapian kayu tanpa kompor apalagi gas elpiji. “Saya tidak pernah masak. Paling merebus air minum saja” ujarnya lemah. Padahal dari rumahnya nampak peralatan pumping minyak, pertanda tidak sampai 100 meter dari rumahnya terdapat sumur minyak bumi.

Tapi kini,? mbah Jumar mulai merasakan kemerdekaan. Sebagaimana jalan depan rumahnya yang sudah dicor pemkab PALI. Rumah reotnya mulai terlihat bercahaya. Bagian luarnya tampak sudah dibaluri cat berwarna kuning. Sementara bagian dalamnya ditutup triplek yang disapu warna putih. Setidaknya, Angin malam tidak sebebas dulu lagi menyelimuti tubuh renta mbah Jumar.

Demikian juga atapnya, tidak lagi bocor. Seng karatan berwarna hitam sudah berganti dengan seng perak yang berkilau. Pun juga lantainya tidak lagi tanah, adukan semen dan karpet baru sudah melapisi.

Kasur tua yang tipis dan bau sudah hilang entah kemana. Kasur busa dengan dilengkapi bantal dan guling empuk yang wangi kini menghiasi kamarnya.

Baca Juga :   Bupati Lahat Lantik Pengurus PKK

Perubahan besar itu terjadi setelah komunitas Pelorism melakukan aksi bedah rumah mbah Jumar.? Selama tiga hari berturut-turut, sejak Sabtu (8/7) lalu puluhan anak muda bergotong royong ‘memerdekakan’ mbah Jumar.

Selama tiga hari itu, puluhan anak muda mempermak rumah tua itu. Debu-debu tebal dibersihkan. Atap rumahnya dibongkar. Lantai rumah disemen dan dinding bagian dalam di semen. Kursi-kursi tua dilapisi dengan kain baru dan jendala pun dipermanis dengan tirai. Dengan keterampilan yang terbatas, para remaja itu seolah tak kenal lelah.

“Ini aksi ketiga kita setelah pentas seni dan bagi susu gratis kemarin. Dananya sendiri kita ambil dari sisa kegiatan pentas seni kemarin ditambah sumbangsih teman-teman di komunitas. Kita mencoba berbagi dengan warga agar dapat menikmati kemerdekaan kita yang ke-70 ini,” kata Rindu Dewanto, ketua Komunitas Pelorism ketika dibincangi SN, Senin (10/8). (ans)

Publisher : Ferdin Ferdin

Avatar
Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

Bawaslu Muratara Buka Pendaftaran Panwascam

Muratara, KoranSN Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Muratara (Muratara) membuka pendaftaran untuk perekrutan Panitia Pengawas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.