Minggu , Oktober 21 2018
Home / Wisata / Mengungkap Tinggalan Budaya Leluhur di Lahat

Mengungkap Tinggalan Budaya Leluhur di Lahat

Lumpang Batu yang ditemukan di Lahat. (foto-ist/mario andramartik)

Lahat, KoranSN

Baru saja aku keluar dari mobil dan hendak menemui warga yang sedang duduk di sebuah warung di pinggir jalan, tetapi suara Yudha memanggil dari jarak sekitar 10 meter.

“Kak ada tetralit di sana,” begitu kata Yudha yang sedang berdiri tepat di atas sebongkah batu besar.

Batu besar berdiameter 3 meter dengan guratan-guratan di sekeliling batu yang disebut masyarakat sekitar dengan nama Batu Surau. Aku tak begitu jelas mengapa batu ini di sebut Batu Surau. Batu Surau dari bentuk dan letaknya di tepi jalan sangat menarik perhatian siapapun yang baru saja melihatnya.
Dari sebuah sumber mengatakan, guratan yang ada di seluruh batu ini disebabkan oleh proses erosi air yang terjadi ribuan tahun silam.

“Ya, kita ke sana,” kataku setelah aku selesai ngobrol sebentar dengan warga yang duduk di warung.

Sedang teman ku yang lainnya yakni Bayu telah lebih dahulu menuju ke persawahan dan bertemu dengan seorang bapak. Aku dan Yudha berjalan menuju ke arah dimana terdapat tetralit (susunan batu monolith berbentuk persegi empat atau bujur sangkar). Ketika kami melintas sebuah rumah kayu dengan atap seng di tengah sawah, dari dalam rumah seorang ibu berkata,

“Mereka ke sana melihat lesung batu,” ujar ibu itu sambil menunjuk ke arah dimana Bayu dan seorang bapak sedang berjalan.

Kemudian aku segera mengikuti ke arah lesung batu dengan menyusuri pematang sawah dengan pemandangan padi yang telah menguning dan beberapa hari lagi akan segera di panen. Setelah sampai di lesung batu aku ucapkan salam dan memperkenalkan diriku. Ternyata, bapak yang sedari tadi bersama Bayu adalah petani pemilik sawah yang bernama Slamet.

Lesung batu ini terletak di sawah milik Slamet yang di keliling padi-padi, beberapa saat kemudian Slamet telah berada di sawah dan dengan sigapnya mengeluarkan air dari lubang lesung berlubang satu dengan diameter lubang sekitar 15 cm. Dalam beberapa saat, semua air telah keluar dari lubang yang telah dikeluarkan dengan kedua tangan Slamet.

Lalu, aku arahkan kamera ku ke lesung batu untuk mengambil beberapa photo begitu juga dengan Bayu. Lesung batu ini terletak sekitar 200 meter dari Batu Surau ke arah Timur. Dan pada jarak 4 meter dari lesung batu terdapat beberapa batu lainnya, setelah kami dekati ternyata adalah dolmen dan ternyata dekat sini terdapat 4 dolmen.

Baca Juga :   Ciptakan Keamanan dan Kenyamanan, Datangkan Investor dan Wisatawan

Slamet bercerita, bahwa masih ada batu lain dengan lubang tiga seperti tempat mainan anak-anak, dan kami pun menuju ke tempat batu yang dimaksud oleh Slamet. Akan tetapi, dalam perjalanan kami melihat tetralith yang berjarak 50 meter dari lesung batu ke arah barat dan sebuah dolmen lagi pada jarak 25 meter dari tetralit. Lalu kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri pematang sawah dengan padi-padi yang telah menguning.

Saat melihat padinya, Slamet tampak sedikit kecewa dengan hasil padi yang ditanamnya. Hal ini dikarenakan kurangnya air yang disebabkan kemarau panjang. Baru saja berjalan 25 meter terdapat satu lagi tetralith dan tak jemuhnya aku arahkan kamera ke empat batu tegak yang membentuk formasi bujur sangkar dengan tinggi sekitar satu meter dari pemukaan tanah.

Tampak Batu Tetralit yang berada di persawaan.

Berjarak 20 meter dari tetralith kedua, terdapat sebuah batu persegi panjang berikut tiga buah lubang yang berisi air. Batu ini yang dimaksud oleh Slamet sebagai batu tempat bermain anak-anak. Akan tetapi menurut para peneliti batu seperti ini disebut dengan lumpang batu. Dua dari ketiga lubang pada lumpang batu ini mempunyai ukuran diameter yang sama, yaitu 15 Cm.

Kalau diperhatikan dengan seksama, sebenarnya lumpang batu ini rencananya akan di buat berlubang lima. Sebab tampak jelas di lumpang batu itu sebuah lingkaran telah terbentuk dan sebuah lubang telah terbentuk pula pada bagian atas lumpang dengan diameter 5 Cm.

Aku sempat bertanya kepada Slamet kemungkinan masih ada lagi temuan lain, tetapi kata Slamet tidak ada lagi sehingga dia mengajak kami berjalan untuk singgah di rumahnya. Kamipun berjalan mengikuti Slamet menuju rumahnya yang tak lain adalah rumah yang tadi kami lintasi, dan ternyata seorang ibu yang tadinya menyapa kami adalah istri Slamet.

Tak lama kemudian istri Slamet keluar dan menuju ke tepat kami ngobrol dengan membawa beberapa gelas kopi dan kue semprong, kami dipersilahkan untuk minum dan mencicipi kue semprong. Suasana yang damai dan santai mengobrol di sebuah rumah kayu beratap seng dengan luas 4 x 6 meter. Walau di tengah hari di musim kemarau, namun di rumah beratap seng ini kami tidak merasa panas.

Sebab daerah ini berada diketinggian mencapai 400 mdpl hingga cukup sejuk dan tidak mengherankan bila padi di wilayah ini tumbuh dengan subur dan terkenal akan kualitas padi unggulan Lahat. Begitu juga dengan tanaman lain baik pertanian maupun perkebunan tumbuh dengan suburnya.

Baca Juga :   Indahnya Air Terjun Penganingan dan Gunung Nyawe

Pada tahun 2009 lalu, aku pernah ke wilayah ini untuk melihat Batu Surau, akan tetapi aku belum dapat menemukan apa yang kami temukan pada hari ini. Kalau dilihat dari temuan yang ada maka temuan tersebut merupakan benda-benda pada jaman prasejarah yang disebut dengan peninggalan budaya megalitik yang memang berkembang di Lahat, Pagaralam dan Empat Lawang sekitar 3.000 tahun yang lalu.

Dari jumlah temuan yang ada berupa dua buah tetralit, dua buah lumbang batu dan enam buah dolmen, kalau diteliti lebih lanjut kemungkinan akan ditemukan benda-benda lainnya.

Dari buku “Megalithic Remains in South Sumatera karya Van Der Hoop tahun 1932” hanya disebutkan Batu Surau dan empat buah batu yang berdiri membentuk persegi dengan luas sekitar 3 meter. Sedang pada tulisan-tulisan buku lainnya baik dari Balai Arkeologi Palembang, Arkeologi Nasinal dan BPCB Jambi belum pernah ada.

Jadi temuan dua lumpang batu, tetralith dan dolmen merupakan temuan terbaru. Hal ini akan lebih menguatkan slogan yang selama ini telah didengungkan oleh Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata bernama Panoramic of Lahat bahwa Lahat merupakan Bumi Seribu Megalitik dengan sebaran megalitik terdapat di 12 kecamatan dari 24 kecamatan yang ada.

Panoramic of Lahat memang sejak tahun 2008 lalu sangat gencar mendata dan mendokumentasikan peninggalan prasejarah dan potensi wisata lainnya yang ada di Kabupaten Lahat. Puncaknya Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Panoramic of Lahat pada tahun 2012 mendapat penghargaan dari Museum MURI sebagai Kolektor Data Megalitik Terbanyak se-Indonesia.

Bahkan pada tahun 2018, lembaga ini mendapat penghargaan sebagai Komunitas Peduli Cagar Budaya Tingkat Nasional dan satu-satunya komunitas dari Sumatera Bagian Selatan yang mendapatkannya. Semoga dengan penemuan ini akan menggunggah semua pihak untuk melakukan pengembangan di bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan dan pariwisata yang akan berdampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat.

Apalagi bila potensi pariwisata budaya megalitik dikombinasikan dengan potensi wisata alam seperti perbukitan, air terjun, sungai, danau, persawahan dan perkebunan yang terdapat di wilayah ini maka tak mengherankan bila wilayah ini akan menjadi tujuan wisata yang dapat diandalkan untuk Kabupaten Lahat. (mario andramartik)

CGV Cinemas Segera Hadir di Lantai 3 PTC Mall Palembang

Publisher : Awid Durohman

Awid Durohman

Lihat Juga

Taman Wisata Tanjung Enim Sarana Rekreasi & Edukasi

Muara Enim, KoranSN Taman wisata Tanjung Enim yang dibangun diatas tanah eks pemukiman Atas Dapur ...

error: Content is protected !!