Misteri Bom Candi Borobudur yang Tak Pernah Terungkap

Ilustrasi. (foto-net)

Yogyakarta, KoranSN

Jarum jam tepat menunjukkan pukul 01.30, ketika dua petugas keamanan Candi Borobudur dibuat terkejut ketika mendengar suara ledakan dahsyat di tengah malam buta.

Hanya berjarak semenit, ledakan kedua pun muncul lagi. Kepulan asap putih pun terlihat di sisi timur Candi Borobudur.

Kedua petugas ini pun tunggang langgang ke posko induk. Bersamaan itu, ledakan lain pun muncul lagi dan sama kerasnya. Namun, karena saat itu malam begitu gelap.

Tak ada satu pun yang bisa menebak persis dimana ledakan keras itu. Setidaknya, hingga pukul 03.40, ledakan yang terhitung sembilan kali itu berakhir.

Usai itulah, baru sejumlah personel polisi dari Magelang pun tiba di lokasi. Bersama petugas keamanan Candi Borobudur mereka menyaksikan pecahan batu dari stupa candi bergelimpangan.

Kepala patung-patung Buddha terlihat tergeletak di lantai dan tangga candi. Di hari itu juga, Senin (21/1) tahun 1985, dipastikan ada sembilan stupa dari 72 stupa sengaja diledakkan.

Tim Penjinak Bahan Peledak pun berusaha keras menyisir lokasi untuk mencari kemungkinan bom lain. Dan benar saja, ada dua bom berbalut dinamit belum meledak.

Timer di bom menunjukkan pukul 10.30. Besar kemungkinan, bom ini akan meledak pada siang hari, ketika orang ramai ke Candi Borobudur.

Baca Juga :   Gaji Pokok PNS Akan Naik Hingga Rp 14,3 Juta

Namun untungnya, dua bom itu berhasil dijinakkan. Dari situ juga diketahui jika bom yang digunakan ternyata jenis TNT (Trinitro Toluen), tipe batangan PE 808/Dahana.

“Bom ini sudah termasuk profesional untuk ukuran Indonesia,” ujar seorang ahli bom yang menganalisis rakitan bom di Candi Borobudur.

Ledakan itu memang mengguncang Indonesia. Maklum, saat itu Candi Borobudur sedang dalam tahap pemugaran yang mendapat bantuan dari Unesco PBB.

Atas itu juga, Presiden Soeharto pun, dalam beberapa jam langsung bereaksi. “Orang yang meledakkan candi, orang yang tidak mempunyai kebanggaan nasional. Karena Borobudur adalah monumen nasional, bahkan sudah menjadi monumen dunia,” ujar Soeharto kala itu, seperti dikutip dari sejumlah pranala.

Tiga bulan berjalan, siapa di balik perusakan Candi Borobudur masih dalam penyelidikan intensif. Sampai akhirnya muncul kejadian meledaknya sebuah bus bernama Pemudi Express di Banyuwangi Jawa Timur.

Dari situlah akhirnya terbongkar, jika bus itu meledak lantaran ada bom yang dibawa para penumpangnya. Bom itu tak tahan panas, lantaran bergesekan dengan mesin mobil.

Polisi pun bergerak cepat, bom yang meledak di Pemudi Express menjadi titik masuk untuk memburu pelaku bom Candi Borobudur, yang kemudian menemukan nama Abdul Kadir Al-Habsy.

Ia pun diamankan, dan terbongkarlah jika bom dalam mobil itu akan diledakkan di Bali, dengan sasaran hotel-hotel atau tempat prostitusi di Tanah Dewata.

Baca Juga :   Presiden Ajak Pamong Praja Kawal Cara Kerja Baru

Dari Kadir juga kemudian muncul nama Husein bin Ali Al-Habsyi, yang tak lain kakak kandung dari Kadir. Keduanya pun ditetapkan sebagai tersangka.

Kadir mengakui jika bom itu berkaitan dengan kejadian Borobudur. Namun Husein menolak keras jika disebut terlibat. Sampai kemudian muncul nama otak di belakang kejadian itu adalah Mohammad Jawad alias Krisna alias Abu Mahdi.

Pria yang disebut-sebut sebagai ustaz asal Jakarta itulah yang disebut Kadir dan Husein sebagai dalang. Namun demikian, ia raib tak berbekas.

Kadir divonis 20 tahun penjara dan Husein dihukum seumur hidup. Sedangkan siapa Mohammad Jawad hingga kini di 32 tahun kasus ledakan Candi Borobudur masih misteri.

Siapa Jawad, tak ada yang mengetahui. Bahkan termasuk Kadir dan Husein yang juga hanya mengenal orang itu dalam waktu singkat. (viva.co.id)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Sejumlah Desa di Sambas Kalbar Terendam Banjir

Pontianak, KoranSN Sejumlah desa di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, terendam banjir dengan ketinggian air bervariasi …