Home / Gema Sriwijaya / Omset Pengusahan Tempe di Prabumulih Capai Rp 3 Juta Perbulan

Omset Pengusahan Tempe di Prabumulih Capai Rp 3 Juta Perbulan

Eko pengusaha Tempe lagi buat tempe di rumah nya Minggu kemaren. (foto-andi fatra/koransn.com)

Prabumulih, KoranSN

Pengusaha tempe yang memproduksi dan menjual tempe di Prabumulih mendapat omset Rp 3 Juta perbulan. Seperti diungkapkan Eko (45), salah satu pemilik industri kecil usaha tempe di Jalan Bukit Lebar I RT 3 RW 4 Kelurahan Majasari Kecamatan Prabumulih Selatan.

Dikatakannya, jika dirinya sudah menggeluti usaha produksi tempe sejak tahun 2003 lalu. Dari hasil tersebut ia dapat membiayai kehidupan keluarganya, dan ia berharap usaha tempe miliknya kedepan lebih maju dan berkembang.

Diungkapkannya, dari membuat dan menjual tempe dirinya mendapat omset Rp 100.000 perhari. “Artinya, jika dihitung hanya Rp 3 juta perbulan, tapi tetap disyukuri,” ungkap Eko, Minggu (28/1/2018).

Menurutnya, usaha pembuatan tempe yang ditekuninya merupakan usaha keluarga dengan modal biaya bersama sebesar Rp 270 ribu perhari. Dimana untuk bahan baku terbuat dari kacang kedelai dengan harga beli di pasaran masih normal, berkisar Rp 7.600 per Kg, dan dalam satu hari dirinya dapat membuat tempe dengan bahan dasar sekitar 30 Kg kacang kedelai.

“Bila sudah jadi maka siap diedarkan di pasaran dengan harga bervariasi. Masalah harga tergantung ukuruan misalnya, tiga batang tempe ukuran 20 Cm dijual dengan harga Rp 5 ribu tapi, masih lihat juga harga di pasaran atau kondisi pasarnya,” kata dia.

Lanjutnya, tempe buatannya di pasarkan hanya di wilayah Prabumulih. Dalam pemasarannya para pelanggan biasanya datang ke rumahnya untuk mengambil tempe.

“Alhamdulillah, sudah ada pelanggan tetap 10 orang, sisanya langganan tidak tetap. Sedangkan di area pasar yang ambil tempe kurang lebih 50 orang,” paparnya.

Dijelaskannya, adapun proses tembuatan tempe kedelai yakni, kedelai direndam dalam air selama 2 jam lalu dicuci bersih dan direbus menggunakan kayu bakar sampai masak. Setelah itu, didinginkan.

“Untuk proses prementasi, kedelai dicuci lagi sampai bersih karena aromanya masam, ditiriskan dulu (untuk mengeluarkan air), lalu proses peragian (di campur bibit jamur tempe). Setelah itu, dibungkus dengan daun atau plastik dan baru dipasarkan,” terangnya. (and)

Publisher : Awid Durohman

Awid Durohman

Lihat Juga

Nopran Marjani Kunjungi Warga Desa Purworejo Kikim Timur

Lahat, KoranSN Usai bersilaturahmi dengan masyarakat Desa Sukamakmur SP 3 Kecamatan Gumay Talang Lahat. H ...

error: Content is protected !!