Penyerahan Dokumen Syarat Minimal Dukungan Pasangan Calon Perseorangan Dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Tahun 2020

Otak dan Eksekutor Mayat PNS Dicor di TPU Kandang Kawat Didakwa Pidana Mati

Terdakwa Mgs Yudi Thama Redianto alias Yudi dan M Ilyas Kurniawan menunduk saat mendengarkan dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang di PN Kelas I Palembang. (foto-ferdinand/koransn)

Palembang, KoranSN

Dua terdakwa kasus pembunuhan Apriyanita (50), PNS di Kementrian PUPR di Wilayah II, yang jenazahnya ditemukan dicor para pelaku di kawasan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kandang Kawat Palembang, Kamis (13/2/2020) dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Sumsel dengan hukuman pidana mati.

Adapun kedua terdakwa tersebut, yakni; terdakwa Mgs Yudi Thama Redianto alias Yudi (40), warga Komplek BSD Blok F26 Kelurahan Sako Kecamatan Sako Palembang yang merupakan otak pembunuhan korban, dan terdakwa M Ilyas Kurniawan (26), warga Jalan Rama Kasih III Lorong Kesadaran III Kelurahan Duku Kecamatan IT II Palembang, yang dalam kasus ini berperan sebagai eksekutor membunuh korban dengan menjerat leher korban menggunakan tali.

Jaksa Penuntut Umum Kejati Sumsel, Murni SH MH saat membacakan tuntutan untuk kedua terdakwa mengungkapkan, dalam kasus ini terdakwa Yudi dan terdakwa M Ilyas telah melakukan pembunuhan berencana terhadap korban bersama dua pelaku lainnya, yaitu pelaku Ichnaton Novari alias Nopi (DPO) dan Amir (DPO) yang kedua pelaku tersebut belum tertangkap pihak kepolisian.

“Dalam kasus ini kami menilai perbuatan terdakwa Yudi dan M Ilyas terbukti secara sah bersalah sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, atau Pasal 338 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman maksimal hukumannya yakni pidana mati,” tegas JPU.

Masih dikatakannya, pembunuhan korban ini terjadi bemula saat terdakwa Yudi yang sebelumnya pernah bekerja satu kantor dengan korban Apriyanita mengajak korban berbisnis jual beli mobil hasil lelang.

“Dimana dalam tawaran itu terdakwa Yudi meminta uang modal sebesar Rp 145 juta. Dikarenakan antara terdakwa Yudi dan korban sudah saling kenal, maka ajakan dan permintaan terdakwa disetujui korban hingga korban langsung mentransfer uang tersebut melalui rekening bank,” ungkapnya.

Diungkapkannya, dalam perkara ini terungkap jika bisnis jual beli mobil hasil lelang yang ditawarkan terdakwa Yudi kepada korban tidak pernah ada. Sebab hal tersebut hanyalah akal-akalan terdakwa Yudi untuk mendapatkan uang dari korban.

“Sebab uang yang ditransferkan korban untuk berbisnis mobil tersebut habis dipergunakan terdakwa Yudi untuk kepentingan pribadi. Oleh karena itulah disaat korban menagih bisnis jual beli mobil lelang yang dijanjikan tersebut, terdakwa Yudi kebingungan dan akhirnya terdakwa mendatangi rumah korban di Jalan Sriwijaya Dwikora II Kecamatan IT I Palembang untuk menjelaskan jika semua uang tersebut telah habis digunakan terdakwa Yudi,” jelasnya.

Lebih jauh dikatakan JPU, usai mengetahui uang tersebut telah habis lantas korban pun meminta agar terdakwa Yudi mengembalikan semua uang tersebut.

“Namun kala itu terdakwa Yudi mengatakan kepada korban jika dirinya baru bisa mengembalikan uang sebesar Rp 15 juta. Akan tetapi dalam pertemuan tersebut, korban meminta terdakwa Yudi untuk mengembalikan sebagian uang tersebut, yakni senilai Rp 35 juta dari uang Rp 145 juta yang telah habis digunakan terdakwa,” jelasnya.

Baca Juga :   2 Mahasiswa Unsri yang Tenggelam Ternyata Ikuti Pelatihan Organisasi

Menurutnya, terdakwa Yudi yang kebingungan dimintai uang Rp 35 juta lantas mengajak korban pergi dengan mengendarai mobil yang dikemudikan terdakwa dengan tujuan ke salah satu bank di kawasan Jalan Kapten A Rivai.

“Terdakwa mengajak korban ke bank hanyalah pura-pura untuk membayar uang yang diminta korban. Namun saat tiba di parkiran bank tersebut, terdakwa kembali menyampaikan jika dirinya baru bisa mengembalikan uang sebesar Rp 15 juta. Medengar perkataan terdakwa Yudi langsung membuat korban marah hingga antara korban dan terdakwa ketika itu terjadi cekcok mulut. Bahkan dalam pertengkaran tersebut korban mendesak tidak mau pulang kalau terdakwa Yudi tidak memberikan uang Rp 35 juta. Hal inilah yang membuat Yudi bertambah bigung, kemudian Yudi kembali beralasan akan meminjam uang kepada pamannya, yakni pelaku Ichnaton Novari alias Nopi (DPO). Setelah itu terdakwa mengajak korban ke TPU Kandang Kawat untuk menemui pelaku Nopi,” paparnya.

Setiba di kawasan TPU Kandang Kawat lanjut JPU, korban memilih menunggu di dalam mobil, sedangkan terdakwa menemui pamannya yaitu pelaku Nopi yang ketika itu sedang berada di kawasan TPU Kandang Kawat.

“Disaat bertemu pelaku Nopi ternyata terdakwa Yudi bukan meminjam uang. Namun terdakwa mengatakan kepada Nopi jika ia sedang ada masalah ditagih hutang oleh korban, dimana korban meminta uang Rp 35 juta namun dirinya baru memiliki uang Rp 15 juta. Mendengar cerita tersebut lantas pelaku Nopi yang kini masih menjadi buronan meminta uang Rp 15 juta yang dimiliki Yudi sebagai upah untuk membunuh korban. Atas tawaran tersebut, terdakwa Yudi pun menyanggupinya lalu Yudi pergi meninggalkan lokasi membawa korban berkeliling dengan mengendarai mobil,” ungkapnya.

Lebih jauh dikatakan JPU, dalam perjalanan tersebut terdakwa Yudi mampir di salah satu minimarket untuk membeli minuman.

“Saat membeli minuman ini, korban menunggu di dalam mobil sedangkan terdakwa Yudi membeli dua botol air mineral dan obat tetes mata cair. Setelah itu terdakwa mencapurkan satu botol air mineral dengan obat tetes mata, lalu menyerahkannya kepada korban sambil berkata, ‘Yuk (korban) kalau nak minum, itu ado minum’. Sedangkan satu botol air mineral yang tidak dicampur obat tetes mata dipegang terdakwa. Ketika itulah korban meminum air mineral tersebut hingga membuat korban menjadi lemas,” kata JPU.

Dijelaskannya, setelah korban lemas barulah terdakwa Yudi menghubungi pelaku Nopi. Kemudian keduanya berjanjian bertemu di kawasan Jalan Taman Kenten Palembang.

“Namun sebelum berangkat ke lokasi, pelaku Nopi mengajak temannya, yakni terdakwa M Ilyas. Setelah itu barulah keduanya menuju kawasan Taman Kenten untuk menemui terdakwa Yudi, yang ketika itu Yudi sedang menunggu di dalam mobil bersama korban yang sedang lemas. Setiba di TKP terdakwa M Ilyas masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di belakang korban. Sedangkan pelaku Nopi duduk di belakan terdakwa Yudi,” ungkap JPU.

Baca Juga :   Ribuan Warga Blokade Jalan Sematang Borang

Lebih jauh diungkapkan JPU, tak lama kemudian pelaku Nopi memberikan tali kepada terdakwa M Ilyas hingga akhirnya terdakwa M Ilyas menjeratkan tali tersebut ke leher korban. Akibatnya, korban tewas di lokasi kejadian.

“Usai membunuh korban, terdakwa M Ilyas meminta uang upah membunuh korban. Atas permintaan tersebut terdakwa Yudi memberikan uang Rp 4 juta. Seusai menerima uang itu terdakwa M Ilyas pulang ke rumahnya. Sedangkan uang Rp 11 juta diberikan terdakwa Yudi kepada pelaku Novi. Setelah itu terdakwa Yudi dan pelaku Nopi membawa jenazah korban menggunakan mobil ke TPU Kandang Kawat. Saat tiba di lokasi jenazah diturunkan dari dalam mobil, lalu terdakwa Yudi pergi dari lokasi dengan menggunakan mobil tersebut,” terangnya.

Dilanjutkan JPU, sementara pelaku Novi menghubungi temannya yang kesehariannya sama-sama bekerja sebagai penggali kubur, yakni pelaku Amir (DPO). Satu jam kemudian datang pelaku Amir, lalu kedua pelaku mengubur jenazah korban di kawasan TPU tersebut yang kemudian bagian atasnya dicor semen oleh kedua pelaku.

“Keesokan harinya pelaku Novi menelphone terdakwa Yudi dan kembali meminta uang Rp 1,5 juta guna membuat pedapuran untuk makam korban. Akan tetapi, saat itu terdakwa Yudi hanya memberikan uang kepada Nopi sebesar Rp 1,3 juta, yang mana uang itu langsung diantarkan dan diserahkan terdakwa Yudi,” paparnya JPU Kejati.

Masih dijelaskannya, dari rangkaian kejadian pembunuhan korban tersebut maka pihaknya selaku Jaksa Penuntut Umum menilai perbuatan terdakwa Yudi dan terdakwa M Ilyas terbukti bersalah melakukan tindak pidana menghilangkan nyawa korban secara bersama-sama.

“Untuk itulah dalam tuntutan ini kami menuntut kedua terdakwa dengan Pasal Primer dan Subsider, yakni Pasal 340 KUHP dan Pasal 338 KUHP,” tandas JPU.

Usai mendengarkan dakwaan yang dibacakan oleh JPU, Ketua Majelis Hakim Adi Prasetyo SH MH meminta tanggapan kepada kedua terdakwa dan kuasa hukum, apakan akan mengajukan langkah hukum yakni eksepsi (nota keberatan atas dakwaan JPU).

Di persidangan kedua terdakwa melalui masing-masing kuasa hukum menyatakan tidak mengajukan eksepsi. Atas jawaban kuasa hukum tersebut, Ketua Majelis Hakim menutup persidangan dan akan kembali melanjutkan sidang pada Kamis 20 Februari 2020.

“Sidang dengan ini ditutup dan akan kembali dibuka pada Kamis depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi,” pungkas Hakim. (ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

 Ayu: Adik Saya Dokter Nurshabrina Baik-baik Saja di Lampung 

Palembang, KoranSN Dokter Nurshabrina (27), yang sebelumnya dikabarkan hilang dan dilaporkan oleh orang tuanya ke …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.