Sabtu , November 17 2018
Home / Wisata / Pajar Bulan Lahat Pusat Batu Megalith Terbesar

Pajar Bulan Lahat Pusat Batu Megalith Terbesar

Batu Megalith di Lahat yang usianya sudah ribuan tahun. (foto/ist/mario andramartik)

Lahat, KoranSN

Udara sejuk dan segar sangat terasa ketika Tim Panoramic of Lahat memasuki Desa Aceh dan Desa Pajar Tinggi sampai ke Desa Pulau Panggung Kecamatan Pajar Bulan Kabupaten Lahat. Namun saat memasuki Pajar Bulan, tampak terasa hiruk-pikuk dan berdebu jalanan akibat truk-truk batubara yang melintas.

Pejalanan yang dilakukan oleh tim untuk melihat langsung kawasan Pajar Bulan yang merupakan pusat penemuan batu megalith yang terbesar. Jarak Desa Pulau Panggung hanya sekitar 8 Km dari Kota Pagaralam atau 73 Km dari Kota Lahat yang dapat ditempuh 1,5 jam perjalanan. Jalanan yang beraspal mulus dan sedikit berliku membuat perjalanan sangat mengesankan.

Selain itu, kebun kopi penduduk yang hampir dipanen telah kelihatan memerah. Panorama alam pegunungan sangat mempesona. Mayoritas penduduk di sini bertanam kopi dan merupakan produk andalan kawasan di kaki Gunung Dempo yang berhawa sejuk.

Sebelum menuju Desa Pulau Panggung, perjalanan dilakukan dengan mengunjungi sebuah batu berelief yang menggambarkan seseorang sedang memegang tanduk rusa, yang terletak di halaman depan rumah warga di Desa Pajar Bulan Kecamatan Pajar Bulan.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi sebuah lumpang batu berlubang 4 (empat) terletak di halaman rumah yang cukup jelas terlihat dari jalan raya di Desa Pajar Bulan ke arah Desa Pulau Panggung. Sebelum perjalanan dilanjutkan ke Desa Pulau Panggung, Kades Pajar Bulan telah siap menjamu Tim Panoramic of Lahat dengan makan siang dan tak lupa kopi khas desa ini.

Tim Panoramic of Lahat mendapat sambutan yang sangat hangat dari Kades dan keluarga serta masyarakatnya. Hal ini suatu pengalaman yang tiada tara dan tak dapat dilupakan. Setelah tim merasa cukup kemudian Tim Panoramic of Lahat mohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Pulau Panggung.

Walau di siang hari dan matahari bersinar terik, tapi panasnya tak membuat tim lelah, sepeda motor vespa yang dikendarai tim dipacu untuk cepat dapat melihat batu megalith yang belum lama ini ditemukan di desa ini.

Ketika memasuki Desa Pulau Panggung, tidaklah susah untuk menemukan kediaman Ahlan sang juru pelihara batu megalith Desa Pulau Panggung. Di pertigaan jalan disebelah kiri tertulis petunjuk menuju batu megalith yang juga ke arah rumah Ahlan.

Usai diterima Ahlan, Tim Panoramic of Lahat langsung berjalan menuju kebun Ahlan yang juga merupakan komplek batu megalith berada. Jalan tanah selebar 2 meter dengan perkebunan kopi dikanan kiri sangat menyenangkan.

Sepanjang perjalanan Ahlan banyak bercerita tentang megalith yang ada di kebunnya. Kunjungan pertama tim yakni melihat sebuah batu terletak di dalam tanah berukuran 1 meter, batu ini ditemukan karena mimpi dari Rorena, anak sang juru pelihara batu megalith. Di batu ini terdapat pahatan seorang dimakan seekor ular pada bagian tangan sampai bahu, sedang seorang lagi dililit dan digigit seekor ular. Lalu bagian atas batu tersebut terdapat genangan air.

Nampaknya batu ini sebuah lumpang. Lumpang batu berukir merupakan hal yang langka, unik dan tentu mempunyai nilai budaya sangat tinggi. Lumpang batu yang ditemukan sekitar Bulan April 2010 ini hanya berpagar bambu yang cukup melindungi lumpang batu didalamnya.

Dengan menyusuri pepohonan kopi di kanan kiri yang mulai memerah sampailah tim pada sebuah batu yang menggambarkan seseorang sedang mengapit anak pada tangan kanannya sambil menunggang seekor gajah. Pada bagian depan batu ini sangat jelas digambarkan seekor gajah dengan mata, belalai dan kedua gadingnya. Batu ini disebut Baturang mungkin singkatan dari batu orang.

Batu megalith yang konon berusia 4.000 tahun ini, merupakan tinggalan jaman prasejarah jauh sebelum adanya kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Walau batu megalith sangat tinggi nilai budayanya tapi hanya berpagar bambu yang dibuat sendiri oleh Ahlan sang juru pelihara.

Sudah selayaknya benda purbakala bernilai budaya tinggi ini mendapatkan pemeliharaan yang lebih baik lagi. Selain pagar bambu yang seadanya, jalanan menuju megalith Baturang hanyalah jalan yang biasa digunakan untuk menuju kebun kopi warga. Begitupun dengan tanda atau petunjuk yang menerangkan bahwa megalith ini merupakan benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang, seperti tertera pada Undang-Undang No.5 Tahun 1992.

Bukan hanya dua batu megalith itu saja yang ada di kebun Ahlan, tapi masih ada 1 lumpang batu berlubang satu dan 8 lesung batu yang bentuk hiasan luarnya beragam dan letaknya tersebar. Ada lesung batu berkepala kodok, berkepala kambing,berhias seekor ular dan orang. Dan semua lesung batu tersebut mempunyai lubang dengan ukuran lebar dan dalam yang sama, sepertinya mereka yang membuat telah mengenal alat ukur. Suatu temuan yang langka dan unik.

Di Desa Pulau Panggung ini, tim telah mengunjungi 2 lumpang batu, arca dan 12 lesung batu. Sebenarnya masih ada beberapa batu megalith lainnya seperti arca manusia, lesung batu, batu tegak dan tetralith.
Sepengetahuan penulis, Kecamatan Pajar Bulan merupakan pusat temuan batu megalith terbesar yang ada di Lahat. Bahkan mungkin terbesar se-Indonesia. Selain Desa Pajar Bulan dan Desa Pulau Panggung batu megalith berupa bilik batu, menhir, dolmen, arca, batu tegak, tetralith juga ditemukan di Desa Talang Pagar Agung, Benua Raja, Kota Raya Darat dan Kota Raya Lembak.

Bahkan Batu Gajah yang sangat terkenal, yang saat ini tersimpan di Museum Balaputradewa di Palembang berasal dari Desa Kota Raya Darat Pajar Bulan. Maka layaklah kalau Kecamatan Pajar Bulan merupakan sebuah kota megalith yang mempunyai budaya yang sangat tinggi.

Batu megalith di dataran Tinggi Pasemah yang terdapat di Lahat telah dikunjungi untuk pertama kali pada tahun 1850 oleh L. Ullman dan yang cukup terkenal adalah Van der Hoop tahun 1932 dengan bukunya ”Megalithic Remains in South Sumatera”.

Sekarang timbul sebuah pertanyaan sudah berapa banyak masyarakat Lahat yang telah mengunjungi situs megalith yang telah tersohor sejak 160 tahun silam ini ? Apakah kita masyarakat Lahat tahu dan menyadari bahwa di Kabupaten Lahat yang kita sayangi ini terdapat megalith tertua dan terbaik se-Indonesia? Semua ini menjadi tugas bersama untuk menjaga, memelihara, melestarikan, memanfaatkan dan mempromosikan pada dunia internasional. Sehingga bermanfaat untuk semua masyarakat Lahat. (mario andramartik)

CGV Cinemas Segera Hadir di Lantai 3 PTC Mall Palembang

Publisher : Awid Durohman

Awid Durohman

Lihat Juga

Pulau Maspari Segera Jadi Alternatif Wisata Baru Sumsel

Palembang, KoranSN Usai meninjau kondisi Pulau Maspari dan UPTD Balai Perikanan Tawar dan Payau milik ...

error: Content is protected !!