Perjalanan Masa Rapsodia Nusantara

Pianis dan komposer Ananda Sukarlan dalam konser Rapsodia Nusantara di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur pada Sabtu (3/10/2020). (foto-antaranews)

Jakarta, KoranSN

Pianis Ananda Sukarlan boleh jadi telah malang melintang di panggung bergengsi dunia. Tapi, baru kali ini dia menggelar pementasan di situs peradaban kuno nusantara.

Perjalanan konser “Rapsodia Nusantara” dimulai dari Candi Hindu Prambanan (Yogyakarta), kemudian beranjak ke kompleks peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan (Mojokerto) dan berakhir di kompleks peninggalan Kerajaan Sriwijaya Muaro Jambi (Jambi) yang juga merupakan kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara.

“Ini sih memorable (mengesankan). Konser ini penting sekali buat perkembangan artistik saya, dari sini saya jadi riset juga tentang sejarah Indonesia,” jelas Ananda yang telah menghasilkan 33 nomor untuk solo piano dan empat karya orkestra dalam Rapsodia Nusantara, di Mojokerto, pada Sabtu (3/10/2020).

Baca Juga :   Menengok Lebih Dekat Tebing Sialang Nan Menantang

Rapsodia Nusantara merupakan salah satu karya terkenal Ananda Sukarlan yang dikembangkan dari lagu-lagu tradisional Indonesia, dan ia telah mengerjakan Rapsodia Nusantara sejak 2006 dan hingga saat ini.

Pria yang menetap di Spanyol itu mengatakan perjalanan konser “Rapsodia Nusantara” kali ini telah memberikan pelajaran tentang kebudayaan dan sejarah Indonesia yang sebelumnya dia tidak ketahui.

Misalnya, di Prambanan dia fokus tentang toleransi beragama yang telah terbangun sejak berabad-abad yang lalu.

“Yang paling jelas, Candi Sewu dan Candi Prambanan kan jaraknya sangat dekat, cuma beberapa ratus meter. Candi Sewu itu candi Buddha sedangkan Candi Prambanan itu candi Hindu, keduanya bisa terletak berdampingan, sehingga dari situ kita dapat melihat saat itu kita telah melakukan toleransi beragama dan perbedaan,” kata dia. HALAMAN SELANJUTNYA >>

Baca Juga :   Air Mancur Menari dan Balon Udara di PTC Mall Pukau Pengunjung

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Siapa Berani Mendaki “Seven Summits” Sembalun?

Mataram, KoranSN “Seven Summits” di Sembalun berdiri perkasa. Menatap dan mengawasi siapa saja yang melintas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.