Home / Seputar Polresta / Prada Deri Pramana Letakan Mayat Fera yang Dimutilasi di Sungai Lilin ke Dalam Springbed

Prada Deri Pramana Letakan Mayat Fera yang Dimutilasi di Sungai Lilin ke Dalam Springbed

Kaur Identifikasi Satreskrim Polres Muba Aipda Chandra saat menjadi saksi di Pengadilan Militer I-04. (foto-ferdinand/koransn)

Palembang, KoranSN

Dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan dan mutilasi korban Fera Oktaria (21), dengan terdakwa Prada Deri Pramana di Pengadilan Militer I-04 Palembang, Selasa (13/8) terungkap jika usai membunuh dan memutilasi tangan korban di salah satu penginapan di Sungai Lilin Muba, terdakwa meletakan jenazah Fera di dalam Springbed.

Hal ini diungkapkan Kaur Identifikasi Sat Reskrim Polres Muba, Aipda Chandra saat dihadirkan Oditur (Penuntut Umum dalam Pengadilan Militer) sebagai saksi di persidangan.

Dikatakan Aipda Chandra, saat korban Fera ditemukan tewas pada Kamis 10 Mei 2019 lalu, dirinya dan tim diminta oleh penyidik Polsek Sungai Lilin melakukan olah TKP dan identifikasi di lokasi kejadian, yakni di salah satu penginapan di Sungai Lilin Muba.

“Saat tiba di penginapan tersebut saya melihat kamar tempat korban ditemukan tewas ini berada di kamar 6, yang lokasinya di lantai dua. Ketika berada di dalam kamar tersebut, awalnya saya melihat fasilitas kamar dimana di dalam kamar ada kamar mandi, meja kayu kecil, kursi plastik kecil dan tong sampah. Kemudian ada dua tempat tidur springbed yang disatukan,” ungkapnya.

Menurutnya, disaat dirinya memeriksa springbed yang disatukan tersebutlah ia melihat sesosok jenazah perampuan tanpa mengenakan busana di dalam springbed sebelah kiri.

“Ini kan ada dua springbed, tapi keduanya dipepetkan atau disatukan. Nah, dari kedua springbed ini, springbed yang sebelah kiri di dalamnya ada jenazah korban. Jenazah tersebut bisa masuk ke dalamnya karena ada sekitar ratusan busa dari dalam springbed di keluarkan dan dipotong-potong. Kemudian busa-busa tersebut ditutupkan di atas springbed, selain itu di atas springbed juga ada tas dan koper,” ungkapnya.

Masih dikatakannya, ketika itu dirinya juga mencium aroma yang tidak sedap yang berasal dari pembusukan jenazah korban.

“Untuk jenazah korban, kondisi tangan kanannya sudah terpotong sampai ke siku. Selain itu, kulit korban sudah mulai megelupas lalu lidahnya menjulur. Kemudian di sekitaran TKP saya menemukan gergaji yang patah, lalu ada bekas makanan sate dan kulit jeruk,” ujarnya.

Bukan hanya itu lanjut Aipda Chandra, di dekat springbed yang terdapat mayat korban dirinya menemukan racun nyamuk bakar yang diikat pentolan korek api kayu, bahkan didekat racun nyamuk ini ada kain kecil yang setelah dicek, diketahui jika kain tersebut ternyata mengikat sejumlah pentolan korek api kayu.

Baca Juga :   Kehabisan Bekal, Tahanan Kabur Polresta Palembang Ditangkap

“Jadi racun nyamuk itu dirakit untuk membakar korban, apalagi ketika itu kami mencium aroma minyak di lokasi. Analisa saya, racun nyamuk ini apinya mati sebelum menyambar pentolan korek api hingga tidak terjadi kebakaran. Hal ini diperkuat dengan bukti adanya abu dari racun nyamuk yang terbakar,” terangnya.

Lebih jauh dikatakannya, usai memeriksa barang-barang yang ada di TKP barulah dirinya dan tim mencari sidik jari pelaku. Dimana awalnya pemeriksaan dilakukan terhadap enam botol air meneral yang ada di dalam kamar tersebut.

“Setelah itu kami mencari sidik jari di kamar mandi. Ini kami lakukan, karena di dekat kloset kamar mandi kami menemukan bercak darah dalam bentuk kumpalan, dan ini kami simpulkan jika darah tersebut adalah darah tulang tangan korban yang dimutilasi. Nah, dari pencarian sidik jari di kamar mandi inilah didapati sidik jari berupa jempol dan jari lainnya di dekat pintu kamar mandi,” ungkapnya.

Masih dikatakannya, usai mendapatkan sidik jari tersebut kemudian dirinya memeriksa identitas pemilik sidik jari dengan teknologi sidik jari portable yang terkoneksi dengan E-KTP.

“Saat mengecek sidik jari di TKP, ternyata tidak ada sinyalnya. Sebab teknologi sidik jari portable ini menggunakan internet karena terkoneksi dengan E-KTP. Maka dari itu, kami lagsung pulang ke Polres Muba untuk melakukan pemeriksaan,” paparnya.

Diungkapkannya, setibanya di Polres Muba dirinya langsung kembali melakukan pemeriksaan identitas sidik jari yang ditemukan dengan teknologi sidik jari portable.

“Hasilnya diketahui jika identitas sidik jari yang kami temukan di TKP yakni atas nama Deri Pramana. Setelah itu, kami pun melakukan perbandingan dengan peralatan Labfor di Polda Sumsel dan hasilnya pun sama dan tidak terbantahkan, jika sidik jari tersebut milik terdakwa Deri Pramana,” tandasnya.

Sedangkan saksi Rafida pemilik salah satu toko tas di kawasan Sungai Lilin yang juga dihadirkan Oditur sebagai saksi di persidangan tersebut mengatakan, jika saat itu terdakwa dua kali mendatangi tokonya untuk membeli tas dan dua koper. Dimana awalnya terdakwa datang dengan jalan kaki membil dua tas ransel.

“Pertama terdakwa ini datang sendirian ke toko saya pagi hari dengan jalan kaki. Setiba di dalam toko, terdakwa menanyakan harga dua tas ransel yang saya jual. Kemudian saya sampaikan kepadanya jika harga dua tas tersebut Rp 150 ribu, kemudian dia tawar Rp 95.000 dan saya berikan. Kemudian siang harinya ternyata dia (terdakwa) datang lagi dengan mengendarai motor untuk membeli koper yang saya jual seharga Rp 350 ribu, lalu ditawarnya Rp 300 ribu dan saya kasihkan,” ungkapnya.

Baca Juga :   Sidang 4 Terdakwa Dugaan Korupsi Tugu Batas Palembang, 26 Saksi Diperiksa Secara Bergilir

Menurutnya, jika dirinya sempat curiga kepada terdakwa karena dalam satu hari membeli dua tas ransel dan koper yang ukurannya cukup besar. Maka dari itulah dirinya sempat menanyakan kepada terdakwa jika tas dan koper yang dibeli tersebut untuk apa.

“Saat saya tanya terdakwa ini mengatakan jika kedua tas tersebut untuk temannya, sedangkan kalau koper katanya untuk mamak (Ibu) di Lampung,” ungkapnya.

Dikatakannya, jika toko tas miliknya tersebut berada tak jauh dari penginapan tempat korban Fera ditemukan tewas.
“Toko saya ini letaknya di pinggir jalan lintas kalau penginapan tempat korban ditemukan meninggal dunia tersebut masuk ke dalam, tapi lokasinya berdekatan,” pungkasnya.

Sementara Sersan Mayor Muchlisin anggota Den Intel Kodam II Sriwijaya yang menangkap terdakwa Prada Deri Pramana di salah satu Padepokan di Serang Banten juga dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan.

Menurut Sersan Mayor Muchlisin, penangkapan terdakwa bermula dari informasi dari bibi terdakwa, yakni Elsa yang menyampaikan jika keberadaan terdakwa di Serang Banten.

“Kami berangkat bersama bibi terdakwa ke Serang Banten. Setiba di sana kami melakukan pencarian, sebab dari keterangan bibi terdakwa jika terdakwa Prada Deri Pramana ini sempat menelponnya dan menyampaikan jika berada di Padepokan tanpa memberitahu namanya,” ujarnya.

Lanjutnya, dalam penelusuran tersebut dirinya dan tim mendatangi dua Pedepokan milik dua pesantren besar yang ada di Banten.

“Ada dua Pedepokan di sana, dan semuanya kami datangi dengan menemui pengurusnya. Untuk Padepokan yang pertama, kami tidak temukan terdakwa. Nah di Padepokan kedua, barulah terdakwa kami temukan dan kami amankan lalu dibawa ke Palembang,” tegasnya.

Usai mendengarkan keterangan para saksi selanjutnya Ketua Majelis Hakim Letkol Chk Khazim SH didampingi Hakim Anggota Letkol Sus Much Arif Zaki Ibrahim SH dan Mayor Chk Syawaluddin SH menutup persidangan dan akan kembali dibuka pada Kamis mendatang (15/8/2019).

“Sidang akan kami buka kembali pada Kamis mendatang, dengan menghadirkan saksi-saksi lainnya,” tutupnya. (ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Prada Deri Pramana Dituntut Penjara Seumur Hidup, Keluarga Fera: Kami Minta Dihukum Mati

Palembang, KoranSN Keluarga Fera Oktaria (21), korban yang dibunuh dan dimutilasi terdakwa Prada Deri Pramana …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.