Home / Gema Sriwijaya / Banyuasin / Prahu Ketek Nyaris Terbalik Ditabrak Buaya

Prahu Ketek Nyaris Terbalik Ditabrak Buaya

Ilustrasi (Foto-Net)

Banyuasin, KoranSN

Perahu ketek yang dikendarai dan ditumpangi petani dari Kelompok Tani Rangga Sentosa Desa Santan Sari Kecamatan Sembawa Kabupaten Banyuasin, Selasa (21/11/2017) ditabrak sekor buaya saat melintasi parit buatan yang bermuara di Muara Sungai Rengit. Akibatnya, ketek tersebut nyaris terbalik.

Sopir Ketek, Siroh mengatakan, saat itu ketek yang dikemudikannya hendak masuk ke lokasi sawahnya dengan menggunakan prahu ketek berpenumpang 4 orang petani. Namun ia tidak menyangka saat melintasi parit kecil di lokasi kejadian ada buayanya. Padahal, lebar parit kurang lebih 3 meter dengan panjang kurang lebih 400 meter dan kedalaman air rata-rata 1,5 meter.

Menurutnya, dikarenakan parit sempit dan tidak terlalu dalam maka membuat buaya tersebut terkejut dan langsung menabrak bagian samping ketek yang dikemudikannya. Kemudian, ia membanting stir hingga ketek menabrak tanggul sawah.

“Alhamdulillah, kami selamat dan buaya itu berenang menuju muara. Mungkin buaya tersebut yang pernah memakan seorang warga Desa Langkan Kecamatan Banyuasin III setahun lalu,” ujarnya.

Baca Juga :   Syamsudin Fei & Faisyar Dituntut KPK Dua Tahun Penjara

Dikatakannya, buaya berukuran 4 meter tersebut datang ke lokasi, kemungkinan mencium aroma manusia. Sebab, di sekitaran parit belakangan ini kerap dilalui warga untuk menanam padi di sawah. Apalagi jarak antara Muara Sungai Rengit dengan persawahan, hanya kurang dari 500 meter.

Sementara Ketua Kelompok Tani Rangga Jaya, Syamsudin mengatakan, buaya tersebut juga pernah dilihat olehnya di depan pondok (gubuk) milik warga yang berdekatan dengan pabrik padinya.

“Kita memang harus tetap mewasdai datangnya air pasang, karena kalau air pasang besar saat bulan purnama atau pertangahan awal bulan, ditandai air berbau amis, tandanya air sedang ada buaya,” terangnya.

Diungkapkannya, sebenarnya buaya itu tidak menggangu manusia selama habitatnya tidak diganggu. Namun saat ini habitat buaya mulai terusik, jadi buaya-buaya mencari makan sampai ke parit sawah.

“Kita berharap ada bantuan pemerintah atau dinas terkait agar membuatkan pintu air, agar habitat Buaya Muara Sungai Rengit yang masih ada ini tidak sampai masuk ke parit, fungsi pintu air ini juga sebagai penahan banjir,” ujar Siroh.

Baca Juga :   IBI Muratara Gelar Seminar Midwife Challenges

Terpisah, Kepala Dinas Kesbang Pol, Indra Hadi saat dikonfirmasi terkait hal tersebut mengatakan, akan segera turun ke lokasi untuk melihat perlu tidaknya parit tersebut dibuat pintu air. Sebab jika luas lahan di Gapoktan Rangga Sentosa kurang dari 1000 ha, artinya pembangunan irigasi tanggung jawab Pemkab Banyuasin, tapi kalau di atas 1000-3000, wewenang PU Provinsi dan di atas 3000 Ha tanggung jawab Balai Besar perwakilan Kementrian PU.

“Kalau untuk pertanian pasti akan kita prioritaskan, karena petani ini kan dipandang sebagai mayarakat kelas dua, padahal petani itu sendiri penyelamat bangsa saat Indonesia pernah dilanda krisis moneter,” ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Sabtu lalu (14/7/2017) sekitar pukul 15.00 WIB, Buaya Muara Sungai Rengit sempat mengganas dengan menerkam dan memakam korban M Yunus (53), warga Desa Langkan Dusun I RT 6 Kecamatan Banyuasin III. Kejadian itu terjadi di Muara Sungai Rengit saat korban sedang menjaring ikan. (sir)

Publisher : Apriandi

Avatar

Lihat Juga

401 Calon Kades Gelar Deklarasi Damai

Muara Enim, KoranSN Sebanyak 401 calon kades menyatakan deklarasi damai dalam rangka pelaksanaan Pilkades serentak …