Penyerahan Dokumen Syarat Minimal Dukungan Pasangan Calon Perseorangan Dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Tahun 2020
Home / Kesehatan / Produk Radiofarmaka Batan-Kimia Farma Berpotensi Ekspor

Produk Radiofarmaka Batan-Kimia Farma Berpotensi Ekspor

Peneliti dari Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka, Titis Sekar Humani menunjukkan Samarium-I53-EDTMP, obat pereda nyeri pada tulang yang diderita pasien kanker, di sela-sela acara Persiapan Pameran Indonesia Innovation Day 2019 di Eropa. (foto-antaranews)

Jakarta, KoranSN

Produk radiofarmaka Indonesia yang merupakan hasil kerja sama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan PT Kimia Farma memiliki potensi untuk merambah pasar ekspor.

“Jadi memang upaya kita punya proyeksi jangka panjang dan bahkan ke depannya mau merambah pasar ekspor. Karena ini (radiofarmaka) adalah niche market, bahkan di Indonesia sekalipun ini masih niche market,” ujar New Product Development Manager Kimia Farma Ridho Eko Mulyono ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Niche market adalah pasar yang fokus terhadap suatu jenis atau layanan tertentu, yang merupakan salah satu indikator dari pasar radiofarmaka yang masih jarang ditemui produknya di Indonesia sendiri.

Baca Juga :   Manfaat Kesehatan Menghirup Napas Dalam-dalam

Banyak negara yang bisa menjadi ekspor produk radiofarmaka seperti Malaysia dan Filipina, ujar Ridho, karena meski memiliki sentra kedokteran nuklir, mereka jarang memproduksi radiofarmaka sendiri.

Bahkan, kamera gamma yang diperlukan untuk pencitraan radiasi radioisotop yang masuk dalam produk radiofarmaka hanya ada 7 yang beroperasi dengan baik.

Sebelumnya, BATAN dan Kimia Farma sudah melakukan kerja sama untuk lima produk radiofarmaka yang setelah mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan hingga akhirnya mendapatkan persetujuan registrasi Nomor Izin Edar.

Radiofarmaka sendiri adalah senyawa kimia yang mengandung atom radioaktif dalam strukturnya dan digunakan untuk diganosis atau terapi. Obat dan farmakologi itu dihasilkan dari radiofarmasi atau menggunakan teknologi nuklir.

Baca Juga :   Dinkes Bandarlampung Klaim Angka Stunting Rendah

Lima produk hasil kerja sama BATAN dan Kimia Farma itu sudah digunakan oleh kedokteran nuklir di Indonesia, yang pakarnya sendiri di Indonesia masih belum banyak.

“Pemahaman masyarakat terkait kegunaan kedokteran nuklir ini memang masih merupakan PR juga bagi Kimia Farma, BATAN dan buat kedokteran nuklir untuk mengedukasi tidak hanya pasien tapi kedokteran yang lain,” ujar dia.

Lima produk kerja sama BATAN dan Kimia Farma itu adalah Kit MIBI untuk mendiagnosis fungsi jantung, Kit MDP untuk diagnosis penyebaran kanker di dalam tulang, DTPA untuk diagnosis fungsi ginjal, Radiofarmaka Senyawa Bertanda 153 Sm-EDTMP atau samarium yang digunakan untuk terapi paliatif atau mengurangi rasa nyeri kepada penderita kanker.

Dan yang terakhir, adalah Radiofarmaka Senyawa Bertanda 131 I-MIBG digunakan untuk mendiagnosis kanker neuroblastoma, atau sistem saraf pada anak-anak. (Antara/ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Dinkes Bandarlampung Klaim Angka Stunting Rendah

Bandarlampung, KoranSN Dinas Kesehatan Bandarlampung mengklaim bahwa angka stunting di kota setempat masih terbilang rendah, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.