PSBB dan Pengendalian Kasus COVID-19 di Kota Palembang

Sri Yulia, SKp., M.Kep. (foto-ist)

MEMBANDINGKAN kondisi Kota Palembang saat ini di awal Juni dengan kondisi Kota Palembang saat kasus COVID-19 terkonfirmasi positif pertama kali di Indonesia pada 02 Maret 2020 dan temuan kasus terkonfirmasi positif di Sumatera Selatan pada 24 Maret 2020, menghasilkan banyak penilaian dan persepsi mengenai bagaimana sikap dan perilaku masyarakat Kota Palembang dalam beraktifitas sehari-hari dan dalam merespon kondisi dan kebijakan yang ada seiring dengan didapatkannya kasus COVID-19 terkonfirmasi positif di kota ini. Kondisi ini serta merta menjadi sebuah fenomena yang sangat banyak direspon masyarakat, mengingat penambahan kasus COVID-19 yang terkonfimasi positif hingga saat ini masih menunjukkan angka yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan.

Hingga 07 Juni 2020 data WHO menunjukkan total sebanyak 6.750.521 kasus terkonfirmasi positif dan 395.779 meninggal akibat COVID-19 dengan angka kematian sebesar 51 per 1 juta penduduk dari total 7.794.798.739 penduduk di dunia. Indonesia berada di urutan 31 dari 216 negara yang terjangkit pandemi COVID-19, dimana sebanyak 195 negara menemukan kasus akibat transmisi lokal.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 pada tanggal 07 Juni 2020 menyatakan bahwa di Indonesia terdapat 31.186 kasus terkonfirmasi positif, 10.498 kasus sembuh dan 1.851 meninggal akibat COVID-19. COVID-19 telah menimbulkan dampak di 422 kabupaten/kota dan 34 provinsi dengan angka kematian sebesar 7 per 1 juta penduduk dari total 269.603.400 penduduk di Indonesia.

Data Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan 1.129 kasus terkonfirmasi positif, 344 kasus sembuh dan 42 meninggal akibat COVID-19. Sedangkan data Kota Palembang menunjukkan 672 kasus terkonfirmasi positif, 167 kasus sembuh dan 27 meninggal akibat COVID-19, dan terdapat sebanyak 2046 Orang Tanpa Gejala (OTG) yang berada di Kota Palembang.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah ditetapkan di 4 provinsi dan 10 kabupaten/kota di Indonesia. Kota Palembang pada tanggal 12 Mei 2020 berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI ditetapkan sebagai kota yang menjalankan PSBB yang secara efektif diberlakukan mulai tanggal 26 Mei sampai dengan 02 Juni 2020. Selanjutnya terhitung 03 sampai dengan 16 Juni 2020 Kota Palembang menjalani tahap PSBB tahap kedua yang ditujukan untuk menyongsong kenormalan baru. Palembang termasuk wilayah yang menemukan kasus COVID-19 dengan transmisi lokal. Bahkan sebelum PSBB ditetapkan sebanyak 310 orang (58%) kasus di Sumatera Selatan ada di Kota Palembang yang salah satunya mendasari ditetapkannya PSBB Kota Palembang.

Kementerian Kesehatan RI melalui Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat menyatakan bahwa hampir 80% penderita COVID-19 tidak mengalami gejala. Kota Palembang telah mengidentifikasi hingga tanggal 07 Juni 2020 terdapat 2046 Orang Tanpa Gejala (OTG) yang menyebar di 18 kecamatan se-Kota Palembang. Sementara itu, hasil penelitian yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa varian virus yang berkembang di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri sebagaimana yang disampaikan oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman maupun dari pakar epidemiologi Universitas Indonesia menunjukkan bahwa virus ini terus bermutasi. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para ilmuwan di Indonesia maupun di seluruh dunia dalam proses menciptakan vaksin yang tepat.

Penyebaran masih berlangsung dan hal ini seharusnya menjadikan semua pihak tetap waspada terhadap potensi untuk menjadi tidak terkendali. Upaya membangun optimisme berbasis pada pengetahuan yang benar dan tepat terkait virus COVID-19 adalah suatu hal penting yang perlu diperhatikan semua pihak yang berpentingan. Hal ini tentu saja perlu dipahami oleh berbagai pihak, bahkan hingga ke seluruh elemen masyarakat. Perlu ada penguatan pengetahuan masyarakat sehingga optimisme masyarakat untuk mengatasi dampak terhadap berbagai aspek kehidupan akibat COVID-19 menjadi modal dalam upaya melawan penularan COVID-19.

Baca Juga :   70.000 Layang-Layang Meriahkan HUT Kodam

Cukup banyak informasi yang dapat didapatkan mengenai tantangan dan strategi negara di luar Indonesia dalam mengendalikan pandemi COVID-19 dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya sesuai dengan kapasitas wilayah dan negaranya masing-masing. China dan Korea Selatan bahkan menunjukkan temuan kasus baru setelah sebelumnya mengalami penurunan kasus dan melonggarkan pembatasan aktifitas masyarakat. Sedangkan keberhasilan melakukan kontrol terhadap wabah COVID-19 di Jepang dan Vietnam adalah dengan cara menguatkan peran tenaga kesehatan pada pusat pelayanan kesehatan di masyarakat (CDC: Community Diseases Centre) dalam melakukan penelusuran secara ketat terhadap kasus yang terkonfirmasi. Keseluruhan pengalaman ini selayaknya menjadi perhatian dalam memperbaiki upaya pengendalian infeksi virus ini.

Upaya pembangunan kesehatan yang pada prinsipnya melibatkan komponen penting berupa peran serta aktif masyarakat, pemerintah dan swasta dalam membangun sistem kesehatan yang kuat sebaiknya menjadi strategi efektif yang dipedomani untuk mengoptimalkan upaya pengendalian COVID-19. Berbagai dampak yang timbul berupa stigma negatif yang berdampak pada kehidupan sosial masyarakat juga turut menjadi persoalan tersendiri yang harus jadi perhatian. Saat ini masyarakat masih cenderung dianggap sebagai obyek dengan keterlibatan minimal dan sebagian lagi cenderung menganggap dirinya adalah obyek dari upaya kesehatan. Padahal justru masyarakatlah sebagai titik tumpu keberhasilan upaya pengendalian penyebaran virus ini dengan perannya sebagai subyek dari upaya pembangunan kesehatan. Pemerintah perlu memperhatikan aspek ini agar peran yang dibangun bagi masyarakat oleh segenap stakeholder adalah menjadikan masyarakat sebagai subyek kunci dari pembangunan kesehatan. Keberadaan kader kesehatan COVID-19 di masyarakat dapat menjadi salah satu alternatif solusi agar berbagai upaya strategis yang telah ditetapkan dalam pengendalian pandemi COVID-19 dapat didukung oleh pemberdayaan masyarakat secara optimal. Keberadaan kader kesehatan COVID-19 menjadi bagian yang penting dalam mendukung sistem kesehatan yang ada di Kota Palembang.

Hal yang juga patut menjadi catatan penting kita semua adalah bahwa patokan pandemi ini terkendali adalah infeksi terkendali dan kematian terus menurun. Setiap jenis kluster pastinya memerlukan pendekatan yang berbeda dalam proses pengendalian kasus khususnya untuk kasus terkonfirmasi tanpa gejala, tetapi pemberdayaan support system masyarakat seharusnya terjadi di masyarakat. Stigma negatif masih menjadi persoalan di masyarakat dan ini butuh penyelesaian secara adekuat agar sumber daya yang ada di masyarakat menjadi kekuatan dalam pengendalian infeksi. Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa setiap individu merupakan anggota masyarakat yang bertanggung jawab untuk melakukan upaya promotif dan preventif. Hal ini menjadi sebuah pengingat yang perlu diperhatikan agar semua pihak dalam menyadari dan mengoptimalkan peran pentingnya dalam mengendalikan penyakit ini.

Jika kita lihat bagaimana persepsi masyarakat terhadap COVID-19 di banyak tempat, kita dapat menemukan bahwa persepsi ini sangat dipengaruhi oleh banyak hal. Dryhurst, et al (2020) dalam penelitiannya mengenai persepsi terhadap COVID-19 di seluruh dunia, menemukan bahwa pengalaman personal mengenai virus, nilai individual dan prososial, informasi dari teman dan keluarga, kepercayaan terhadap pemerintah, ilmu dan professional tenaga kesehatan, pengetahuan personal tentang strategi pemerintah, serta keyakinan personal dan kolektif merupakan faktor prediktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap COVID-19.

Selain itu, edukasi protokol kesehatan sebaiknya disertai dengan evaluasi secara komprehensif terhadap perilaku masyarakat secara langsung. Hal ini untuk memastikan bahwa perilaku menerapkan protokol kesehatan adalah perilaku yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan kontinyu oleh semua komponen masyarakat tanpa kecuali. Angka temuan kasus terkonfirmasi positif, dengan atau tanpa gejala tentu saja harus menjadi base line dari semua aspek yang berhubungan dengan perilaku penerapan protokol kesehatan dan menjadi indikator evaluasi terhadap besarnya risiko penularan virus ini.

Baca Juga :   20 Warga Palembang Positif Corona, 2 Meninggal

Penerapan kebijakan mengenai PSBB yang tetap menekankan pentingnya penerapan protokol standar secara komprehensif adalah hal penting yang juga harus tetap diperhatikan oleh semua pihak. Penggunaan masker hanya merupakan bagian dari strategi komprehensif dalam memerangi COVID-19 karena masker tidak menggantikan physical distancing, kebersihan tangan dan berbagai upaya untuk menjaga kesehatan lainnya. Rekomendasi WHO mengenai panduan baru penggunaan masker medis bagi daerah dengan tingkat penularan yang luas, daerah dengan transmisi lokal maupun individu dengan usia lebih dari 60 tahun yang memiliki masalah kesehatan bawaan saat physical distancing tidak memungkinkan, termasuk saat ada indikasi meluasnya infeksi merupakan hal-hal baru yang selayaknya dipastikan dipahami dan diterapkan dengan baik oleh masyarakat. WHO menyatakan bahwa pemerintah harus mendorong masyarakat terkait hal ini.

Perkembangan jumlah kasus terkonfirmasi positif, angka reproduksi kasus, jumlah kematian dan sebaran kasus, adalah hal prinsip yang tidak boleh diabaikan dalam menentukan langkah-langkah pencegahan penularan dan pengendalian kasus COVID-19. Kecenderungan munculnya kluster penularan baru seperti keluarga dan kelompok masyarakat tertentu, menjadikan semua pihak, tanpa kecuali, baik tenaga kesehatan atau masyarakat awam, agar mampu betul-betul memahami hal-hal ilmiah dan benar serta berbasis fakta yang teruji baik sumber maupun metodanya dalam menyikapi hal-hal terkait COVID-19, khususnya mengenai upaya memutus rantai penularan.

Diperlukan edukasi yang masif dan tepat baik metode maupun isinya agar ada peningkatan pengetahuan dan sikap yang secara signifikan mempengaruhi perilaku individu di masyarakat agar tetap mentaati protokol kesehatan di masa pandemi. Seiring dengan kembali diberlakukannya PSBB tahap 2 di Kota Palembang, konteks penularan COVID-19 belum dapat sepenuhnya dikatakan terkendali mengingat risiko munculnya kluster baru masih mungkin saja terjadi sebagai dampak adanya perubahan pembatasan aktifitas yang menyesuaikan dengan regulasi PSBB 2 yang mengalami perubahan. Memastikan masyarakat memiliki perilaku kesehatan yang selalu menerapkan protokol kesehatan di masa PSBB tahap kedua menjadi suatu kebutuhan mutlak agar hasil yang diharapkan dari PSBB berdampak pada pengendalian infeksi COVID-19 di Kota Palembang.

Kita telah sama-sama menyadari bahwa begitu banyak aspek kehidupan yang terpengaruh akibat pandemi ini. Tanpa kecuali. Negatif maupun positif, konstruktif maupun destruktif. Dan salah satu yang dampak paling besar yang dapat kita lihat adalah bagaimana seluruh aspek kehidupan masyarakat mengalami perubahan signifikan dan bahkan melahirkan kesadaran mengenai sejauh mana kesiapan kita dalam menghadapi suatu pandemi.

Pengetahuan individu yang bervariasi dan dinamis, sangat menentukan bagaimana persepsi dan perilaku yang terlihat dari sikap dan tindakan individu di masyarakat dalam merespon keberadaan virus COVID-19 dan dampak yang ditimbulkannya.

Termasuk bagaimana mampu bertahan dan melawan risiko akibat hadirnya virus ini di masyarakat. Kesadaran masyarakat, apapun peran dan posisinya di masyarakat menjadi kunci penentu keberhasilan untuk memutus mata rantai penularan dan pengendalian COVID-19 di Kota Palembang. Masyarakat produktif dan aman hanya dapat diwujudkan dengan komitmen kuat dari semua. Palembang EMAS yang sehat, aman dan produktif warganya adalah harapan dari semua warga Kota Palembang.(***)

Sri Yulia, SKp., M.Kep.
Dosen STIKes Muhammadiyah Palembang
Mahasiswa Doktoral Keperawatan Universitas Indonesia
Majelis Kode Etik Kehormatan PPNI Provinsi Sumatera Selatan

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Direktur Intelkam Polda Sumsel Ajak Kaum Milenial Berperan Menangkal Radikalisme

Palembang, KoranSN Direktur Intelkam Polda Sumsel, Kombes Pol Ratno Kuncoro SIK MSi, Sabtu (10/4/2021) pukul …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.