Radikalisme Bukan Bagian Dari Islam

Husein Askari Ali Idrus. (Foto-Dok/KoranSN)

Bismillahirrahmanirrahim

Segala Puji bagi Allah SWT, Tuhan pemilik seluruh keindahan dan semesta, Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi tercinta Muhammad, kepada Keluarga, Sahabat dan pengikutnya yang setia hingga hari kemudian..

Pada kesempatan kali ini, saya ingin memulai dengan sebuah artikel yang menarik antara seorang ulama dan seorang pemuda yang radikal.

Seorang ahli tafsir terkenal dari Negeri Mesir bernama Syaikh Mutawalli Sya’rawi pernah bertemu dengan seorang pemuda yang berpaham radikal.

Ia pun bertanya,“Hai anak muda, jika kau melihat orang yang melanggar syariat Allah dan berbeda pandangan dengamu, apa yang kau lakukan?”

“Aku akan membunuhnya !” jawabnya.

“Setelah kau bunuh, mereka akan kemana?” tanya ulama’ tersebut.

“Jelas mereka akan masuk neraka!” jawabnya.

“Berarti kau telah membantu mensukseskan agenda Iblis yang ingin memenuhi neraka dengan anak Adam. Dan aku melihat kau berbeda dengan junjungan kita, Nabi Muhammad saw.” beliau menjelaskan.

“Apanya yang berbeda? Bukankah aku sedang memperjuangkan kebenaran dan syariat Allah?” bantah pemuda itu.

“Aku pernah membaca dalam sebuah riwayat, saat Rasulullah SAW duduk bersama para sahabatnya, ada rombongan yang mengantar jenazah seorang yahudi lewat dihadapan beliau. Seketika Rasul berdiri melihat jenazah tersebut sambil menangis. Para sahabat pun bertanya kenapa beliau menangisi jenazah seorang yahudi. Rasul pun menjawab bahwa ia bersedih karena masih ada jiwa yang belum beliau selamatkan menuju surga.”

Kisah ini ingin menjelaskan kepada kita bahwa ajaran Islam adalah menyelamatkan orang yang berada dalam jalan yang salah, bukan membunuh yang berbeda dan mengantarkannya ke neraka.

Baca Juga :   Pemkot-DPRD Bahas Raperda untuk Kemajuan Kota Palembang

Melalui kisah ini kita dapat mengetahui siapa yang ingin memperjuangkan sunnah Nabi dan siapa yang ingin mensukseskan agenda Iblis.

Agama seharusnya menjadi sebuah jalan yang menghantarkan manusia pada kedamaian, kebaikan, kesuksesan dan cinta, bukan justru menjadi ancaman, ketakutan, dan kekhawatiran.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama.

Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama.

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu, Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya?

Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.

Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas diantara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.

Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.

Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.

Dulu agama ditempuh untuk mencari Wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.
Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.

Baca Juga :   Sumsel Kembali Kehilangan Putra Terbaik

Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.

Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh? Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci? Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.

Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama.
Rasulullah Muhammad saw bersabda:

‘Sesungguhnya yang paling Aku takutkan atas ummatKu ialah para ulama yang menyesatkan,’ di akhir zaman ada orang orang yang menjual dunia dengan agama memakai baju putih(sufi) agar tampak tawadhu bicara lebih manis dari gula tapi berhati srigala.”( HR Tirmidji )

Imam Ali bin Abi Thalib berkata;
‘Ilmu orang beriman itu ada pada Amalnya sedang Ilmu orang Munafik ada pada Lisannya’.
Imam Jafar Ash Shadiq berkata;

“Kedalaman agama seseorang bukan dilihat dari banyaknya sholat ataupun puasa yang ia lakukan tapi dilihat darimana ia memperlakukan orang lain.” Wallahu A’lam. (Husein Askari Ali Idrus)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Herman Deru Ajak Jemaah Masjid Asy-Syakirin Sukseskan Program Vaksinasi Covid

Palembang, KoranSN Gubernur Sumsel, H Herman Deru meminta masyarakat untuk ikut dalam vaksinasi virus Covid-19 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.