Security PT Lonsum Tewas Usai Dibacok dan Ditusuk Keris

Tersangka Najamudin memperagakan menusuk perut korban dengan keris. (Foto-Dedy/KoranSN)

Palembang, KoranSN

Pihak kepolisian Unit IV Subdit III Ditreskrimum Polda Sumsel, Senin (22/10/2018) menggelar rekonstruksi bentrok sengketa lahan antara warga SP 3 Desa Suka Makmur Kecamatan Gumay Talang Kabupaten Lahat dengan PT London Sumatera (Lonsum) hingga berujung tewasnya security PT Lonsum, Ristal Alam (27).

Terungkap dalam rekonstruksi yang digelar 15 adegan tersebut, korban tewas usai dibacok golok dan ditusuk dengan keris.

Rekonstruksi ini dilakukan di Lapangan Tembak Mapolda Sumsel dengan menghadirkan tiga tersangka yang menganiaya korban hingga tewas serta oknum Kades Suka Makmur Kecamatan Gumay Talang Kabupaten Lahat, yang ditangkap karena menjadi provokator dalam bentrok tersebut.

Adapun para tersangka tersebut yakni; Najamudin (46), warga SP 3 Palem Baja Desa Desa Suka Makmur Kecamatan Gumay Talang Lahat, Herliansyah (29) warga Desa Tanah Pilih Kecamatan Gumay Talang Lahat, Yandri (35) warga Desa Tanjung Baru Kecamatan Gumay Talang Lahat, dan Risansi alias Anggok (48) yang merupakan oknum Kades Suka Makmur.

Tampak dalam adegan ke-1 rekonstruksi, kejadian yang menewaskan korban Ristal Alam bermula saat oknum Kades Suka Makmur yakni tersangka Risansi mengumpulkan warga di balai desa. Kemudian pada adegan ke-2 dan ke-3, tersangka menyampaikan kepada warganya untuk melakukan patroli dan menghentikan kegiatan memanen yang dilakukan PT Lonsum di lahan yang disengketakan.

“Saat berkumpul di balai desa, saya hanya sampaikan jangan anarkis dan tahan diri, itu saja,” katanya saat memperagakan adegan rekonstruksi.

Namun pengakuan tersangka Risansi dibantah oleh tersangka Najamudin, Herliansyah dan Yandri. Dikatakan mereka jika saat berkumpul di balai desa, tersangka Risansi sempat menyampaikan ke warga dengan kata-kata bentrok.

“Kata Pak Risansi saat di balai desa kalau bentrok ya bentrok,” ujar Najamudin, Herliansyah dan Yandri secara bergantian.

Sebab usai mendengarkan perkataan dari tersangka Risansi di balai desa hingga membuat tersangka Najamudin, Herliansyah dan Yandri pulang ke rumah lalu mengambil senjata tajam jenis samurai, golok dan keris, kemudian ketiga mengendarai mobil pick up menuju areal perkebunan PT Lonsum. Hal tersebut terungkap dalam adegan rekonstruksi ke-4 dan ke-5.

Kemudian pada adegan ke-6, ketiga tersangka tiba di lokasi kejadian dan melihat para pegawai PT Lonsum sedang memanen sawit. Melihat hal tersebut ketiganya menyetop kegiatan memanen dengan berteriak.

Baca Juga :   Tim Pemburu Koruptor Diaktifkan Lagi, Pengamat: Tidak Efektif

“Saat itu kami berteriak dengan kata-kata “Woi, berhenti memanen”, perkataan tersebut kami teriakan sembil memegang senjata tajam di tangan kami,” ungkap tersangka Najamudin.

Tampak pada adegan ke-7, mendengar teriakan dari ketiga tersangka yang meminta memberhentikan kegiatan memanen membuat korban Ristal Alam dan beberapa temannya sesama security PT Lonsum mendatangi ketiga tersangka. Kemudian korban mendekati tersangka Najamudin untuk mengambil samurai yang saat itu berada di tangan tersangka. Namun saat kejadian, tersangka Yandri mendorong korban lalu diwaktu bersamaan dari arah belakang tersangka Herliansyah langsung membacok punggung belakang korban. Bahkan pada
adegan ke-8, terlihat korban jatuh ke tanah usai dibacok oleh tersangka.

Lalu pada adegan ke-9 dan ke-10, tersangka Najamudin mencabut keris dari pinggangnya, kemudian tersangka menikamkan keris tersebut ke perut kanan korban yang saat kejadian korban Ristal Alam sedang terbaring di tanah.

Pada adegan ke-11, usai membacok dan menikam korban, ketiga tersangka mengayun-ayunkan senjata tajam sehingga membuat security lainnya yang ada di lokasi tidak berani mendekati tersangka. Kemudian pada adegan ke-12 dan ke-13, pihak kepolisian yang mendapati informasi kejadian tersebut mendatangi lokasi kejadian dan lengsung mengepung para tersangka hingga akhirnya tersangka berhasil ditangkap di tempat kejadian perkara (TKP).

Sedangkan pada adegan ke-14, korban Ristal Alam dilarikan ke rumah sakit namun nyawa korban tak tertolong hingga korban meninggal dunia. Sementara pada adegan ke-15, tampak ketiga tersangka dibawa pihak kepolisian ke Mapolres Lahat.

Kanit IV Subdit III Ditreskrimum Polda Sumsel, Kompol Zainury mengatakan, digelarnya rekonstruksi kasus penganiayaan hingga membuat korban Ristal Alam tewas bertujuan untuk melengkapi berkas perkara yang dalam waktu dekat akan diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Ada 15 adegan dalam rekonstruksi ini. Rekonstruksi yang kami gelar tersebut untuk mengulangi fakta kejadian yang sebenarnya terkait tewasnya korban,” ungkapnya.

Masih dikatakan Zainury, rekonstruksi sengaja digelar di Mapolda Sumsel karena ada beberapa pertimbangan yang diantaranya guna keamanan para tersangka dari amukan keluarga korban.

“Walaupun usai kejadian tewasnya korban ini diketahui jika antara korban dan tersangka ternyata masih satu Jerai atau satu keturunan keluarga, mesekipun demikian demi keamanan maka rekonstruksi kasus ini kami gelar di Mapolda Sumsel,” tandasnya.

Baca Juga :   Tersangka Penodong Diringkus

Diberitakan sebelumnya, kejadian bentrok yang menewaskan korban terjadi, Jumat 21 September 2018. Korban tewas mengenaskan dengan luka bacokan senjata tajam dan luka tusuk di perut.

Tewasnya korban ini merupakan buntut protes terhadap pembukaan portal dan pemanenan perdana di areal perkebunan PT Lonsum yang dianggap masih sengketa oleh warga. Sebab sebelumnya Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Pertanahan Kabupaten Lahat membacakan SK Bupati Lahat, yang membuka portal lahan seluas 303 hektar oleh warga di Desa Suka Makmur.

Dengan dibacakan SK tersebut maka lahan berupa perkebunan kelapa sawit yang ada di lokasi kejadian kini kembali dikelola oleh PT Lonsum. Selanjutnya, pihak perusahaan melakukan pemanenan di kebun tersebut.

“Kompensasi telah diberikan, tentu warga eks transmigrasi SP III Desa Suka Makmur tidak akan menuntut lagi lahan usaha II kepada PT Lonsum dan Pemkab Lahat,” tegas Ketua Tim Identifikasi dan Verifikasi Penanganan Sengketa Tanah Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (PR-KPP) Kabupaten Lahat, Nazarudin Effendi saat itu.

Menurut Nazarudin Effendi, SK Bupati Lahat nomor 196/KEP/III/2012 tentang penyelesaian permasalahan lahan usaha II warga eks transmigrasi SP III BM V/B Desa Suka Makmur Kecamatan Gumay Talang, sebenarnya telah diselesaikan.

Perkebunan itu telah dikuasai masyarakat sejak tahun 2012 yang lalu. Kemudian, ada penyelesaian namun muncul kembali permasalahan di tahun 2014, masyarakat kembali mengklaim lahan itu milik mereka.

“Jika ada permasalahan, silahkan masyarakat bernegosiasi dengan membawa bukti-bukti terkait klaim lahan yang ada dan menyelesaikan secara hukum. Kita bacakan SK Bupati Lahat ini sesuai aturan” jelasnya.

Terpisah, Lawyer PT PP Lonsum Tbk, Agus Effendi menegaskan, tidak akan membuka pintu mediasi.

“Kita siap menunggu mereka (warga) ke ranah hukum. Semua proses penyelesaian terhadap warga telah dilakukan pihak perusahaan. Ini memang hak PT Lonsum yang telah dikuasai warga sejak lama,” katanya. (ded/rob)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Apriandi

Avatar

Lihat Juga

Kecelakaan Maut di Tol Kayuagung 4 Tewas 1 Luka

Kayuagung, KoranSN Empat orang tewas di TKP dan 1 luka-luka dalam kecelakaan maut yang terjadi …