Sekda Pemkab Muba Sohan Majid Menangis di Persidangan

5
Sekda Pemkab Muba Sohan Majid, meninggalkan saat akan meninggalkan PN Palembang, Kamis (10/9), (foto-sn/Ferdinand)

Palembang, SN
Merasa terzolimi Sekda Pemkab Muba Sohan Majid, Kamis (10/9), menangis di depan majelis hakim saat menjadi saksi
Syamsudin Fei (Kepala DPPKAD Muba) dan Faisyar (Kepala BAPPEDA), terdakwa kasus dugaan suap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kepala Daerah Muba tahun 2014 dan pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Muba tahun 2015, di PN Tipikor Kelas IA Palembang.

Sohan nampak menangis terisak-isak, sembari menjelaskan pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK yang mencecarnya terkait kasus dugaan suap yang terjadi.

“Kami ini terzolimi, mereka (DPRD Muba) meminta sejumlah uang agar LKPJ 2014 dan APBD Muba tahun 2015 dapat disahkan pembahasannya di DPRD,” kata Sekda menangis terisak.

Dengan kejadian itu, majelis hakim yang diketuai Farlas Nababan menenangkan Sekda. Setelah tenang, Sohan Majid kembali menjelaskan kesaksiannya.

Menurutnya, sebelum terjadi operasi tangkap tangan (OTT) KPK di kediaman tersangka ‘BK’. Sebelumnya, empat pimpinan DPRD Muba ‘RI’, ‘AF’, ‘IH’, dan ‘D’ (keempatnya telah ditetapkan tersangka) melakukan pertemuan dengannya dan terdakwa Syamsudin Fei serta Faisyar di ruang rapat kantor BAPPEDA Muba. Ketika itu, empat pimpinan DPRD menyatakan jika mereka meminta sejumlah uang agar pengesahan LKJP dan APBD Muba dapat dipercepat.

“Mereka (pimpinan DPRD) berkata terus terang meminta uang. Kalau jumlahnya saya tidak tahu, bahkan ada juga ancaman dari mereka yang intinya jika kami tidak memberikan uang itu maka mereka tidak mau membahas LKJP dan ABPD tersebut,” ujarnya.

Saat disinggung jaksa apakah ditahun sebelumnya juga pernah terjadi pengesahan LKJP dan APBD yang diperlambat. Dikatakan Sekda jika itu pernah terjadi. Namun sayangnya Sekda mengaku tidak mengetahui persis kapan terjadinya. “Pernah pengesahan LKJP dan APBD berlarut-larut seperti kejadian ini. Tapi, saya tidak tahu kapan dan tahun berapa,” tandasnya.

Usai mendengarkan kesaksian dari Sekda Muba, selanjutnya jaksa menghadirkan enam saksi lainnya mereka yakni, Mantan
Sekertaris DPRD Muba Muhammad Sayuti, Tri Maya pegawai swasta PT Energi Cipta Utama, Agus Triawan anggota Sat Brimob Polda Sumsel, sopir tersangka ‘BK’ Yamin, Plt Sekertaris DPRD Muba M Thabrani Rizki, serta Kasubag Protokol Pemkab Muba Ahmad Riswan.

Sementara dari keterangan Muhammad Sayuti (Mantan Sekertaris DPRD Muba) di dalam persidangan diketahui jika ia dilengserkan dari jabatannya sebagai Sekertaris DPRD Muba tanggal 3 Juni 2015 berdasarkan SK Bupati Muba. Ia mengaku dibangku panjangkan dan kini menjabat sebagai staf biasa di Pemkab Muba.
Bahkan dalam kesaksiannya Muhamad Sayuti menjelaskan, uang suap diberikan dua tahap sebelum dilakukan operasi tangkap tangan. Semua
uang itu, diserahkan oleh istri Bupati ‘L’ kepada pimpinan dan sejumlah anggota DPRD Muba melalui tersangka ‘BK’.

Baca Juga :   Setubuhi Anak di Bawah Umur, Warga Lubuklinggau Ditangkap Polisi

“Ketika saya masih menjabat sebagai Sekwan ‘BK’ bercerita kepada saya jika uang itu diberikan istri Bupati Muba. Awalnya bulan Januari 2015 diterima uang dari ‘L’ sekitar Rp 2,6 miliar. Oleh ‘BK’, uang itu dibagi-bagikan dimana setiap pimpinan DPRD mendapatkan bagian Rp 100 juta, Koperasi Rp 75 juta, dan untuk setiap anggota DPRD masing-masing Rp 50 juta. Kemudian, ibu ‘L’ kembali memberi uang Rp 200 juta kepada ‘BK’. Lalu, uang itu diberikan ‘BK’ kepada empat pimpinan DPRD, masing-masing mendapatkan Rp 50 juta. Sedangkan untuk uang Rp 2,56 milar yang tertangkap tangan pada saat OTT, itu saya tidak mengetahui persis dan Alhamdulilah saya tidak mendapatkan uang tersebut,” paparnya.

Sedangkan Tri Maya, pegawai bagian pembukuan dan bendahara PT Energi Cipta Utama menjelaskan, sebagian saham perusahaan tempatnya bekerja merupakan milik istri Bupati Muba ‘L’ yang juga sebagai direkturnya. Perusahaan itu, bergerak dibidang SPBU yang ada di Kota Palembang.

Dikatakan Tri Maya, pada tanggal 18 Maret 2015 awalnya ‘L’ menelponnya untuk menyiapkan uang Rp 2,56 miliar dari kas SPBU. Namun disaat itu ia mengaku uang kas hanya ada Rp 2,37 milar. Untuk mencukupinya maka ‘L’ memerintahkannya mengambil uang dari uang kas di dua butik milik ‘L’.

“Uang itu saya yang mengantarkannya ke rumah ibu ‘L’. Setelah itu, tanggal 4 April 2015 ibu ‘L’kembali menelpon dan mengatakan meminjam uang Rp 200 juta. Kemudian uang itu diambil terdakwa Syamsudin Fei di kantor SPBU. Saya tidak tahu uang itu untuk apa saya hanya mejalankan perintah ibu ‘L’,” jelasnya.

Saksi lainnya, Agus Triawan yang merupakan anggota kepolisian di Sat Brimob Polda Sumsel mengutarakan, ia menjadi saksi dikarenakan saat OTT terjadi dirinya berada di kediaman ‘BK’. “Istri saya dan istri ‘BK’ merupakan kakak adik. Jadi saat OTT terjadi kebenaran saya di rumah ‘BK’ hingga sayapun dibawa penyidik KPK ke Mako Brimob,” tutupnya.

Sedangkan Plt Sekertaris DPRD Muba M Thabrani Rizki saat bersaksi mengaku, tidak mengetahui persis kasus dugaan suap yang terjadi. Pasalnya ia baru menjabat sebagai Sekwan. “Bahkan usai terjadinya kasus OTT kondisi di DPRD saat ini banyak anggota DPRD yang menghilang hingga sulit untuk berkomunikasi,” katanya.
Pantauan di lapangan, dalam persidangan tersebut JPU KPK menampilkan CCTV dikediaman ‘BK’ yang merekam saat terdakwa Syamsudin Fei dan Faisyar membawa tas berisi uang suap ke kediman tersangka ‘BK’.

Dalam rekaman nampak tas berisi uang dibawa terdakwa Faisyar mengendarai mobil peribadinya ke kediaman ‘BK’. Lalu, Yamin (sopir tersangka ‘BK’) membawa tas tersebut ke ruang tamu. Kamudian, tersangka ‘BK’ memerintahkan Yamin menyembunyikan tas di teras samping rumah.

Baca Juga :   Pemkab Muba Bentuk Tim Selesaikan Sengketa Lahan Masyarakat dengan PT GPI

Oleh Yamin, tas tersebut diletakan di pojok teras serta ditutupi vot dan tanaman. Bahkan lampu teras dipadamkan hingga teras terlihat gelap gulita. Beberapa saat kemudian, tim KPK datang ke lokasi dan melakukan operasi tangkap tangan.

Bukan hanya rekaman CCTV yang ditampilkan di muka persidangan untuk menjadi barang bukti. Jaksa KPK juga memutarkan penyadapan Heandphone milik Kasubag Protokol Pemkab Muba Ahmad Riswan ketika menelpon Bupati Muba ‘PA’. Dalam percakapan tersebut diduga Ahmad Riswan berperan sebagai penghubung antara Syamsudin Fei dan Faisyar kepada Bupati Muba untuk menyampaikan permintaan anggota DPRD Muba.

Dari kesaksian Kasubag Protokol Pemkab Muba Ahmad Riswan mengakui, ia memang menelpon Bupati Muba untuk menyampaikan terkait LKPJ dan pengesahan APBD Muba. “Saya hanya menyampaikan saja kepada bapak bupati terkait keterlambatan pengesahan LKJP dan APBD di DPRD Muba itu,” ucapnya.

Setelah mendengarkan keterangan tujuh saksi majelis hakim diketuai Farlas Nababan menunda persidangan hingga minggu depan dengan angenda pemeriksaan saksi-saksi.

Usai persidangan Ali Fikri JPU KPK mengungkapkan, dari keterangan tujuh saksi pada intinya kasus dugaan ini berawal adanya pertemuan antara pihak Pemkab Muba dengan DPRD Muba di BAPPEDA hingga terjadi komitmen jika DPRD meminta sejumlah uang.

“Diperlambatnya pembahasan karena setiap dilakukan pembahasan, jumlah anggota dewan yang hadir tidak qorum hingga terindikasi agar komitmen yang berupa permintaan uang segera direalisakikan pihak Pemkab Muba sehingga terjadilah kasus dugaan suap itu. Sementara untuk peran Kasubag Protokol Pemkab Muba diduga saksi menjadi penghubung dari terdakwa kepada Bupati untuk memenuhi permintaan DPRD Muba,” jelasnya.

Masih dikatakannya, berdasarkan fakta persidangan juga terungkap jika sebelum tertangkap tangan uang suap telah diberikan sebanyak dua kali. Untuk tahap pertama sekitar Rp 2,6 miliar dan tahap kedua Rp 200 juta. Sedangkan untuk uang suap tahap ketiga yakni sekitar Rp 2,56 miliar mereka tertangkap dalam OTT KPK.

“Dari komitmen antara Pemkab Muba dan DPRD Muba dari APBD yang disahkan yakni sebesar Rp 3,1 triliun, satu persennya atau sekitar Rp 17,5 miliar diberikan pihak Pemkab Muba kepada DPRD. Uang inilah termasuk uang suapnya. Tapi, baru dilakukan dua kali mereka telah tertangkap OTT ,” pungkasnya. (ded/***)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Ferdin Ferdin

Avatar
Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

Sindikat Bobol ATM Lintas Provinsi Diringkus

Banyuasin, KoranSN Satuan Reserse Kriminal (Sateskrim) Kepolisian Resort (Polres) Kabupaten Banyuasin berhasil meringkus tiga tersangka …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.