Sidang Dugaan Korupsi Kredit Bank Sumsel Babel, Aran Haryadi: Sumpah Saya Tidak Sama Sekali Terima Fee

Aran Haryadi saat memberikan kesaksian dalam persidangan beberapa waktu lalu. (foto-ferdinand/koransn)

Palembang, KoranSN

Dalam persidangan dugaan korupsi kredit modal kerja (KMK) Bank Sumsel Babel yang merugikan negara Rp 13 miliar lebih di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang, bukan hanya tiga saksi dari pegawai Analis dan Legal Kredit BSB yang mengaku tidak menerima fee terkait pencairan kredit ke PT Gatramas Internusa. Pimpinan Divisi Kredit Bank Sumsel Babel, Aran Haryadi juga mengatakan hal yang sama dalam sidang sebelumnya.

“Dalam tahap proses pengajuan kredit hingga sampai kredit dicarikan, sumpah saya tidak sama sekali menerima fee dari terdakwa. Sebab semuanya saya lakukan sesuai pekerjaan yang saya bidangi,” katanya dalam sidang yang digelar sebelumnya, Kamis (21/11/2019).

Dikatakan Aran saat itu, sebelum memproses pengajuan kredit PT Gatramas Internusa, awalnya dirinya dikenalan kepada terdakwa oleh M Adil yang saat itu merupakan Direktur Utama Bank Sumsel Babel.

“Saat itu saya dipanggil menghadap Pak Adil di ruangannya. Nah, ketika itulah ada terdakwa Augustinus Judianto. Kemudian Pak Adil menyampaikan, jika perusahaan terdakwa mengajukan kerdit modal usaha, sehingga saya langsung melakukan proses pengajuannya,” ujarnya.

Masih dikatakannya, dalam tahap proses KMK tersebut dirinya meminta terdakwa melengkapi semua persyaratan termasuk agunan yang dijaminkan yakni berupa mesin pengeboran minyak dan tanah di Bogor. Setelah itu barulah dilakukan penafsiran harga nilai agunan yang diajukan.

Baca Juga :   Duel dengan Begal di Way Hitam Palembang, Nopa Driver Taksi Online Bersimbah Darah

“Penafsiran harga nilai agunan tersebut dilakukan oleh Tim Jasa Penilaian Independent, dimana hasilnya untuk mesin pengeboran minyak dinilai seharga Rp 15 miliar dan lahan dinilai Rp 630 juta. Berdasarkan penilaian tersebutlah, saya selaku Divisi Kredit bersama Tim Komite menyetujui pengajuan kredit terdakwa, hingga akhirnya dilakukan penandatangan kontrak kredit yang dalam kontrak tersebut saya dan terdakwa yang melakukan penandatangan,” jelasnya.

Lanjut Aran, akan tetapi setelah PT Gatramas Internusa dinyatakan Pailit dan pihaknya melakukan lelang sebanyak empat kali terhadap agunan yang diajukan terdakwa. Hasilnya, agunan tersebut nilai jualnya menurun jauh.

“Dimana untuk mesin bor minyak hanya dinilai seharga Rp 2,5 miliar, sedangkan sebidang tanah hanya dinilai seharga Rp 180 juta. Terkait mengapa nilai agunan ini menjadi turun, itu saya tidak tahu Yang Mulia Majelis Hakim,” terangnya kala itu di persidangan.

Lebih jauh diungkapkannya, dalam dugaan kasus ini terdakwa hanya membayar bunga KMK saja. Sementara untuk angsuran pokok kredit tidak sama sekali dibayarkan oleh terdakwa karena terdakwa mengalihkan rekening ke bank lainnya.

“Pada saat perjanjian kontrak, terdakwa kan melampirkan dokumen kontrak kerja PT Gatramas Internusa terkait pekerjaan proyek pipa PT Pusri 2 B yang dikerjakan oleh PT Gatramas Internusa. Maka dari itu sesuai perjanjian kontrak kredit, kami membuatkan rekening Bank Sumsel Babel atas nasabah PT Gatramas Internusa. Tujuannya agar setiap PT Gatramas Internusa mendapatkan pembayaran pekerjaan dari hasil proyek pipa tersebut, maka angsuran atau cicilan kredit akan otomatis terpotong di rekening tersebut. Dan ini juga kami terapkan kepada nasabah KMK lainnya,” terangnya.

Baca Juga :   Jaksa Hadirkan Pihak Lelang dalam Sidang Dugaan Korupsi Tugu Batas Kota Palembang

Masih dikatakannya, namun kenyataannyaan setelah terdakwa mendapatkan KMK dari Bank Sumsel Babel. Ternyata terdakwa secara diam-diam membuat rekening ke bank lain, sehingga rekening PT Gatramas Internusa tidak dapat dilakukan pemotangan sebab tidak ada transaksi yang masuk.

“Oleh karena itu, sepeser pun terdakwa tidak pernah membayarkan cicilan pokok KMK ke Bank Sumsel Babel. Namun selama ini terdakwa hanya beberapa kali membayarkan bunga dari angsuran kredit saja, yang dibayarkan terdakwa secara tunai. Hingga akhirnya perusahan terdakwa dinyatakan palit,” tandasnya. (ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Pasutri Jadi Pengedar Sabu

Palembang, KoranSN Pihak kepolisian Satres Narkoba dan Tim Hunter Sat Sabhara Polrestabes Palembang meringkus pasangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.