Penyerahan Dokumen Syarat Minimal Dukungan Pasangan Calon Perseorangan Dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Tahun 2020
Home / Foto / Sidang OTT Bupati Muara Enim, Ahmad Yani dan Juarsah Diduga Terima 2 Kardus Berisi Uang

Sidang OTT Bupati Muara Enim, Ahmad Yani dan Juarsah Diduga Terima 2 Kardus Berisi Uang

Sebanyak 9 saksi dihadirkan dalam sidang dugaan kasus suap proyek yang menjerat Bupati Muara Enim, Ahmad Yani di PN Tipikor Palembang dengan terdakwa Robi Okta Fahlevi (membelakangi kamera), Selasa (26/11/2019). (foto-Ferdinand Deffriyansyah/koransn)

Palembang, KoranSN

Dalam sidang lanjutan kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) Bupati Muara Enim, Ahmad Yani dengan terdakwa Robi Okta Fahlefi di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang, Selasa (26/11) mengungkap jika dalam dugaan kasus suap 16 proyek ini terdakwa memberikan uang suap sebanyak 2 kardus untuk Bupati dan Wakil Bupati (Wabup) Muara Enim.

Hal tersebut terungkap saat Staf Kasubag Keuangan di Dinas PUPR Muara Enim, Edi Yansah dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di persidangan untuk menjadi saksi terdakwa Robi Okta Fahlefi.

Dikatakan Edi Yansah, jika sebelum terjadinya OTT KPK dirinya dianjak oleh A Elfin MZ Muchtar selaku Kepala Bidang Pembangunan Jalan dan PPK di Dinas PUPR Muara Enim (tersangka berkas terpisah) dengan mengendarai mobil mengantarkan uang suap dari terdakwa Robi sebanyak dua kardus ukuran kemasan air mineral cup ke rumah Bupati Ahmad Yani (tersangka berkas perkara terpisah) dan ke Wabup Muara Enim.

“Awalnya saya dan A Elfin MZ Muchtar mengantarkan satu kardus berisi uang ke rumah Bupati Ahmad Yani di kawasan Pakjo Palembang. Disaat mengantarkan uang tersebut, kami diterima oleh Ahmad Yani. Kemudian saya diperintahkan mengangkat kardus itu dari dalam mobil, lalu kardus tersebut saya letakan di ruang tamu,” ungkapnya.

Masih dikatakan saksi Edi Yansah, setelah itu dirinya bersama A Elfin MZ Muchtar menuju rumah Wabup Muara Enim H Juarsah yang juga berada di kawasan Pakjo Palembang.

“Setiba di rumah H Juarsah, kami disambutnya. Kemudian saya menurunkan satu kardus berisi uang dari dalam mobil lalu meletakannya di dekat kursi, di ruang tamu Wabup H Juarsah. Jadi ada dua kardus berisi uang yang saat itu saya dan A Elfin MZ Muchtar antarkan ke rumah Bupati dan Wabup di Palembang. Nah, kalau untuk nominal uang di dalam kedua kardus itu saya tidak tahu. Sebab yang memasukan uang tersebut, yakni A Elfin MZ Muchtar,” ujarnya.

Masih dikatakannya, beberapa hari kemudian dirinya juga diminta A Elfin MZ Muchtar kembali menyerahkan amplop berisi uang kepada Bupati Ahmad Yani kepada Wabup Muara Enim.

“Semua uang itu juga saya antarkan ke rumah Bupati dan Wabup di Pakjo Palembang. Dari penyerahan uang tersebut, untuk uang yang diserahkan kepada Wabup H Juarsah ketika itu saya serahkan kepada anaknya laki-laki. Sebab saat itu H Juarsah sedang tidak ada di rumah,” terangnya.

Lebih jauh dikatakannya, jika semua uang yang diserahkan kepada Bupati dan Wabup tersebut merupakan uang fee 16 proyek di Dinas PUPR Muara Enim yang diberikan oleh terdakwa Robi Okta Fahlefi.

Baca Juga :   Polda Segera Periksa Bagian Keuangan & Juru Bayar DPRD Sumsel

“Semua uang yang diserahkan ke Bupati dan Wabup sumbernya dari terdakwa Robi. Dimana uang tersebut ditransferkan terdakwa ke rekening bank secara bertahap. Jadi, awalnya A Elfin MZ Muchtar ini meminjam rekening bank milik saya dan sepupu saya, serta meminjam rekening bank milik seorang ojek bernama Novian yang sering mengantar anaknya dari A Elfin MZ Muchtar. Setelah itu, A Elfin MZ Muchtar meminta terdakwa Robi mentransferkan uang fee proyek ke rekening tersebut hingga akhirnya uang dikumpulkan lalu diberikan kepada Bupati dan Wabup,” paparnya.

Bukan hanya itu lanjut saksi Edi Yansah, dalam dugaan kasus ini dirinya juga diperintahkan oleh A Elfin MZ Muchtar untuk menyerahkan uang kepada beberapa anggota DPRD Muara Enim.

“Adapun beberapa anggota DPRD Muara Enim yang uangnya saya antarkan, yakni; Misran, Imam Fajri, Indra Gani, Isak Juarsah, Muherdi dan Hendri. Karena uang tersebut berada di dalam amplop coklat makanya saat itu saya tidak tahu berapa isinya,” jelasnya.

Lebih jauh dikatakannya, selain itu dirinya juga mengantarkan uang untuk Kepala Dinas PUPR Muara Enim, Ramlan Suryadi.

“Kalau untuk Pak Ramlan Suryadi ini, ada empat kali saya mengantarkan uang kepadanya, terdiri dari; untuk pemberian uang yang pertama, kedua dan ketiga, masing-masing nominal uangnya Rp 50 juta. Kemudian terakhir saya menyerahkan uang sebesar Rp 200 juta kepada Ramlan Suryadi. Dari penyerahan semua uang tersebut, saya tidak sama sekali menerima fee. Hanya saja memang saya mengambil uang Rp 15 juta untuk keperluan keluarga, dan itupun atas izin dari A Elfin MZ Muchtar,” terangnya.

Dilanjutkannya, ia mengetahui jika uang yang diserahkannya tersebut merupakan fee dari 16 paket proyek yang didapatkan terdakwa Robi Okta Fahlefi, setelah diberitahu oleh A Elfin MZ Muchtar.

“Pada tahun 2018 lalu awalnya saya hanya mendengar-dengar saja dari orang jika proyek di Muara Enim itu ada feenya 10 pesen. Namun saat A Elfin MZ Muchtar meminjam rekening bank milik saya, dan meminta ditemani mengantarkan uang ke sejumlah pihak termasuk Bupati dan Wabup, saat itulah barulah saya tahu jika fee proyek itu memang benar ada,” tandasnya.

Sementara itu, Staf di Dinas PUPR Muara Enim, Ahmad Dani yang juga dihadirkan dalam persidangan sebagai saksi mengatakan, jika dirinya menyaksikan saat terdakwa Robi Okta Fahlefi dan A Elfin MZ Muchtar tertangkap OTT KPK di salah satu warung mie di kawasan Jalan Alang-alang Lebar Palembang.

Dijelaskannya, sebelum terjadinya OTT tersebut tepatnya tanggal 2 September 2019, dirinya ditelphone oleh A Elfin MZ Muchtar yang memintanya untuk ditemani makan di warung mie. Setelah itu dirinya pun menjemput A Elfin MZ Muchtar di rumahnya lalu berangkat ke warung mie di kawasan Jalan Alang-alang Lebar.

Baca Juga :   Tersangka Baru Dugaan Korupsi Tugu Batas Kota Palembang, Kapolresta: Tunggu Fakta Persidangan 4 Tersangka

“Setiba kami di warung mie tersebut, di lokasi ada terdakwa Robi Okta Fahlefi dan temannya yakni Edi Hermadi. Ketika itulah A Elfin MZ Muchtar menerima tas selempang dan amplop warna coklat. Saat itu saya tidak tahu, kalau di dalam tas tersebut berisi uang, dan di amplop itu berisi uang dolar. Sebab usai menerima tas dan amplop tersebut, saya dan A Elfin MZ Muchtar langsung menuju mobil untuk meninggalkan lokasi,” terangnya.

Masih dikatakan saksi Ahmad Dani, namun saat ia menyalakan mesim mobil, tiba-tiba ada sejumlah orang mendekat dan langsung mengamankan lalu membawanya ke rumah Robi Okta Fahlefi.

“Saat itu rasanya saya sempat mau melawan, karena dipikiran saya kami menjadi korban perampokan. Namun setelah tiba di rumah Robi Okta Fahlefi, barulah orang yang membawa kami tadi mengatakan jika mereka adalah KPK. Dan dalam OTT tersebut, memang saya tidak dibawa KPK ke Jakarta, sebab sejak awal saya benar-benar tidak tahu kalau ternyata A Elfin MZ Muchtar mengajak ke warung mie itu mau mengambil uang dari Robi,” tutupnya.

Sedangkan Udas Supriadi, yang merupakan sopir pribadi Robi Okta Fahlefi saat menjadi saksi di persidangan menerangkan, jika sebelum terdakwa tertangkap OTT KPK, ia pernah diminta oleh terdakwa Robi membelikan handphone (HP) dan mengantarkan HP tersebut ke rumah Kepala Dinas PUPR Muara Enim, Ramlan Suryadi.

“Rumah Pak Ramlan Suryadi ini lokasinya tak jauh dari rumah Pak Robi (terdakwa) yakni di kawasan Grand City. Ketika itu Pak Robi meminta saya mengantarkan adiknya bernama Dela membeli HP di mall, setelah itu HP yang dibeli diantarkan ke rumah Pak Ramlan Suryadi. Saat mengantarkan HP ini, adik Pak Robi terlihat juga membawa platik kresek. Namun saya tidak tahu apa isi plastik itu,” ungkapnya.

Kemudian, Budiman Hambali warga Jakarta yang juga dihadirkan sebagai saksi di persidangan mengungkapkan, pada akhir April 2019 terdakwa Robi Okta Fahlefi membeli mobil jenis minibus miliknya seharga Rp 1,25 miliar.

“Dalam membeli mobil milik saya ini, pertama terdakwa Robi memberikan uang muka Rp 25 juta. Setelah mobil tersebut tiba di Palembang, barulah uang sisanya ditransfer ke rekening saya. Dalam pembelian mobil itu, terdakwa memang sempat menyampaikan kepada saya kalau mobil yang dibelinya mau digunakannya sendiri. Setelah itu, saya tidak tahu lagi,” tutupnya.

Usai mendengarkan keterangan saksi-saksi, Ketua Mejelis Hakim Bongbongan Silaban didampingi Hakim Anggota Erma Suharti SH MH dan Junaida SH MH menutup sidang, dan kembali akan membuka persidangan Selasa 3 Desember 2019 mendatang.

“Dengan ini sidang ditutup dan akan dibuka kembali pada senin depan,” tandasnya. (ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Polda Gerebek Home Industri Mie Formalin di Ilir Barat I

Palembang, KoranSN Setelah lima tahu beroperasi, home industri pembuatan mie basah yang mengandung formalin di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.