Sidang OTT Bupati Muara Enim, Jatah Rp 3 Miliar Juarsah Diduga Untuk Dana Keluarga Ikut Pileg

Terdakwa A Elfin MZ Muchtar saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang. (Foto-Dedy/KoranSN)

Palembang, KoranSN

A Elfin MZ Muchtar yang merupakan terdakwa kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) Bupati Muara terkait suap 16 paket proyek pekerjaan, Selasa (17/3/2020) mengungkapkan, jika dalam dugaan kasus ini uang fee untuk Wakil Bupati Muara Enim, H Juarsah lebih besar dari fee yang diterima oleh Ahmad Yani.

Hal tersebut dikatakan Elfin saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang, dengan agenda pemeriksaan terdakwa.

Menurut Elfin, uang tunai yang merupakan fee dari pemberian Robi Okta Fahlefi (terpidana yang merupakan kontraktor pemberi suap) diserahkanya kepada Bupati Ahmad Yani, dan Wakil Bupati Muara Enim H Juarsah secara bertahap.

“Untuk total uang tunai yang saya berikan tersebut terdiri dari; Rp 2,6 miliar diterima Bupati Ahmad Yani dan Rp 3 miliar untuk Wabup Juarsah. Jadi, uang fee lebih besar diterima oleh Juarsah. Hal ini dikarenakan saat itu Pak Juarsah butuh dana untuk keperluan dua keluarganya yang ikut dalam Pemilihan Legislatif (Pileg). Dari itulah berdasarkan perintah Bupati Ahmad Yani saya memberikan langsung uang tersebut secara bertahap kepada Pak Juarsah,” ungkapnya dalam persidangan.

Masih dikatakannya, meskipun uang tunai yang merupakan fee proyek untuk Ahmad Yani nominalnya lebih kecil dari H Juarsah, namun dalam perkara ini Ahmad Yani juga mendapatkan mobil jenis minibus dan mobil pick up.

“Selain itu Bupati Ahmad Yani juga menerima tanah milik Pak Nurul Aman yang tanah tersebut saya beli menggunakan uang dari Robi,” katanya.

Baca Juga :   Kak Wari Sowan ke Tinton Suprapto

Menurutnya, dalam dugaan kasus ini dirinya juga memberikan uang senilai Rp 5,5 miliar kepada para anggota DPRD Muara Enim. Dimana pemberian uang tersebut juga merupakan perintah dari Bupati Ahmad Yani yang dijalankannya.

“Uang Rp 5,5 miliar ini saya bagikan kepada para anggota DPRD Muara Enim, dimana untuk setiap anggota dewan menerima uang masing-masing Rp 200 juta,” ujarnya.

Lebih jauh dikatakannya, dalam perkara ini dirinya juga memberikan uang fee kepada Plt Kepala Dinas PUPR Muara Enim, Ramlan Suryadi senilai Rp 1,3 miliar.

“Sedangkan untuk pemberian uang kepada Ketua DPRD Muara Enim Aries HB yang memberikan uang tersebut yakni Robi, dimana uang yang diterima Aries HB sebesar Rp 2 miliar. Hal ini saya tahu karena ketika itu Robi bercerita kepada saya,” jelasnya.

Diakui Elfin, selain memberikan uang kepada sejumlah pihak dirinya juga mengaku jika ia pun menerima uang fee dan fasilitas pemberian Robi Okta Fahlefi.

“Adapun uang yang saya terima dari Robi awalnya Rp 600 juta kemudian saya menerima uang operasional dari Robi sebesar Rp 200 juta. Jadi, ada dua pemberian uang untuk saya. Bukan hanya itu saya juga menerima fasilitas menginap di hotel dan karaoke dengan teman-teman dari anggota DPRD Muara Enim di Hotel di Jakarta. Selain itu, saya juga merima tas dan sepatu dari Robi,” papar Elfin.

Dijelaskannya, untuk pemberian uang kepada pihak DPRD Muara Enim dilakukannya setelah sebelumnya Bupati Ahmad Yani menggelar pertemuan dengan petinggi DPRD Muara Enim yang dilakukan di Rumah Dinas Bupati Ahmad Yani.

Baca Juga :   Usai Bunuh & Mutilasi Fera, Prada Deri Pramana Sempat Hendak Sewa Speedboat ke Karang Agung

“Adapun petinggi DPRD Muara Enim yang bertemu dengan Pak Ahmad Yani tediri dari para pimpinan DPRD dan para Ketua Fraksi. Setelah pertemuan itu barulah Pak Ahmad Yani menyampaikan kepada saya jika para anggota DPRD Muara Enim juga diberikan bagian uang fee proyek,” jelasnya.

Lanjutnya, sementara terkait tertangkapnya dirinya dan Robi Okta Fahlefi dalam OTT KPK bermula saat Bupati Ahmad Yani memintanya menyediakan uang dalam bentuk mata uang dolar dengan nilai 35 ribu dolar.

“Dengan adanya permintaan dari Pak Ahmad Yani lalu saya menyampaikannya kepada Robi sehingga akhirnya Robi menyerahkan uang tersebut di salah satu rumah makan mie di Kota Palembang. Namun saat pemberian uang terjadi kami tertangkap oleh penyidik KPK,” tandas Elfin.

Usai mendengarkan keterangan terdakwa A Elfin MZ Muchtar, Ketua Majelis Hakim Erma Suharti SH MH didampingi Hakim Anggota Junaidah SH MH dan Abu Hanifah SH MH menutup persidangan.

“Sidang dengan ini kita tutup, dan akan kembali dibuka pada Selasa 31 Maret 2020 mendatang dengan agenda tuntutan JPU untuk terdakwa Elfin,” tutup Hakim. (ded)

Publisher : Apriandi

Avatar

Lihat Juga

Sekeluarga Positif Corona di Prabumulih Diisolasi di Rumah, 2 Tanpa Gejala 1 Gejala Ringan

Palembang, KoranSN Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Sumsel, Yusri yang juga Jubir Satgas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.