Sidang OTT Bupati Muara Enim Ungkap Tanah Rp 29 Miliar Untuk Elfin & Ketua Pokja Lelang

Terdakwa Ahmad Yani dan kuasa hukum. (foto-ferdinand/koransn)

Palembang, KoranSN

Dalam sidang lanjutan Operasi Tangkap Tangan (OTT) suap proyek Bupati Muara Enim dengan terdakwa Ahmad Yani dan A Elfin MZ Muchtar, Selasa (11/2/2020) di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang mengungkap jika Robi Okta Fahlefi selaku kontraktor pemberi suap membelikan tanah senilai Rp 29 miliar untuk Elfin dan Ketua Pokja Lelang, Ilham Sudiono.

Hal itu diungkapkan saat Manager Eksekutif Perusahaan Properti Perumahan Alam Sutra, Vina Mulyani menjadi saksi dalam persidangan tersebut.

Dikatakan Vina Mulyani, dalam perkara ini dirinya diperiksa menjadi saksi lantaran Robi Okta Fahlefi pernah membeli tanah dengan luas 2023 m2 di Komplek Perumahan Alam Sutra Jakarta.

“Di perusahaan tempat saya bekerja ini selain menjual rumah juga menjual tanah. Dikarenakan Pak Robi pernah membeli tanah seluas 2023 m2 dengan harga Rp 29 miliar kepada saya, makanya saya menjadi saksi dalam perkara ini,” ungkapnya.

Diceritakannya, saat membeli tanah tersebut Robi Okta Fahlefi bersama A Elfin MZ Muchtar dan Ilham Sudiono menemuinya di kantor perusahaannya. Dalam pertemuan itulah Robi menyampaikan untuk membeli tahan di kawasan Alam Sutra Jakarta.

“Kata Pak Robi tanah yang dibeli ini untuk Pak Elfin dan Pak Ilham Sudiono. Makanya saat membeli tanah tersebut keduanya mendampingi Pak Robi menemui saya,” katanya.

Dijelaskannya, pada pertemuan itu terjadi kesepakatan pembelian tanah, yang kemudian Robi Okta Fahlefi didampingi A Elfin MZ Muchtar dan Ilham Sudiono pergi meninggalkan kantornya.

“Beberapa hari kemudian Pak Robi menelpon dan menyampaikan kepada saya jika uang pembelian tanah untuk Pak Elfin dan Pak Ilham telah ditransferkan ke perusahaan di tempat saya bekerja,” ungkapnya.

Masih dikatakannya, akan tetapi tak lama dari pembayaran pembelian tanah tersebut terjadi dirinya mendapatkan informasi di media jika Robi Okta Fahlefi tertangkap dalam OTT KPK.

“Lalu setelah beberapa hari adanya OTT, penyidik KPK mendatangi kantor kami. Kedatangan KPK untuk menyita uang Rp 29 miliar yang telah disetorkan Pak Robi untuk membeli tanah tersebut. Dengan adanya penyitaan uang ini, maka kami selaku perusahaan properti melalui Tim Legal membatalkan transaksi pembelian tanah yang telah dibeli oleh Pak Robi,” tandasnya.

Sedangkan Kabag Umum Sekretariat Pemkab Muara Enim, Heri Dadi yang juga dihadirkan menjadi saksi di persidangan mengatakan, dirinya menjadi saksi dalam dugaan kasus ini lantaran sebelum adanya OTT KPK ia mendapat perintah dari Bupati Ahmad Yani untuk menerima mobil jenis minibus dan mobil pick-up.

Baca Juga :   Tim Sulawesi Utara Juara Liga Berjenjang U-12 Piala Menpora di stadion jakabaring, Sumsel Juara Keempat

“Ketika itu Pak Ahmad Yani memanggil lalu memerintahkan saya menerima dua unit mobil tersebut yang merupakan kendaraan pinjam pakai. Setelah itu saya menerima kunci kontak beserta mobil itu dari sopirnya Pak Bupati Ahmad Yani, yakni Pak Udin,” jelasnya.

Diungkapkannya, berdasarkan perintah yang diterima dari Ahmad Yani maka kedua mobil tersebut diletakannya di parkir kendaraan mobil dinas Pemkab Muara Enim.

“Kalau asal kedua mobil itu saya tidak tahu. Sebab kala itu Pak Bupati Ahmad Yani hanya menyampaikan jika mobil itu merupakan kendaraan pinjam pakai, dimana untuk mobil jenis minibus akan dipergunakan untuk kendaraan tamu VIP yang akan datang ke Muara Enim. Sedangkan mobil pick-up, kata Pak Ahmad Yani akan dipergunakan untuk mengangkut bantuan jika di Muara Enim terjadi bencana alam,” ungkapnya.

Lebih jauh dikatakannya, mobil jenis minibus tersebut memang pernah beberapa kali dipakai oleh Ahmad Yani selaku Bupati Muara Enim.

“Saat mobil dipakai Pak Ahmad Yani, saya mengganti plat kendaraan dengan plat mobil dinas bupati yakni BG 1,” ujarnya.

Mendengar keterangan dari saksi membuat Hakim Anggota Junaida SH MH mengajukan pertanyaan kepada saksi Heri Dadi terkait kaslian plat kendaraan yang digunakan tersebut.

“Saksi memindahkan plat mobil dinas bupati ke mobil jenis minibus tersebut, itu artinya selama digunakan Ahmad Yani mobil itu memakai plat bodong karena bukan plat asli kendaraannya. Yang saya tanyakan, memindahkan plat tersebut ide dari siapa?,” tanya Hakim.

Menjawab pertanyaan Hakim, saksi Heri Dadi mengungkapkan, jika hal tersebut merupakan ide darinya.

“Saya mengganti plat itu karena kan mobil tersebut digunakan Pak Ahmad Yani untuk kegiatannya sebagai bupati. Selain itu kala itu saya tidak terpikir jika mengganti plat kendaraan merupakan kesalahan,” tutupnya.

Sementara Dela Enjalia selaku adik dari Robi Okta Fahlefi yang juga dihadirkan sebagai saksi di persidangan mengungkapkan, sebelum adanya OTT KPK yang menangkap kakaknya Robi bersama A Elfin MZ Muchtar dan Bupati Ahmad Yani, dirinya memang pernah diminta oleh Robi mengatarkan handphone dan uang ke rumah Kepala Dinas PUPR Muara Enim, Ramlan Suryadi.

“Saya mengatarkan HP dan uang tersebut ke rumah Pak Ramlan Suryadi di Palembang atas permintaan kakak saya Robi. Kemudian saya bersama sopir kami, yakni Pak Ugus mengatarkan bungkusan berisi HP dan uang itu. Sedangkan kalau untuk jumlah uang yang diberikan saya tidak tahu, sebab semua uang berada di dalam satu plastik kresek warna hitam,” ungkapnya.

Baca Juga :   Penyelundupan 4 Kg Sabu dan Ribuan Ekstasi dari Riau Digagalkan

Kemudian Budiman Hambali yang merupakan wiraswasta dari Jakarta yang juga dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menjadi saksi dalam persidangan menjelaskan, dirinya menjadi saksi di perkara ini karena Robi Okta Fahlefi membeli mobil jenis minibus miliknya untuk Bupati Muara Ahmad Yani.

“Saya menjual mobil itu dengan Pak Robi seharga Rp 1,1 miliar lebih. Dalam pembelian tersebut saya juga menyerahkan STNK dan BPKB mobil kepada Robi, setelah itu mobil saya kirimkan melalui jasa pengiriman kendaraan dari Jakarta ke Muara Enim,” katanya.

Selain itu, Hendra Kusuma selaku sales mobil pick up dari salah satu dealer mobil di Lampung yang juga saksi di persidangan mengungkapkan, dirinya menjadi saksi dalam persidangan karena salah satu konsumen yang membeli mobil pick up darinya, yakni Manager PT Indo Pasir Beton, Edi Rahmadi.

Menurutnya, namun saat pembelian mobil tersebut terjadi dirinya tidak tahu siapa Edi Rahmadi, dan untuk apa mobil tersebut dibeli. Akan tetap setelah dirinya diperiksa oleh penyidik KPK terkait OTT Bupati Muara Enim, barulah ia diberitahu penyidik jika Edi Rahmadi merupakan pegawai di perusahaan milik Robi Okta Fahlefi yang merupakan pemberi suap kepada Bupati Ahmad Yani.

“Untuk mobil pick up yang dibeli Edi Rahmadi ini harganya Rp 156 juta yang dibayar cas. Usai dibeli mobil tersebut saya antarkan dari Lampung sampai ke Muara Enim, yang kemudian mobilnya saya serahkan kepada Pak Edi Rahmadi,” tandasnya.

Usai mendengarkan keterangan para saksi, Ketua Majelis Hakim Erma Suharti SH MH didampingi Hakim Anggota Abu Hanifah SH MH dan Junaidah SH MH menutup sidang, dan akan kembali membuka sidang pada Selasa 18 Februari 2020 mendatang.

“Sidang dengan ini ditutup dan akan kembali dibuka pada senin depan dengan agenda pemeriksaan dan mendengarkan keterangan saksi-saksi lainnya,” pungkas Hakim. (ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Pasal Hutang Rp 30 Juta Sabil Tembak Kepala Siti

Palembang, KoranSN Pihak kepolisian Unit Pidana Umum (Pidum) dan Tim Khusus Anti Bandit (Tekab) 134 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.