Home / Gema Sriwijaya / STIK-PTIK Teliti Masalah Pengeboran Minyak di Muba

STIK-PTIK Teliti Masalah Pengeboran Minyak di Muba


Kejaksaan Tinggi Provinsi Sumatera Selatan
Wakil Bupati Muba, Beni Hernedi memimpin pertemuan dengan mahasiswa/personel STIK-PTIK di ruang rapat Serasan Sekate. (foto-ist)

Sekayu, KoranSN

Maraknya pengeboran minyak secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat awam ternyata sangat membahayakan. Untuk itu, 11 mahasiswa dari STIK-PTIK angkatan ke 72 Widya Atmani Wardhana tahun 2017 akan meneliti masalah pengeboran tersebut dalam rangka pengabdian masyarakat di wilayah hukum Polres Muba.

Perwira pendamping Kombes Pil, Anton Setiawan SIk menjelaskan kedatangan mahasiswa/personel STIK-PTIK angkatan 72 ke wilayah hukum Polres Muba untuk melaksanakan pengabdian masyarakat (penelitian) dalam hal pemecahan masalah maraknya pengeboran minyak oleh masyarakat tradisional di Desa Tanjung Keputren kecamatan Plakat Tinggi dengan maksud memberikan masukan kepada pimpinan daerah dan kepolisian.

“Kami menyadari tidak segampang itu menyelesaikan permasalahan tersebut, namun kami izin memberi sedikit masukan dari hasil penelitian kami,” jelasnya saat berdiskusi dengan jajaran Pemkab Muba di ruang rapat Serasan Sekate, Selasa (10/10/2017).
Wakil Bupati Muba Beni Hernedi mengatakan Kabupaten Muba sangat kaya akan sumber daya alam sejak zaman kolonial Belanda, banyak ditemukan sisa-sisa eksploitasi maupun eksplorasi yang dilakukan oleh Belanda sehingga muncul istilah sumur tua.

Baca Juga :   7 Dinas di Muara Enim Masuk Zona Merah

“Zaman sekarang masyarakat kami menemukan sumur tua tersebut di lahan mereka dan masyarakat menyuling sendiri membuat minyak. Ini tantangan kami karena aktivitas menyuling/mengebor minyak yang dilakukan masyarakat merupakan kegiatan ilegal,” ujarnya.

Ia menuturkan yang telah dilakukan pemerintah daerah bersama aparat dalam waktu 5 tahun terakhir ribuan pengeboran/penyulingan minyak ilegal di kecamatan Bayung Lencir telah ditertibkan tanpa terjadi keributan serta tahun lalu juga berhasil membantu Pertamina memulangkan kembali 118 sumur milik Pertamina yang dikuasai oleh masyarakat secara ilegal.

Baca Juga :   14 Warga OKI Terima Kaki Palsu dari Bhayangkari

Sementara itu Asisten I Sekda H Rusli SP MM menambahkan upaya yang dilakukan pemerintah daerah dan masyarakat untuk melegalkan aktivitas pengeboran/penyulingan minyak oleh masyarakat tersebut dengan meminta izin dan pembinaan ke kementerian ESDM dan Pertamina dengan skema koperasi namun izin tidak bisa dikeluarkan.

“Dengan ditutupnya mata sumur tua, akan menimbulkan masalah sosial karena ribuan masyarakat kehilangan mata pencaharian. Sehingga kita harus mencarikan solusi yang tepat,” paparnya. (tri)

Hotel Grand Inna Palembang

Wujudkan Milenial Cinta Tertib Lalu Lintas Berkeselamatan Menuju Indonesia Gemilang

Publisher : Awid Durrohman

Avatar

Lihat Juga

Enam Cabor Tradisional Bakal Meriahkan Peda KTNA XIII di Muba

Sekayu, KoranSN Pelaksanaan Pekan Daerah (Peda) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) ke-13 Provinsi Sumatera Selatan …