Suryanto Tikam Sonia Berkali-kali

Adegan rekonstruksi ketika Suryanto menipis tangan Nuryatmi yang sedang memegang tangan korban Sonia. (foto-dedy/koransn.com)

Palembang, KoranSN

Suryanto alias Kimpul (24), menikam Sonia Priska Pratiwi yang taklain pacarnya sendiri berkali-kali hingga membuat korban tewas bersimbah darah. Hal tersebut terungkap dalam rekonstruksi yang digelar sebanyak 33 adegan, Kamis (18/5/2017) di halaman belakang Mapolsek Sukarami dan di ruangan unit PPA Sat Reskrim Polsek Sukarami.

Dalam rekonstruksi kasus pembunuhan Sonia yang terjadi, Sabtu 29 April 2017 WIB lalu di dalam kamar rumah tersangka yang beralamat di Jalan Tut Wuri Handayani RT 62 RW 10 Kelurahan Sukawinatan, Kecamatan Sukarami ini dihadirkan para saksi untuk memerankan adegan masing-masing.

Adapun para saksi itu yakni; Damris dan Nuryatmi yang tak lain ibu dan ayah korban Sonia, Fatimah bibi korban, Yunita Anggraini alias Sela yang merupakan teman korban serta Kiki Yulia Andika yang merupakan ibu dari Sela. Kemudian saksi lainnya; Jumeno dan Tumiyem yang keduanya merupakan ayah dan ibu tersangka Suryanto alias Kimpul.

Pada adegan ke-1 terungkap jika kejadian itu terjadi, bermula saat tersangka melihat korban diantar kedua orang tuanya, Damris dan Nuryatmi mengendarai mobil ke kampus tempat korban kuliah yang berada di kawasan Plaju. Kemudian tersangka mengikuti mobil tersebut hingga ke kampus korban. Setiba di lokasi, korban turun dari mobil lalu kedua orang tua korban pulang. Disaat itulah tersangka menghampiri korban untuk mengajak korban pulang.

Dikarenakan korban tidak mau ikut dengan tersangka maka korban mengirimkan SMS (Short Message Service) ke hanphone (HP) ibunya Nuryatmi untuk dijemput. Ibu korban yang saat itu sedang berada di rumah lalu menelphone teman korban yakni, Yunita Anggraini alias Sela, yang kebenaran saat itu Sela sedang bersama ibunya, Kiki Yulia Andika mengendarai mobil.

Usai menerima telphone dari ibu korban, kemudian Sela langsung menuju kampus tempat korban kuliah. Lalu di adegan ke-6
Sela tiba di parkiran kampus dan melihat korban sedang bersama tersangka. Ketika itulah, Sela turun dari dalam mobil lalu menghampiri korban. Disaat bertemu itulah, korban Sonia berbisik ke Sela jika korban Sonia tidak mau ikut tersangka pulang.

Pada adegan ke-7 tampak Sela mengajak Sonia pulang. Namun tersangka menghalangi dengan memegang tas milik korban. Melihat hal tersebut, Kiki Yulia Andika yang merupakan ibunya Sela juga keluar dari dalam mobil lalu memegang tangan korban untuk mengajak korban masuk ke dalam mobil. Melihat hal tersebut, membuat tersangka marah lalu mendorong saksi Kiki Yulia Andika.

Di adegan ke-13 tampak kedua saksi kalah kuat dengan tersangka hingga membuat saksi mundur dan masuk ke dalam mobil. Namun, ketika berada di dalam mobil, saksi Sela melihat tersangka mencekik leher korban sembari menarik tangan korban. Kemudian tersangka mengajak korban naik sepeda motor meninggalkan kampus.

Melihat korban dibawa tersangka membuat Sela menelpon ibu korban dan memberitahukan jika korban ditarik lalu dibawa paksa oleh tersangka, selanjutnya tersangka membawa korban ke rumahnya.
Mendapati kabar tersebut kemudian ibu korban bersama bibinya Fatimah janjian bertemu dengan Sela dan ibunya Kiki Yulia Andika di Polresta Palembang. Setelah bertemu, keempatnya pun langung menuju rumah tersangka.

Baca Juga :   Tentukan Koordinat Terbaik, Tim LAPAN Tinjau Palembang

Sementara itu, tersangka dan korban yang mengendarai sepeda motor tiba di rumah tersangka. Bahkan kedatangan keduanya disaksikan orang tua tersangka, Jumeno dan Tumiyem yang sedang duduk di teras rumah. Ketika tiba di rumah, tersangka langsung menarik tangan korban dan membawa korban ke dalam kamar.

Kemudian pada adegan ke 20, secara diam-diam tersangka mengambil pisau di dapur lalu menyelipkannya di lemari kamarnya. Setelah itu, tersangka menyampaikan kepada kedua orang tuanya jika ia mau menikahi korban. Diwaktu bersamaan, ibu korban menelpon korban Sonia sehingga membuat handphone korban berbunyi lalu diangkat korban yang saat itu korban sedang berada di dalam kamar. Dalam percakapan ditelpone tersebut ibu korban menyampaikan jika ia dan saksi lainnya sedang menuju rumah tersangka.

Taklama kemudian, ibu korban tiba di rumah tersangka, ketika itulah tersangka mengajak korban keluar menemui ibu korban di teras rumah. Bahkan dalam rekonstruksi terungkap, jika saat korban melihat ibunya datang, korban langsung memegang tasnya dan menjinjing sepatunya untuk ikut pulang bersama ibunya. Namun Suryanto menghalangi sambil mengatakan kepada ibu korban jika dirinya mau baik-baik dengan korban.

“Dia (tersangka) memasang badan menghalangi anak saya yang mau pulang dengan saya. Bahkan tersangka ini memegangi tangan anak saya sambil menyampaikan kepada saya jika dia mau niat baik. Lalu aku sampaikan kepadanya, kalau mau niat baik bukan membawa korban secara paksa dan mengancam anak saya. Mendengar perkataan saya membuat tersangka menyeret tangan anak saya, kemudian anak saya dibawa paksa ke dalam kamarnya. Bahkan anak saya didorong-dorong, semua kejadian ini juga disaksikan kedua orang tua tersangka,” jelas  Nuryatmi sembari menangis saat memperagakan kesaksiannya dalam rekonstrukasi.

Setelah itu, rekonstruksi kembali dilanjutkan, kali ini tersangka masuk ke dalam kamar bersama korban. Kemudian pada adegan ke-27, tersangka langsung mengambil pisau yang sebelumnya telah diselipkannya di lemari kamar. Tanpa basa-basi, tersangkapun menikam perut korban hingga korban terkapar bersimbah darah.

“Dak tahu berapa jumlah aku nikam korban dengan pisau tersebut. Namun yang jelas berkali-kali, saya khilaf dan emosi sesaat,” ujarnya saat memperagakan menikam perut korban.

Lalu pada adegan ke-28 tampak orang tua tersangka Jumeno dan Tumiyem bersama ibu korban Nuryatmi mendobrak pintu kamar. Ketika itulah, mereka melihat korban sudah terkapar ke lantai, melihat hal tersebut saksi Jumeno langsung membekap tersangka kemudian saksi Tumiyem langsung merampas pisau di tangan tersangka dan membuangkannya ke luar melalui jendela kamar.

Namun peragaan adegan ke-28 tersebut membuat orang tua korban dan orang tua tersangka berbeda pendapat. Dimana menurut orang tua tersangka jika tersangka seusai menikam korban, tersangka juga ikut jatuh ke lantai. Hal tersebut akibat dari dorongan pintu kamar yang didobrak. Namun, Nuryatmi yang merupakan ibu korban memiliki kesaksian berbeda. Karena menurut Nuryatmi, saat pintu terbuka usai didobrak, ia melihat tersangka sedang menginjak-injak korban.

Baca Juga :   Wak Lan Perampok Toke Kopi Pagaralam Ditangkap di Musi Rawas

“Anak saya terjatuh di lantai, kemudian tersangka ini kembali menikam pisau ke tubuh anak saya sambil kaki tersangka menginjak-injak tubuh anak saya,” ungkapnya bercucuran air mata.

Dikarenakan kesaksian berbeda maka penyidik membuat adegan tersebut menjadi dua versi yakni, versi kesaksian orang tua korban dan versi kesaksian orang tua tersangka. Lalu, pada adegan ke-30 para saksi meminta tolong kepada warga sekitar untuk membawa korban ke rumah sakit, yang akhirnya korban meninggal dunia di perjalanan. Lalu, pada adegan ke-31 tersangka melarikan diri dan pada adegan ke-33 tersangkapun menyerahkan diri ke pihak kepolisian.

Seusai rekonstrukasi, Damris ayah korban mengutarakan jika dirinya meminta agar tersangka dijatuhkan hukuman yang seberat-beratnya. “Saya minta tersangka dihukum berat sesuai dengan perbuatannya,” tegas Damris.

Sedangkan Jumeno ayah tersangka mengungkapkan, jika dirinya menyerahkan kepada pihak penegak hukum untuk menjatuhkan hukuman kepada putranya.

“Ini semua perbuatan anak saya jadi anak saya harus mempertangungjawabannya. Sedangkan untuk hukuman pidanannya apakah itu hanya sebentar atau lama, semuanya saya serahkan kepada penegak hukum,” ujarnya.

Kapolsek Sukarami, Kompol Khalid Zulkarnain melalui Panit II Sat Reskrim, Ipda S Naibaho mengungkapkan, rekonstrukasi yang dilakukan bertujuan untuk mencari kebenaran dengan cara memperagakan adegan per adegan sesuai dari hasil pemeriksaan para saksi. Selain itu, rekonstruksi yang dilakukan juga dalam rangka melengkapi berkas  perkara yang selanjutkan akan dilimpahkan penyidik kepada kejaksaan.

“Dari hasil penyelidikan dan pemeriksaan para saksi diketahui jika kasus pembunuhan korban telah direncanakan oleh tersangka. Dari itulah tersangka kita jerat dengan Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau paling rendah hukuman pidana penjara semur hidup. Sedangkan untuk perbedaan versi kesaksian para saksi dalam rekonstruksi juga dilakukan dalam adegan tambahan, sehingga perbedaan versi tersebut semuanya kita tuangkan dalam berkas perkaranya,” tandasnya.

Diketahui, Sonia Priska Pratiwi yang tercatat sebagai warga Jalan TPA I Sukawinatan Lorong Cendana RT 36 RW 10 Kelurahan Sukajaya Kecamatan Sukarami Palembang tewas dengan lima luka tusukan senjata tajam usai ditikam tersangka Suryanto alias Kimpul menggunakan senjata tajam jenis pisau. (ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Lagi, Para Saksi Dugaan Korupsi Masjid Sriwijaya Diagendakan Dipanggil Kejati

Palembang, KoranSN Setelah minggu lalu sejumlah mantan pejabat Pemprov Sumsel, diantaranya Akmad Najib (mantan Asisten …