Home / Kota Musi / Tahun Baru Saka untuk Sucikan Alam Manusia dan Semesta

Tahun Baru Saka untuk Sucikan Alam Manusia dan Semesta

Pura Agung Sriwijaya di Jalan Seduduk Putih. (foto-ist)

Palembang, KoranSN

Dalam menyambut Tahun Baru Saka 1940 yang jatuh pada tanggal 17 Maret mendatang, masyarakat beragama Hindu di Indonesia, termasuk di Palembang akan merayakan Hari Raya Nyepi. Hal ini bertujuan memohon kepada Tuhan Yang maha esa agar menyucikan alam manusia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos) serta dijadikan momentum bagi umat Hindu untuk kembali mengintropeksi diri setelah melalui kehidupan selama satu tahun penuh.

Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sumsel, Made Toya, ditemui di Pura Agung Sriwijaya Jalan Seduduk Putih Kota Palembang, Senin (12/3/2018) mengatakan, rangkaian Nyepi terbagi menjadi lima bagian ritual yang tidak terpisahkan. Dari lima rangkaian tersebut yakni, Melasti, Tawur Agung, Nyepi, Ngembakgeni, dan Dharmasanti. Kelimanya dilakukan sebagai bentuk simbolisasi manusia terhadap alam, Tuhan dan kehidupan.

Selain itu, peringatakan Nyepi dilakukan umat Hindu selalu menggunakan sesejen atau sesaji setiap kali melakukan kegiatan keagamaan. Lantaran, sudah merupakan tradisi yang dilakukan secara turun temurun menjadi suatu ritual yang tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan masyarakat. Karena, budaya luhur yang diakulturasikan saat agama Hindu masuk di Indonesia sebagai salah satu simbol rasa syukur terhadap semua yang terjadi di dalam kehidupan.

Menurutnya, sajen dimaknai sebagai simbolisasi Tuhan. Dimana, Tuhan dalam pemahaman Umat Hindu merupakan zat tertinggi sebagai yang hakiki. Sedangkan Dewa merupakan perwujudan dan sifat Tuhan. Untuk itu, dalam ajaran Hindu,Tuhan disebut Acintya (Sang Hyang Widhi). Jadi, sajenlah yang menjadi sarana perwujudan hubungan manusia dan Tuhan.

“Sajen juga sebagai perwujudan alam semesta dan sebagai harapan, dimana didalamnya terkandung keinginan untuk hidup lebih baik, panjang umur yang berkesempatan dan berbahagia. Jadi Sajen itu penting bagi masyarakat Hindu karena mengandung ketiga unsur penting kehidupan, Tuhan, Alam dan Manusia,” ungkap Made Toya.

Ia mengatakan, ajaran Hindu di Indonesia dan India sama dalam pemaknaannya tentang ajaran agama, namun penggunaan tata sarana beribadahlah yang berbeda. Lantaran, tidak bertentangan dengan ajaran agama yang diyakini.

“Hindu di Bali terkenal memakai sajen, itu memang budaya Bali. Tetapi, maknanya tidak terlepas dari ajaran Weda. Budaya memang Indonesia, Hindu berakulturasi dengan budaya yang ada. Kebetulan di Bali nyambung antara agama dan budaya,” ujarnya.

Made Toya menjelaskan, dari lima rangkaian perayaan Nyepi tersebut, pertama umat Hindu akan melakukan upacara Melasti. Melasti dianggap sebagai Nganyudang Malaning Gumi Ngamet Tirta Amerta, yang berarti menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau, laut dan sungai dianggap sebagai asal tirta amerta atau air kehidupan.

Meski demikian, ia melanjutkan, ada yang berbeda dari Melasti yang dilakukan oleh Umat Hindu di Palembang dengan yang di Bali. Perbedaan tersebut terdapat pada waktu pelaksanaanya karena, adanya penyesuaian dengan lingkungan masyarakat setempat.

Publisher : Awid Durohman

Awid Durohman

Lihat Juga

Operasional LRT Keseluruhan Ditargetkan Selesai Juli 2018

Palembang, KoranSN Menteri Perhubungan (Menhub) RI, Budi Karya Sumadi, Minggu (27/5/2018) menargetkan oprasional Light Rail ...

error: Content is protected !!