Tak Ada Sosialisasi, Warga Bingung Jalan Ditutup

LAWAN ARUS - Penutupan jalan di sebagian ruas jalan Kol H Burlian akibat adanya pembangunan fly over Simpang Tanjung Api-Api membuat beberapa mobil nekat melawan arus saat melewati kawasan proyek Fly Over Km 9 menuju kota, Minggu (27/11/2016). (Foto-Ferdinand/Koransn)
LAWAN ARUS – Penutupan jalan di sebagian ruas jalan Kol H Burlian akibat adanya pembangunan fly over Simpang Tanjung Api-Api membuat beberapa mobil nekat melawan arus saat melewati kawasan proyek Fly Over Km 9 menuju kota, Minggu (27/11/2016). (Foto-Ferdinand/Koransn)

Palembang, KoranSN

Penutupan jalan yang berada di seputaran Jalan Kolonel H Barlian, akibat adanya pembangunan Fly Over Simpang Tanjung Api-Api (TAA) pada Sabtu (26/11/2016) dilakukan tanpa sosialisasi kepada masyarakat, sehingga membuat masyarakat yang ingin melewati jalur dari KM 12 hingga KM 9 tersebut menjadi bingung.

Seperti yang diungkapkan salah satu warga Apri (30), dia mengaku kebingungan, ketika ingin mengantar adiknya bekerja pada Minggu (27/11/2016) pagi. Dia mengaku tidak tahu sama sekali mengenai pentutupan jalan tersebut. “Kan mau nganter adek untuk bekerja pagi tadi (kemarin), tiba-tiba pas mau balik eh jalan udah ditutup. Jadi bingung juga saya,” ujarnya.

Oleh karena itu, Apri mengaku nekat mengambil jalur yang berlawanan arah. Sebab jika ingin memutar dan mencari jalur alternatif itu akan memakan waktu yang lama.

Baca Juga :   Walikota Harnojoyo Launching Sekolah Filial

“Saya nekat saja melawan arus, demi menghemat waktu kan, sebab kalau harus mengambil jalur lainnya seperti memutar ke arah Terminal Alang-Alang Lebar (AAL) akan sangat jauh,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Handi (28), ketika dia hendak melintas di Jalan Kol H Barlian tepatnya di depan SPBU KM 10, ia harus melihat jalan yang dilaluinya setiap hari, kini ditutup menggunakan balok beton. Dengan alasan tidak ingin telat ke kantor, Handi beserta beberapa pengendara sepeda motor lainpun nekat untuk menerobos lajur sebelahnya. Sehingga jalur yang semestinya hanya dilalui oleh pengendara dari kota menuju ke kawasan KM 12 ini, dilalui oleh pengendara dengan dua arah berbeda. “Saya bingung dan kaget sudah ditutup. Sosialisasinya kurang,” ujarnya.

Terkait hal ini, Pengamat Kebijakan Sosial dan Politik Joko siswanto menjelaskan, seharusnya pemerintah terlebih dahulu mematangkan konsep dan perencanaan, sebelum memutuskan melakukan penutupan jalan tersebut.

“Ada baiknya sebelum ditutup, masyarakat diberitahu terlebih dahulu, agar mereka menegerti dan paham tentang situasi ini. Kalau konsepnya tidak matang, ya akhirnya seperti ini, banyak yang bingung. Kalau masyarakat asli sana mungkin mereka tahu jalan alternatif, tapi bagaimana dengan warga pendatang,” jelasnya.

Baca Juga :   2 Kg Sabu dan Ratusan Ekstasi Dimusnahkan Polda Sumsel

Terlebih lagi, menurut Joko, saat dia melintasi kawasan tersebut, sama sekali tidak tampak ada petugas baik itu dari kepolisian ataupun dari Dinas Perhubungan (Dishub). “Kebetulan saya baru saja lewat di sana, tidak ada sama sekali petugas yang berjaga, setidaknya ada petugas sebagai tempat masyarakat bertanya misalkan sampai berapa lama penutupan akan dilakukan. Minimal ada baleho ataupun spanduk yang mengarahkan pengendara ataupun sebagai bentuk pemberitahuan,” tukasnya.

Namun, Joko juga tidak menampik, jika keadaan yang terjadi saat ini merupakan resiko dari pembangunan yang sedang dijalankan. Mau tidak mau masyarakat juga harus menerima situasi seperti ini, karena jika tidak dilakukan rekayasa lalu lintas, otomatis kemacetan akan bertambah. (tya)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Apriandi

Avatar

Lihat Juga

MA Kabulkan Gugatan Paslon Ilyas-Endang, Ini Komentar Pengamat Bagindo Togar

Palembang, KoranSN Keputusan Mahkamah Agung (MA) yang mengabulkan gugatan pasangan calon bupati dan calon wakil …