Home / Ekonomi / Tanaman Herbal Sokong Perekonomian Masyarakat Desa Gajah Mati Muba

Tanaman Herbal Sokong Perekonomian Masyarakat Desa Gajah Mati Muba

Ibu-ibu dari Kelompok Pondok Herbal Kenangan Desa Gajah Mati Babat Supat Kabupaten Musi Banyuasin Sumsel menunjukkan produk-produk herbal hasil olahan Tanaman Herbal yang siap dipasarkan. (foto-soimah/koransn)

Palembang, KoranSN

Sebuah rumah akan tampak asri ketika ditanami banyak tumbuhan baik di bagian pekarangan maupun dalam ruangan. Buah-buahan, tanaman berdaun, hingga bunga bisa dijadikan pilihan. Mungkin tidak banyak disadari dari sekian banyak tumbuhan yang hidup di pekarangan terdapat tanaman herbal yang berguna sebagai obat alami.

Tanaman herbal atau kerap disebut sebagai tanaman obat keluarga (Toga) sangat beragam jenisnya. Manfaat dari tanaman ini pun sangat beragam mulai dari menyembuhkan flu hingga penyakit serius lainnya. Setelah dipetik atau dipanen, tumbuhan-tumbuhan obat herbal tersebut kemudian diolah sedemikian rupa untuk digunakan. Hal tersebutlah yang mendasari para ibu-ibu di Desa Gajah Mati Kecamatan Babat Supat Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Sumsel untuk mengembangkan tanaman herbal bernilai ekonomis sehingga bisa menyokong perekonomian masyarakat Desa Gajah Mati Kecamatan Babat Supat Kabupaten Muba Sumsel.

Melalui Kelompok Pondok Herbal Kenanga yang diketuai Yeni Lusmita, tanaman herbal mulai dari kumis kucing, cabe jawa, kunyit putih, remek daging, sosor bebek, sirih merah, keladi tikus, lidah buaya, jahe, daun iler, daun kelor, sambiloto, temulawak dan ratusan tanaman obatnya diolah menjadi obat herbal. Obat herbal yang dihasilkan tersebut bukan saja sebagai pertolongan pertama dalam membantu masyarakat untuk sehat. Namun, juga dapat menambah penghasilan masyarakat bahkan mampu menyokong perekonomian masyarakat Desa Gajah Mati.

Ketua Kelompok Pondok Herbal Kenanga, Yeni Lusmita ditemui di sela-sela media field trip dan pembukaan media kompetisi Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Wilayah Sumsel di Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Muda, pada 2 Oktober 2019 menceritakan, awal mula kenal dengan tanaman herbal pada tahun 2011 dengan beranggotakan 60 orang yang mayoritas ibu-ibu rumah tangga. Selanjutnya datang tawaran dari PT Medco E&P Indonesia, namun karena ibu-ibu belum memiliki pengalaman di bidang tanaman herbal maka belum difokuskan untuk mengeluti tanaman herbal.

Baca Juga :   Penerimaan Pajak Semester I 2019 Capai Rp 603,34 Triliun

“Setelah mendapatkan pembekalan dan pelatihan, pada tahun 2012 ibu-ibu di desa kami mulai aktif mengeluti tanaman herbal hingga sekarang,”ujarnya.

Karena sejak aktif dan dikelola dengan benar serta mendapat bantuan dari PT Medco E&P Indonesia dan SKK Migas dikatakannya, Kelompok Pondok Herbal Kenanga sudah dapat menghasilkan bahkan memberikan sumbangsih nyata bagi Desa Gajah Mati lewat tanaman herbal yang dikelola selama ini. Hal tersebut terbukti dengan semakin banyaknya masyarakat di Desa Gajah Mati memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam tanaman herbal.

Bahkan menurutnya, masyarakat Desa Gajah Mati yang mayoritas bertani dan berkebun sawit dan karet kini mulai milirik usaha tananaman herbal. Karena dari tanaman herbal yang dikembangkan satu kelompok saja dapat menghasilkan keuntungan hingga mencapai Rp 10 juta/bulan dengan produk-produk yang dihasilkanya.

Dituturkannya, produk-produk yang dihasilkan mulai dalam bentuk kapsul jamu hingga seduhan yang telah terbukti dapat mengobati berbagai macam penyakit diantaranya, kanker, masalah reproduksi, diabetes, asam urat bahkan ketergantungan narkoba. Dalam memproduksi dan mengolah tanaman herbal dibagi kelompok masing-masing seperti kelompok pembuat teh herbal, kelompok pembuat sirup, kelompok pembuat makanan dan minuman hingga pembuat kapsul herbal. Pihaknya dibantu oleh Medco E&P Indonesia dan SKK Migas untuk peralatan seperti alat pengemasan kapsul obat, teh dan sirup yang mempermudah dalam proses pengolahan dan memasarkan produk-produk tanaman herbal yang telah dibuat kelompoknya.

“Kalau sudah ada pembagian, antara kelompok satu dengan kelompok lainya produk yang dihasilkan tidak akan sama,”tegasnya sembari mengatakan, untuk harga obat herbal dijual mulai Rp Rp 10.000 hingga Rp 50.000/kemasan.

Untuk pangsa pasar produk herbal dikatakannya, masih terbuka lebar. Mengingat biaya produksi tidak begitu mahal dengan manfaat yang ada di setiap produk yang dihasilkan cukup besar. Produk-produk herbal yang dihasilkan Kelompok Pondok Herbal Kenanga Desa Gajah Mati sudah menembus pasar domestik seperti Lampung, Jakarta hingga Lombok bahkan sudah ada beberapa yang dijual di supermarket.

Baca Juga :   Mobil Tanki, Transportasi Utama dalam Bisnis Pertamina

“Meskipun sudah mendapat lisensi herbalis pada 2015 dan sertifikasi halal. Namun, terkendala pada sertifikasi dari Badan POM yang belum didapatkan karena syarat harus memiliki lahan yang cukup luas,”ujarnya.

Menanggapi hal tersebut Kepala Desa Gajah Mati, Surianak mengatakan, dalam waktu dekat bakal disediakan lahan seluas setengah hektar yang dapat digunakan untuk menanaman tanaman herbal dan memproduksi obat-obatan herbal.

“Penyediaan lahan tersebut dikarenakan usaha yang dilakukan masyarakat desa terutama ibu-ibu di Desa Gajah Mati sudah terbukti dan membuahkan hasil yang membanggakan bagi desa kami. Terutama dalam membantu perekonomian keluarga dan masyarakat desa kami,” tuturnya.

Diakuinya, sejak adanya bantuan dan dukungan dari SKK Migas dan PT Medco E&P Indonesia baik berupa peralatan maupun pelatihan-pelatihan, masyarakat Desa Gajah Mati cukup terbantu. Bahkan usaha tanaman herbal kini dilirik pihak lain untuk dikembangkan di desa-desa lainya.

Sementara itu Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumbagsel, Adiyanto Agus Handoyo mengapresiasi usaha yang dilakukan Kelompok Pondok Herbal Desa Gajah Mati. Pihaknya, tidak hanya fokus pada pertambangan migas tetapi juga pada pembinaan dan pengembangan masyarakat. Di Sumsel ada sekitar 20 KKKS yang bermitra dengan UMKM dan fokus pada pembinaan serta pengembangan masyarakat.

“Salah satunya kita fokus pada pembinaan usaha yang dilakukan Kelompok Pondok Herbal Kenanga Desa Gajah Mati. Karena usaha yang dikelolanya memiliki keunggulan dan manfaat besar bagi kesehatan masyarakat,”ujarnya.

Sedangkan Media Relations PT Medco E&P Indonesia, Deddy Afrianto menambahkan, PT Medco E&P Indonesia konsen terhadap masyarakat desa di sekitar lingkungan perusahaan. Terutama dalam usaha membangun perekonomian kerakyatan seperti usaha yang dilakukan Kelompok Pondok Herbal Kenanga dapat dijadikan contoh bagi kelompok lain agar usaha yang ditekuninya bisa diakui dan bernilai manfaat bagi masyarakat.

“Selain sehat, usaha yang dikelola juga sudah terbukti membantu perekonomian keluarga dan masyarakat Desa Gajah Mati. Karena itu kita membantu kelompok ini mulai dari pelatihan-pelatihan, pengadaan peralatan hingga memasarkan produk,”pungkasnya.(ima)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

BSB dan Alfamart Permudah Bayar Jargas

Palembang, KoranSN Bank Sumsel Babel (BSB) bersama dengan PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (PT SP2J) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.