Terdakwa Dugaan Korupsi Kredit BSB Dituntut 12 Tahun Penjara dan Hukuman Tambahan 6 Tahun Kurungan

Terdakwa Augustinus Judianto saat menjalani sidang tuntutan di PN Tipikor Palembang. (Foto-Dedy/KoranSN

Palembang, KoranSN

Terdakwa dugaan kasus korupsi kredit modal kerja Bank Sumsel Babel (BSB), yakni Ir Augustinus Judianto selaku Komisaris PT Gatramas Internusa, Senin (3/1/2020) dituntut Jaksa Penutut Umum (JPU) Kejati Sumsel dengan hukuman 12 tahun penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang.

Bukan hanya itu, Tim JPU Kejati Sumsel juga menambahkan hukuman kurungan penjara selama 6 tahun apabila terdakwa tidak membayar uang pengganti kerugian negara dalam dugaan kasus tersebut dengan nilai Rp 13,4 miliar.

Saat membacakan tuntutan di persidangan, JPU Kejati Sumsel, Emir Ardiansyah didampingi Agusten Imanuddin, Dr Adi Purnama, Fitriansyah Akbar dan Suhartono mengatakan, berdasarkan fakta persidangan dan keterangan saksi-saksi yang telah dihadirkan di dalam sidang maka pihaknya selaku JPU menilai perbuatan terdakwa Augustinus Judianto terbukti secara sah bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tundak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

“Untuk itu kami menuntut terdakwa Augustinus Judianto dengan pidana 12 tahun penjara dan denda Rp 500 juta. Apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti pidana kurungan enam bulan. Selain itu, kami juga menetapkan terdakwa Augustinus Judianto membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 13,4 miliar. Jika uang itu tidak dibayarkan maka harta bendanya akan disita lalu dilelang, dan apabila harta benda yang disita tersebut tidak mencukupi jumlah kerugian negara yang terjadi maka terdakwa diberikan hukuman tambahan, yakni enam tahun kurungan penjara,” tegas JPU Kejati Sumsel.

Masih dikatakannya, selain itu pada tuntutan ini pihaknya juga menetapkan barang bukti berupa agunan PT Gatramas Internusa, yakni sebidang tanah seluas 8200 m2 di Jalan Panglajungan Kelurahan Saganten Kecamatan Sindang Barang Kabupaten Cianjur Jawa Barat, serta satu unit mesim pengeboran minyak yaitu mesin Top Drive Brand Tesco USA Type 500HC750 Hydraulic Top Drive System dikembalikan kepada Bank Sumsel Babel.

“Selain itu tanah yang berlokasi di Baranang Siang Indah Q1 No.14 RT 012 RW 05 Kelurahan Katutampa Bogor Provinsi Jawa Barat milik terdakwa yang disita dan dirampas untuk dilelang guna menutupi uang pengganti kerugian negara,” terangnya.

Lebih jauh diungkapkannya, pihaknya menuntut terdakwa dengan hukuman pidana tersebut karena dari fakta persidangan terungkap jika perbuatan terdakwa Augustinus Judianto bersama Hery Gunawan selaku Direktur PT Gatramas Internusa yang telah meninggal dunia, diduga telah melakukan perbuatan dugaan tindak pidana korupsi untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain.

Baca Juga :   15 Ton Minyak Hasil Illegal Tapping Diamankan

“Dari fakta persidangan terungkap perbuatan dugaan pidana yang dilakukan terdakwa bermula saat terdakwa Augustinus Judianto bersama saksi Hery Gunawan bertemu Direktur Bank Sumsel Babel saat itu yakni saksi M Adil dalam suatu acara di kawasan Jalan Jenderal Sudirman Palembang. Dalam pertemuan itu terdakwa Augustinus Judianto sangat aktif mengenalkan diri kepada saksi M Adil sambil menyampaikan jika PT Gatramas Internusa memiliki pekerjaan proyek di PT Pusri Palembang. Dari percakapan tersebut saksi M Adil pun menawarkan kredit modal kerja dari Bank Sumsel Babel kepada PT Gatramas Internusa,” paparnya.

Menurut JPU, setelah pertemuan tersebut kemudian terdakawa Augustinus dan saksi Hery Gunawan menemui saksi M Adil di Kantor Bank Sumsel Babel di kawasan Jakabaring Palembang. Dalam pertemuan tersebut terdakwa yang kembali aktif menyampaikan kepada saksi M Adil terkait permohonan pengajuan kredit modal kerja.

“Pada pertemuan tersebut lalu saksi M Adil memangil Kepala Divisi Kredit Bank Sumsel Babel saat itu, yakni saksi Aran Haryadi yang kemudian M Adil menyampaikan permohonan pengajuan kredit modal kerja yang diajukan oleh terdakwa. Sehingga saat itu terdakwa bersama saksi Hery Gunawan memberikan dokumen persyaratan pengajuan kredit modal kerja ke Bank Sumsel Babel,” terangnya.

Dilanjutkannya, usai diterimanya pengajuan kredit modal kerja tersebut lalu saksi Aran Haryadi selaku Kepala Divisi Kredit bersama saksi Wisnu Wardana yang merupakan Pegawai Divisi Kredit Bank Sumsel Babel melakukan pengecekan ke kantor PT Gatramas Internusa serta mengecek agunan yang dijaminkan, yakni sebidang tanah dan mesin Top Drive Brand Tesco USA Type 500HC750 Hydraulic Top Drive System.

“Dari pengecekan tersebut diperoleh invoice pembelian mesin Top Drive Brand Tesco USA Type 500HC750 Hydraulic Top Drive System yang dalam invoice tersebut tertulis jika mesin tersebut dibeli PT Gatramas Internusa senilai Rp 17 miliar. Dari rangkaian pengecekan tersebut akhirnya pengajuan kredit modal kerja disetujui sehingga dilakukan penandatanganan kontrak perjanjian kredit di Kantor Bank Sumsel Babel,” ungkap JPU saat membacakan tuntutannya.

Lebih jauh dijelaskan JPU, dalam kontrak perjanjian kredit tersebut juga disepakati jika pembayaran pekerjaan proyek yang dilakukan PT Gatramas Internusa di PT Pusri Palembang dari PT Rekind selaku kontraktor dilakukan di rekening Bank Sumsel Babel atas nama PT Gatramas Internusa. Hal ini dilakukan agar saat adanya transaksi di rekening tersebut maka Bank Sumsel Babel dapat melakukan debit untuk pembayaran cicilan kredit.

“Namun dari fakta persidangan ternyata terdakwa bersama saksi Hery Gunawan sepakat mengalihkan pembayaran dari PT Rekind ke rekening Bank Mandiri bukan ke rekening Bank Sumsel Babel. Sehingga hal tersebut membuat pihak Bank Sumsel Babel tidak dapat melakukan debit pada rekening yang dibuat berdasarkan kesepakatan kontrak perjanjian kredit,” jelasnya.

Diungkapkan JPU, bahkan fakta persidangan juga mengungkap jika sampai PT Gatramas Internusa dinyatakan pailit pada tahun 2017, tidak ada sama sekali pembayaran cicilan hutang kredit yang dibayarkan ke Bank Sumsel Babel.

Baca Juga :   Kasus Dugaan Tanda Tangan Paripurna DPRD Terus Diselidiki, Saksi Diperiksa

“Yang hanya ada pembayaran bunga yang dibayarkan secara bertahap ke Bank Sumsel Babel dengan total Rp 3 miliar lebih. Selain itu, fakta sidang juga mengungkap jika invoice mesin pengeboran minyak Top Drive Brand Tesco USA Type 500HC750 Hydraulic Top Drive System yang dijaminkan terdakwa sebagai syarat pengajuan kredit diduga harganya dinaikan menjadi Rp 17 miliar. Padahal, sebenarnya harga mesin tersebut dari invoice aslinya hanya seharga Rp 1 miliar lebih. Untuk itulah dalam perkara ini terdakwa bersama Direktur PT Gatramas Internusa yaitu saksi Hery Gunawan diduga sengaja menaikan nilai agunan untuk mendapatkan kredit modal kerja di Bank Sumsel Babel,” papar JPU Kejati Sumsel.

Lanjutnya, dalam perkara ini pihaknya juga menilai terdakwa tidak memiliki itikad baik untuk membayar kredit ke Bank Sumsel Babel. Padahal perusahaan terdakwa telah mendapat untung dari pembayaran hasil pekerjaan proyek di PT Pusri Palembang.

“Dimana dalam proyek tersebut perusahaan terdakwa mendapatkan pembayaran Rp 40 miliar yang semestinya jika saat itu ada itikad baik dari terdakwa, tentunya hutang kredit ke Bank Sumsel Babel senilai Rp 13,4 miliar dapat dibayarkan. Akan tetapi kenyataannya hingga kini terdakwa sama sekali tidak pernah membayarkan hutang kredit modal kerja tersebut,” ucapnya.

Masih diungkapkannya, oleh karena itulah dalam tuntutan tersebut pihaknya menilai ada beberapa hal yang memberatkan terdakwa.

“Adapun hal yang memberatkan tersebut, yakni perbuatan terdakwa telah merugikan keuangan negara di Bank Sumsel Babel, perbuatan terdakwa adalah suatu kebiasaan yang sering dilakukan untuk mendapatkan uang berkedok pinjaman fasiIitas kredit di bank terutama Bank BUMN/BUMD dengan sengaja beritikad niat jahat, kemudian terdakwa tidak ada itikad baik mengembalikan kerugian keuangan negara, dan terdakwa tidak menunjukkan rasa penyesalannya. Sedangkan untuk hal yang meringankan, yakni bahwa terdakwa belum pernah dihukum,” tandas JPU.

Usai mendengarkan tuntutan Tim JPU, Ketua Majelis Hakim Erma Suharti SH MH meminta tanggapan kepada terdakwa apakah akan melakukan pledoi (pembelaan). Menjawab pertanyaan Hakim, terdakwa melalui kuasa hukumnya menyatakan mengajukan pledoi.

Setelah mendengar jawaban dari kuasa hukum terdakwa, selanjutnya Ketua Majelis Hakim menutup persidangan dan akan kembali membuka sidang pada Senin 10 Februari 2020 mendatang.

“Sidang dengan ini ditutup dan akan kembali dibuka senin depan dengan agenda mendengarkan pledoi dari terdakwa,” tutup Ketua Majelis Hakim, Erma Suharti SH MH. (ded)

Publisher : Apriandi

Avatar

Lihat Juga

Diduga Napi di Lapas Banyuasin Kendalikan Peredaran Sabu, 2 Kurir Ditangkap Polsek Sukarami 

Palembang, KoranSN M Feby (26), warga Lorong Asrama Haji Kebun Bunga Kecamatan Sukarami dan Edu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.