Terdakwa Kasus DAK Menangis di Persidangan

Halaman 1terdakwa Kasus DAK
Palembang,KoranSN
Mantan Kepala Seksi (Kasi) Bangunan Gedung dan Perabotan Disdikpora Palembang Rahmat Purnama, terdakwa dugaan kasus korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) Anggaran Rehab Sekolah Tahun 2012-2013, Senin (21/3/2016), menangis di persidangan Pengadilan Negeri (PN) Kelas I Palembang dengan agenda keterangan terdakwa sebagai saksi dan agenda pemeriksaan terdakwa.Rahmat Purnama menangis, saat Majelis Hakim Saefudin SH MH mencecar pertanyaan ketika terdakwa menjadi saksi untuk terdakwa Hasanuddin yang merupakan mantan Kepala Bidang (Kabid) Perencanaan Pembangunan dan Subsidi Disdikpora Palembang.

“Terdakwa Rahmat Purnama dalam berkas dakwaan jaksa tertera jika uang 10 persen dari potongan DAK tahun 2013 yang diterima para Kepala Sekolah (Kepsek), semuanya diterima oleh saudara (Rahmat Purnama), apakah benar itu?” tanya hakim di persidangan.
Pertanyaan hakim langsung membuat Rahmat Purnama terisak menangis di muka persidangan. Kemudian, Rahmat mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, lalu mengusapkannya ke wajah.

“Uang itu bukan dikumpulkan kepada saya yang mulia Majelis Hakim, tapi saya menerima untuk sementara. Lalu uang itu saya berikan semuanya kepada Pak Hasanuddin,” katanya sambil menangis.
Menurut Rahmat Purna, uang yang diterimanya merupakan uang dari sebagian Kepsek yang anggaran DAK 2013 dipotong 10 persen dan itu hanya dititipkan kepadanya. Sedangkan untuk uang potongan 10 persen DAK tahun 2012 ada 12 Kepsek penerima bantuan DAK, semuanya menyerahkan uang potongan kepada terdakwa Hasanuddin.

“Saya akui kalau saya memang menerima bagian dari uang DAK yang dipotong itu sebesar Rp 80 juta. Uang itu saya terima langsung dari terdakwa Hasanuddin. Bahkan Kepala Dinas Disdikpora Palembang juga menerima bagian sebesar Rp 235 juta. Saya tahu itu, dari cerita terdakwa Hasanuddin, katanya saat itu, dia (Hasanuddin) yang menyerahkan uang Rp 235 juta kepada kepala dinas,” sebut terdakwa Rahmat Purnama di persidangan.Selain itu, lanjut Rahmat Purnama, dalam dugaan kasus ini dirinya juga diperintahkan terdakwa Hasanuddin mengetik daftar nama-nama pejabat di lingkungan Pemkot Palembang yang diduga juga menerima uang dari potongan 10 persen DAK tersebut.

“Bahkan nominal uang di daftar nama-nama itu juga direvisi kepala dinas. Seperti bagian saya, awalnya Rp 100 juta tapi setelah direvisi menjadi Rp 80 juta. Setelah direvisi terdakwa Hasanuddin memerintahkan saya untuk kembali mengetik daftar itu. Bahkan dalam perkara ini terdakwa Hasanuddin, yang bersangkutan menerima bagian Rp 120 juta, sedangkan bendahara terima Rp 20 juta, dan pembantu bendahara terima Rp 15 juta. Selain itu, dalam daftar nama-nama penerima uang juga ada nama-nama pejabat di lingkungan Pemkot Palembang. Saya tahu, kan saya yang mengetik daftar itu,” ungkapnya.
Usai mendengarkan keterangan saksi, giliran Majelis Hakim Junaidah SH MH mengajukan pertanyaan kepada terdakwa Rahmat Purnama.Dikatakan hakim, dalam perkara ini apakah pencairan uangnya dilakukan bersamaan untuk anggaran DAK tahun 2012 dan DAK tahun 2013?

“Untuk tahun 2012 itu hanya pengajuan proposalnya saja, namun semua anggarannya dicairkan di tahun 2013 setelah proposal yang diajukan para Kepsek diusulkan ke Pemkot Palembang,” ujar terdakwa Rahmat Purnama.
Kemudian hakim kembali mengajukan pertanyaan, pemotongan 10 persen tersebut dilakukan atas perintah dari siapa? Dijawab terdakwa Rahmat Purnama, jika Kepala Dinas Disdikpora yang diduga memerintahkan memotongan anggaran DAK tersebut dan itu atas inisiatif dari terdakwa Hasanuddin.

Baca Juga :   Pisah dengan Isteri, Oknum PNS di 9 Ilir Konsumsi Sabu Selama 5 Tahun

“Saya tahunya dari terdakwa Hasanuddin, apalagi jika ada perosalaan Pak Hasanuddin selalu mengatakan kepada saya jika dia (Hasanuddin) akan berkoordinasi dengan kepala dinas,” jelasnya.Setelah mendengarkan kesaksian terdakwa Rahmat Purnama, Ketua Majelis Hakim Kamaluddin SH MH meminta tanggapan kepada terdakwa Hasanuddin, apakah keberatan dengan kesaksian dari terdakwa Rahmat Purnama. Dikatakan Hasanuddin jika ia keberatan atas keterangan terdakwa Rahmat Purnama.

“Saya keberatan yang mulia Mejelis Hakim, karena saya tidak pernah memerintahkan pemotongan anggaran DAK itu. Bahkan saya tidak tahu soal daftar nama-nama itu. Jadi saya keberatan dengan keterangan saksi,” tandasnya.Seusai Rahmat Purnama memberikan kesaksiannya, kini giliran terdakwa Hasanuddin yang duduk di kursi pesakitan untuk menjadi saksi terdakwa Rahmat Purnama.Diungkapkan Hasanuddin, jika jabatan Kabid Perencanaan Pembangunan dan Subsidi Disdikpora Palembang baru dijabatnya, sejak tanggal 27 Juli 2013, dimana sebelumnya ia bertugas sebagai Kabid di Kesbangpol Palembang.

“Jadi saya baru bertugas di Disdikpora Palembang. Saat itulah saya baru tahu ada 74 sekolah yang menerima anggaran DAK rehap sekolah. Nama-nama sekolah itu saya ketahui dari SK Walikota
yang diperlihatkan kepala dinas kepada saya. Jadi yang menentukan siapa saja sekolah yang menerima bantuan DAK, bukanlah saya. Dalam perkara ini terdapat 12 sekolah yang mengajukan proposal di tahun 2012, sedangkan 62 kepala sekolah mengajukan tahun 2013,” ungkapnya.Sementara untuk pemotongan anggaran 10 persen tersebut ia mengaku tidak mengetahui hal tersebut. Karena semua proposal diajukan oleh Kepsek, semuanya diterima oleh Kasi Bangunan Gedung dan Perabotan saat itu yakni terdakwa Rahmat Purnama.

“Dalam pencairannya memang kami melakukan sosilisasi kepada seluruh Kepsek yang menerima anggaran DAK. Dalam sosilisasi itu kami mengingatkan agar Kepsek mempergunakan anggaran DAK dengan baik dan benar, karena dalam proses pencairan DAK dilakukan dengan perjuangan ke pusat, dan itu tidak gratis karena ada ongkos dan transport. Kami menyampaikan ini hanya sebagai motivasi para Kepsek, dalam sosilisasi itu sambutan dan himbauan saya, terdakwa Rahmat dan Kepala Dinas yang menyampaikan kepada para Kepsek,” paparnya.

Berjalanan waktu, lanjutnya, tiba-tiba koordinator Kepsek ‘DI’ memberikan uang Rp 120 juta kepada dirinya melalui terdakwa Rahmat Purnama.”Saya terima uang itu, karena saat itu setahu saya bukan uang DAK yang dipotong makanya saya terima. Saya mengaku salah yang mulia Majelis Hakim. Tapi, kalau untuk uang DAK yang dipotong 10 persen itu saya tidak tahu. Koordinator, Kepsek bahkan terdakwa Rahmat Purnama tidak ada memberikan uang potongan DAK kepada saya kecuali uang yang Rp 120 juta itu,” tegasnya.

Kesaksian Hasanuddin membuat hakim kembali mencecar terdakwa dengan pertanyaan. Dikatakan hakim jika di persidangan terdakwa telah disumpah, dari itu saat memberikan kesaksian harus dengan jujur,”Saya minta saudara jujur, jujur itu lebih bagus. Saudara ini sudah disumpah dan sudah menjadi terdakwa, mau hukuman saudara bertambah lagi 7 tahun di penjara, karena memberikan keterangan palsu di persidangan.Para saksi termasuk saksi terdakwa Rahmat Purnama yang dihadirkan di persidangan ini mengatakan jika saudara tahu terkait potongan 10 persen dan daftar nama-nama yang menerima uang dari DAK yang dipotong. Kami harap saudara jujur,” tegas Mejelis Hakim Junaidah SH MH.

Baca Juga :   5 Pasangan Mesum Terjaring Razia Yustisi Protokol Kesehatan Covid-19

Meskipun berkali-kali majelis hakim mencecar terdakwa, namun Hasanuddin hanya mengatakan tidak tahu serta lupa.”Saya lupa Pak Hakim, yang saya tahu saya hanya terima uang Rp 120 juta itu saja. Soal daftar nama-nama itu saya tidak tahu dan saya lupa. Walaupun saya hanya menerima uang Rp 120 juta, namun sebagai etikat baik saya telah menyerahkan uang ke jaksa sebesar Rp 631 juta untuk mengembalikan kerugian negara dalam perkara ini. Bakan uang itu merupakan uang pribadi yang saya pinjam dari usaha isteri saya dan keluarga saya,” ungkap Hasanuddin.

Menjawab kesaksian terdakwa Hasanuddin, Mejelis Hakim mengutarakan jika mengembalikan uang kerugian negara tidak akan dapat menghapus dan mengurangi pidana terdakwa.”Tidak apa-apa jika terdakwa Hasanuddin tidak mau mengakui, itu hak saudara, tapi nanti anda sendiri yang akan menangungnya,” tutup Mejelis Hakim Saefudin SH MH.
Setelah persidangan Ketua Majelis Hakim Kamaluddin SH MH, menunda persidangan hingga pekan depan, dengan agenda tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum.
Usai persidangan Ketua JPU Nauli Rahim Siregar mengungkapkan, jika dalam perkara ini kerugian negara yang terjadi sebesar Rp 3,4 miliar. Namun dari nominal tersebut terdakwa  Rahmat Purnama mengaku hanya menerima Rp 80 juta, sedangkan terdakwa Hasanuddin mengaku hanya menerima Rp 120 juta.”Dari itulah di persidangan kita (JPU) dan hakim juga masih menyisir kemana saja aliran uang sisanya dari  Rp 3,4 miliar itu. Terkait kesaksian Hasanuddin yang banyak tidak tahu nanti hakim dan jaksa akan menilai kesaksian tersebut. Sedangkan untuk uang yang dikembalikan ke negara yakni baru Rp 80 dari terdakwa Rahmat Purnama dan Rp 631 juta dari Hasanuddin,” ungkapnya.

Ditanya jumlah Kepsek yang menerima DAK dalam perkara ini? Diungkapkan Nauli jika untuk DAK tahun 2012 dan 2013 totalnya terdapat 74 Sekolah.”Jadi ada 74 Kepsek yang menerima anggaran DAK ini, para Kepsek tersebut semuanya menyerahkan potongan 10 persen dari DAK rehab sekolah yang mereka diterima,” katanya.Disinggung apakah dalam perkara ini kedepan Kepala Dinas Disdikpora Palembang dapat ditetapkan sebagai tersangka. Dikatakan Nauli jika sejauh ini dirinya belum dapat memastikan karena untuk menentapkan seseorang sebagai tersangka harus berdasarkan alat bukti yang cukup.

“Kalau hanya keterangan saksi di persidangan itu kan perlu didalami dengan penyelidikan. Nanti jika sidang kedua terdakwa ini telah selesai maka kita JPU dan jaksa penyidik akan melakukan gelar untuk menindaklanjuti temuan dari fakta persidangan. Jadi kalau saat ini saya belum dapat mengungkapkan, apakah kedapan Kepala Dinas Disdikpora Palembang bisa menjadi tersangka dalam perkara ini,” tutupnya. (ded)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Alwin

Avatar

Lihat Juga

Kejati Sumsel Geledah Mess dan Kantor PT PDPDE Terkait Dugaan Korupsi Penjualan Gas

Palembang, KoranSN Jaksa Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Sumsel, Rabu (2/12/2020) menggeledah dua lokasi terkait …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.