Home / Foto / Tolak Pembelaan Prada Deri Pramana, Oditur Ungkap Fakta Perencanaan Mutilasi Fera di Sungai Lilin

Tolak Pembelaan Prada Deri Pramana, Oditur Ungkap Fakta Perencanaan Mutilasi Fera di Sungai Lilin

Memakai pakaian tahanan, terdakwa Prada Deri Pramana digiring petugas menuju mobil tahanan usai mengikuti sidang kasus pembunuhan Vera di Pengadilan Militer I-04 Jakabaring Palembang, Kamis (5/9/2019). (Foto-Ferdinand/KoranSN)

Palembang, KoranSN

Oditur Pengadilan Militer I-04 Palembang, Kamis (5/9/2019) menolak nota pembelaan (pledoi) Prada Deri Pramana oknum anggota TNI yang merupakan terdakwa kasus pembunuhan dan mutilasi korban Fera Oktaria (21), di salah satu penginapan di Sungai Lilin Muba.

Hal tersebut diungkapkan Oditur, Mayor Chk Darwin Butar Butar SH saat membacakan replik (tanggapan pledoi) dalam persidangan.

Diungkapkannya, berdasarkan keterangan saksi-saksi dalam persidangan dan barang bukti, maka pihaknya berkesimpulan tetap pada tuntutan yang telah dibacakan dalam sidang sebelumnya. Sehingga pihaknya selaku Oditur menolak pembelaan terdakwa dan kuasa hukum.

“Kami tetap pada tuntutan kami, dan pembelaan terdakwa dan kuasa hukum terdakwa yang dibacakan dalam sidang sebelumnya tidak menggoyahkan tuntutan kami, yang menutut terdakwa melakukan pembunuhan korban Fera secara berencana hingga kami menutut agar terdakwa dijatuhkan hukuman pidana seumur hidup,” tegasnya.

Menurutnya, pihaknya tetap pada tuntutan karena dalam persidangan terungkap fakta yuridis pembunuhan dan mutilasi korban dilakukan terdakwa secara berencana.

Adapun fakta-fakta tersebut yakni, pembunuhan korban dilakukan terdakwa pukul 05.00 WIB subuh, dengan cara membenturkan kepala korban ke dinding kamar penginapan di kawasan Sungai Lilin.

“Akibat benturan di bagian kepala ini membuat korban lemas, lalu terdakwa menaiki tubuh korban dengan posisi dengkul menahan dada korban, lalu tangan kanan memegang bantal yang dibekapkan ke wajah korban. Sedangkan tangan kiri terdakwa digunakan untuk mencekik leher korban, setelah 5 menit kemudian korban pun tewas,” ungkapnya.

Masih dikatakannya, setelah korban tewas lalu terdakwa merokok di dekat jenazah korban Fera, kemudian terdakwa keluar ke arah gudang yang berada di penginapan tersebut hingga terdakwa mendapati gergaji besi berkarat di dalam gudang tersebut.

“Gergaji besi berkarat tersebut diambil terdakwa yang kemudian terdakwa kembali ke dalam kamar penginapan dan mengangkat jenazah korban ke kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Di kamar mandi inilah, terdakwa memotong tangan kanan korban dengan gergaji besi. Namun saat memotong tangan korban, ternyata gergaji tersebut patah sebelum tangan korban terpotong,” jelasnya.

Diungkapkannya, usai gergaji tersebut patah tersangka keluar dari penginapan menuju rumah pamannya, yakni Dodi yang berada di kawasan Sungai Lilin. Di rumah tersebut, terdakwa bertemu dengan Dodi yang saat itu sedang bersama temannya yakni Imam.

“Ketika itulah terdakwa menyampaikan jika ia telah membunuh korban Fera. Setelah itu, terdakwa pergi membeli plastik dan gergaji besi lalu terdakwa kembali ke kamar penginapan dan melanjutkan memotong tangan kanan korban dengan gergaji yang baru dibelinya tersebut hingga mengakibatkan tangan kanan korban terputus. Kemudian saat terdakwa hendak memotong tangan kiri korban, ternyata gergaji kembali patah hingga terdakwa mencari cara lain untuk menghilangkan jenazah korban dengan membeli koper dan tas di tokoh yang tak jauh dari penginapan tersebut,” paparnya.

Baca Juga :   Kawanan Perampok Bersenpi di Muba Digulung Polisi

Lebih jauh dikatakannya, usai membeli koper dan tas lalu terdakwa kembali lagi ke kamar penginapan dan meletekan potongan tangan kanan korban ke dalam koper yang baru dibelinya. Namun dikarenakan koper yang dibeli tidak dapat memasukan jenazah korban sehingga terdakwa pergi dan menemui pamannya Dodi.

“Saat itu terdakawa kembali bertemu Dodi dan Imam, lalu terdakwa meminta saran untuk menghilangkan jejak jenazah korban. Hasilnya, terdakwa mendapatkan saran dari keduanya agar membakar jenazah korban hingga terdakwa pergi ke tokoh membeli racun nyamuk bakar, korek api kayu dan pisau karter. Selain itu, terdakwa juga membeli petralite yang kemudian terdakwa kembali ke kamar penginapan,” katanya.

Di kamar tersebutlah lanjut Oditur, terdakwa awalnya membelah kasur menjadi uda dengan pisau karter lalu jenazah korban diletakan di tengah kedua kasur tersebut. Setelah itu terdakwa merakit racun nyamuk bakar yang diujungnya diikatkan korek api kayu, kemudian terdakwa menyiramkan petralite ke jenazah korban, ke kasur dan sekitaran ruang kamar.

“Namun saat terdakwa menyalakan api di racun nyamuk bakar, terdakwa mengaku sempat kasihan hingga terdakwa mematikan api yang sudah dinyalakan. Namun tak lama kemudian, terdakwa kembali menyalakan api di racun nyamuk tersebut lalu terdakwa meninggalkan penginapan tersebut. Akan tetapi disaat terdakwa pergi, ternyata api di racun nyamuk padam, sehingga tidak terjadi kebakaran di dalam kamar yang terdapat jenazah korban tersebut,” terangnya.

Lebih jauh dijelaskan Oditur, dari uraian kejadian tersebut terungkap fakta jika pembunuhan dan mutilasi korban tersebut sudah direncanakan lantaran terdakwa sakit hati dan kecewa kepada korban.

“Adapun fakta-fakta kekecewaan terdakwa hingga akhirnya berencana membunuh korban, terdiri dari; terdakwa merasa kecewa karena saat dilantik menjadi anggota TNI korban yang merupakan pacar terdakwa tidak dapat hadir lantaran saat itu korban sedang training bekerja di minimarket. Selain itu, terdakwa merasa kecewa dengan korban karena usai dilantik menjadi TNI terdakwa pulang menemui korban untuk mengajak korban makan di luar. Namun ajakan tersebut ditolak oleh korban hingga terdakwa kecewa dan pergi dari rumah korban,” kata Oditur dalam persidangan.

Baca Juga :   10 Pasangan Diduga Mesum Diciduk dari Kamar Kosan di 16 Ulu

Masih diungkapkannya, kekecewaan terdakwa kembali terjadi saat korban menolak pemberian handphone android yang diberikan oleh terdakwa. Padahal, ketika itu terdakwa berharap handphone tersebut diterima korban agar saat terdakwa menjalani pendidikan TNI dapat melakukan video call dengan korban.

“Karena kecewa inilah lantas saat terdakwa menjalani pendidikan TNI, terdakwa curiga jika korban memiliki pacar lain, sehingga terdakwa kabur dari pendidikan lalu tinggal di kosan yang berada di kawasan Plaju. Setelah itu terdakwa meminta temannya yakni saksi Serly datang kekosan tersebut. Ketika bertemu dengan Serly, terdakwa menyampaikan jika ia telah putus dengan korban Fera, bahkan terdakwa menyampaikan kekecewaan terhadap korban yang tidak mau dikenalkan kepada orang tuanya, padahal menurut terdakwa jika ia telah membelikan empat HP dan baju untuk korban serta selalu membawakan makanan untuk Fera. Bukan hanya itu, terdakwa juga mengaku membiayai sekolah Fera,” terang Oditur.

Dikatakannya, karena kekecewaan tersebut lantas terdakwa merencanakan membunuh korban apabila terdakwa melihat di handphone korban ada foto pria lain. Perencanaan ini dilakukan terdakwa dengan mengajak korban bertemu di depan Stasiun Kertapi Palembang. Setelah bertemu, lalu terdakwa mengajak korban ke Banyuasin untuk menemui bibik terdakwa yakni saksi Elsa.

“Akan tetapi dalam perjalanan ternyata terdakwa langsung membawa korban ke penginapan di Sungai Lilin bukan ke rumah saksi Elsa. Bahkan untuk meyakinkan korban, saat itu terdakwa pura-pura lupa rumah Elsa dan membujuk korban menginap di penginapan dengan alasan kemalaman. Kemudian disaat di dalam kamar penginapan, terdakwa membunuh korban dikarenakan tidak dapat membuka kunci sandi handphone milik korban. Untuk itulah kami Oditur menilai terdakwa sudah merencanakan membunuh korban Fera,” tandas Oditur.

Usai mendengarkan ruplik yang disampaikan oleh Oditur, Ketua Majelis Hakim Letkol Chk Khazim didampingi Hakim Anggota Letkol Sus Much Arif Zaki Ibrahim dan Mayor Chk Syawaluddin meminta tanggapan kepada terdakwa dan kuasa hukum apakah mau mengajukan duplik (sanggahan dari replik Oditur).

Dalam persidangan, terdakwa melalui kuasa hukumnya menyatakan akan mengajukan duplik pada sidang selanjutnya. Usai mendengar pernyataan kuasa hukum dari terdakwa selanjutnya Ketua Majelis Hakim menutup persidangan dan akan kembali membuka sidang pada Kamis 12 September 2019 dengan agenda duplik dari terdakwa. (ded)

Publisher : Apriandi

Avatar

Lihat Juga

Jual Satwa Lindung di Medsos, Warga Prabumulih Ditangkap Tipidter Polda Sumsel

Palembang, KoranSN Penyidik Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumsel …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.